Pelatih golf Alga Topan (kanan) bersama Ida Ayu Melati (kiri) dan Rivani Adelia, dua pegolf putri timnas SEA Games 2017. (Alga Topan)

Gagal di SEA Games, Lalu Bagaimana di Asian Games?

JAKARTA (IndependensI.com) – Pada Jumat, 28 Juli 2017, saat PB PGI menghelat acara Halal bihalal dengan wartawan, Murdaya Po – Ketua Umum PB PGI periode 2014-2018 – mengatakan: “Targetnya (terkait dengan tim SEA Games) harus lebih baik dari dua tahun yang lalu. Kali ini persiapannya lebih matang. Saya tidak mau ngomong emas, perak, atau perunggu. Pokoknya (persiapan tim SEA Games kali ini) lebih bagus dari sebelumnya.”

Sontak salah seorang afficial tim SEA Games 2015, yang mohon jangan disebutkan namanya, setelah membaca berita tersebut di independensi.com menyatakan bahwa ucapan Murdaya Po dalam acara Halal bihalal tersebut sangat tendensius!

Faktanya, diakui atau tidak, pencapaian tim golf SEA Games 2015 di Singapura, jauh lebih baik dibandingkan dengan pencapaian tim golf SEA Games 2017. Karena, di Singapura dua tahun lalu tim golf SEA Games 2015 berhasil mempersembahkan 2 medali perak dari nomor beregu dan individual putri dan satu medali perunggu dari beregu putra. Sementara pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur tim golf Indonesia hanya mampu mempersembahkan 1 medali perak dari beregu putri dan 1 perunggu dari beregu putra.

Ketua Umum PB PGI, Murdaya Po, foto bersama dengan juara Class Champion Ladies Division OJAO III International yang dimenangkan oleh Kristina Natalia Yoko (paling kiri), Ida Ayu Indira Melati Putri dan Nur Durriyah Damian (Malaysia).

Tanpa bermaksud memuji kerja ofisial tim golf Indonesia 2015 dan menyudutkan kerja ofisial tim golf Indonesia di SEA Games 2017, yang jelas ada masalah yang sangat mendasar dalam mempersiapkan pegolf yang akan tampil di ajang multi event dua tahunan di Asia Tenggara yang dikenal dengan SEA Games tersebut.

Masalah yang sangat mendasar tersebut adalah kebersamaan berkumpul yang lazim dikenal dengan sebutan pelatnas. Betul bahwa pegolf yang terpilih untuk tampil membela sang saka Merah Putih pada SEA Games 2017 adalah pegolf terbaik di negeri tercinta yanga memiliki ranking dunia dan ranking nasional.

Namun, kebersanaan untuk berkumpul kurang diperhatikan secara serius, akibatnya seperti diketahui target yang dicanangkan meleset.

“Kebersamaan untuk berkumpul itu tidak hanya sebatas dilakukan oleh para pegolf. Tapi, antara pegolf dan ofisial, harus sering dilakukan agar apabila ada masalah dapat segera dicarikan solusinya… Sesekali pun antara ofisial yang di dalamnya juga ada pengurus… pergi rekreasi bersama… misalnya jalan-jalan dan makan bersama di resto yang ada di mall… Itu bagus. Dalam kebersamaan seperti itu hubungan yang ada menjadi tanpa jarak,” papar ofisial tim golf Indonesia untuk SEA Games 2015 di Singapura, yang mohon dengan sangat hormat minta namanya jangan disebutkan kepada independensi.com.

“Jangan salah… menjadi manajer atlet itu tidak sama dengan manager lapangan golf… Manajer atlet itu harus bersikap seperti pelayan. Misalnya, sebagai manager, dia harus selalu memantau situasi dan kondisi pegolf, baik pada saat mereka dalam kondisi normal maupun pada saat kondisi mereka tidak normal,” kata mantan ofisial tim golf Indonesia untuk SEA Games 2015 di Singapura yang tidak bersedia disebutkan namanya itu, bersemangat.

“Kalau kondisinya normal, dalam arti bahwa para pegolf kita sedang berada dalam suasana suka cita karena skor mereka bagus, pun official harus selalu mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. Kita tidak boleh lengah dan seterusnya dan lain sebagainya… Apalagi kalau pegolf sedang berada dalam kondisi tidak normal… ofisial tim harus lebih peduli. Jangan semuanya diserahkan kepada pelatih. Karena sehebat apa pun seorang pelatih, sebagai manusia, keberadaan dia tidak sempurna,” tambah mantan ofisial tim golf Indonesia pada SEA Games 2015 yang tetap memohon agar namanya tidak disebutkan itu.

Harus diakui bahwa prestasi pegolf Indonesia di arena SEA Games sejak beberapa tahun belakangan memang cenderung terus menurun. Bahkan, gara-gara prestasi mereka “sangat memprihatinkan” pada gelaran SEA Games 2009, KONI Pusat mewacanakan golf tidak akan dipertandingkan pada SEA Games 2011 saat kita menjadi tuan rumah.

Tapi, berkat lobby yang sangat intensif yang dilakukan oleh PB PGI, baik kepada KONI Pusat maupun asosiasi golf di negara-negara ASEAN, cabor golf akhirnya tetap dipertandingkan. Pun andaikata KONI Pusat tetap “ngotot” bahwa cabor golf tidak akan dipertandingkan saat negeri kita menjadi tuan rumah, Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia akan tetap menggelar kejuaraan golf dalam bentuk invitational yang diikuti oleh para pegolf dari seluruh negara ASEAN…

Setelah beberapa kali diadakan pertemuan antara PB PGI dan KONI pusat, akhirnya cabor golf jadi dipertanding pada SEA Games 2011 yang pelaksanaannya dilakukan di Jakarta dan Palembang. Tim golf Indonesia berhasil mempersembahkan 2 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu.

Tapi, pada SEA Games 2013 Myanmar, tim golf Indonesia drop total, karena hanya mempersembahkan 1 medali perunggu dari nomor individu putri untuk kontingen Indonesia.

Dua tahun berikutnya, tepatnya pada SEA Games 2015, tim golf Indonesia yang dikomando oleh Netty D Hariadi sebagai Manager Team, berhasil mempersembahkan 2 medali perak dan 1 perunggu.

Itu artinya kalau yang menjadi rujukan adalah hasil di SEA Games 2015, maka pada SEA Games 2017 tim golf kita bisa dianggap gagal. Bukan gagal total. Tapi gagal mempertahankan hasil yang diperoleh pada dua tahun lalu.

Sebelum tim golf kita tampil di Kuala Lumpur, dalam setiap kesempatan independensi.com bertemu dan berbincang-bincang dengan para pembina golf yang mendampingi pegolf binaannya dalam event seperti Kejurnas dan event yang mendapat sanctioned dari PB PGI termasuk Olympic Jabar Amateur Open (OJAO), mereka optimistis bahwa tim golf kita di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur akan – minimal – bisa mempersembahkan satu medali emas untuk kontingen Indonesia. Faktanya, seperti kita tahu, jangankan medali emas. Mempertahankan perolehan medali seperti yang terjadi pada dua tahun lalu di Singapura pun tidak mampu.

Terlepas dari pelbagai persoalan yang mengharu biru timnas golf kita di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, yang jelas mereka telah berjuang demi nama bangsa dan negara dalam multievent dua tahunan di kawasan Asia Tenggara.

Diharapkan ketidakberhasilan itu tidak menyurutkan semangat para stakeholder pergolfan nasional khususnya pribadi lepas pribadi yang saat ini mengemban amanah dan duduk sebagai pengurus di PB PGI.

Kenapa? Karena, tahun depan, kita akan menjadi tuan rumah Asian Games dan golf adalah salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam multi event tersebut.

Tapi, sebelum Asian Games 2018 diselenggarakan, masa kepengurusan PB PGI periode 2014 – 2018 di bawah pimpinan Murdaya Po akan berakhir.

Itu berarti tugas berat menghadang “incumbent”, karena sebelum Munas digelar, mereka masih bertanggungjawab mempersiapkan pegolf yang akan diturunkan di Asian Games 2018.

Kita berharap nanti semuanya berjalan lancar, baik dalam mempersiapkan pegolf yang akan tampil di Asian Games tahun depan maupun lancar dalam mempersiapkan Munas yang, salah satu agendanya adalah memilih ketua umum PB PGI yang baru.

Menyikapi realitas yang ada saat ini, di mana banyak stake holder pergolfan nasional yang merasa kurang puas dengan kinerja PB PGI periode 2014-2018, banyak pihak yang memprediksi bahwa Munas PGI tahun depan bakal “ramai”.

Tapi, terlepas bakal “ramai” atau “sepi” sekalipun, yang pasti posisi “incumbent” masih aman. Karena sampai hari ini independensi.com belum mendengar ada balon kompetitor bagi sang “incumbent” untuk maju sebagai balon orang nomor satu di percaturan golf nasional periode 2018 hingga 2022.

Kita berharap, siapa pun yang nanti terpilih menjadi Ketua Umum PGI periode 2018-2022, termasuk “incumbent” yang punya hak sekali lagi untuk maju sebagai balon Ketua Umum PGI, harus memiliki kesadaran bahwa betapa penting arti kebersamaan dan berkumpul dalam pemusatan latihan. Dan, siapa pun orangnya yang nanti dipercaya untuk mendampingi atlet haruslah pribadi yang bisa “ngewongke” orang lain. Jangan membuat jarak dengan atlet.

Syukurlah bila kelak di PB PGI – dalam pelatnas – selain memiliki pelatih yang mumpuni juga ada psikolog untuk “mendeteksi” sekaligus memberi “solusi” bila ada masalah yang berkaitan dengan “problema psikologis” dalam diri para atlet.

Seperti yang terjadi di cabor bulutangkis. Selain memiliki SDM yang hebat dan tangguh, PB PBSI juga melibatkan Prof Dr Singgih Gunarsa, seorang psikolog ternama, yang bertugas sebagai konselor.

Profesor Singgih kontribusinya sangat besar dalam membentuk pebulutangkis berkarakter seperti Liem Swie King, Susy Susanti, dan lain-lain.

Tentu, bila di kemudian hari PB PGI bisa meniru kebijakan PB PBSI, bukan tidak mungkin hasilnya akan berbeda dengan hasil yang pernah dicapai sebelumnya. Dan, jangan khawatir, di luar sana masih banyak “Singgih Gunarsa-Singgih Gunarsa” lain yang bisa diminta bantuannya untuk mengangkat prestasi pegolf kita di ajang multi event seperti SEA Games dan Asian Games.

Untuk Olimpiade sementara bisa dikesampingkan karena yang bertanding dalam multievent antarbenua tersebut adalah pegolf professional under-23.