Dampak Erupsi Gunung Agung, Bandara Ngurah Rai Makin Terancam

JAKARTA (IndependensI.com) – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali akan ditutup apabila erupsi Gunung Agung terus meningkat. “Pemerintah dapat menutup penerbangan ke Bandara Ngurah Rai apabila erupsi Gunung Agung meningkat dan sudah membahayakan keselamatan penerbangan,” kata Menhub di Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (23/9/2017).

Menurut dia, hingga Sabtu (23/9/2017) penerbangan ke Bandara Ngurah Rai Bali masih berlangsung baik dan belum ada masalah terkait dengan erupsi Gunung Agung. “Tidak ada hambatan, pesawat terbang masih bisa “take off landing” dengan baik,” katanya didampingi Menteri Lingkungan dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.

Menhub mengatakan pemerintah sudah menyiapkan rencana evakuasi penumpang apabila erupsi Gunung Agung terus meningkat. “Kami sudah melakukan ‘plan’ (penerbangan dialihkan) ke bandara lain, seperti di Banyuwangi Jawa Timur dan Lombok,” katanya.

Menhub berdoa erupsi Gunung Agung tidak besar agar wisata Bali yang sudah bagus itu tetap terkoreksi dengan baik. “Persiapan pengalihan penerbangan juga sudah matang, seperti ke Bandara Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan Ujung Pandang,” katanya.

Pengungsi 15.142 Jiwa

Di bagian lain, Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sejak status awas atau tingkat empat, pengungsi letusan Gunung Agung, Bali mencapai 15.142 jiwa yang tersebar pada 125 lokasi di wilayah itu.

“Sejak status awas ditetapkan pada Jumat (22/9) pukul 20.30 WITA, petugas sudah melakukan evakuasi masyarakat keluar dari daerah yang berbahaya,” kata Sutopo melalui siaran pers di Jakarta, Sabtu.

Menurut data Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, pengungsi tersebar pada delapan kabupaten di sekitar Gunung Agung, yaitu Badung, Bangli, Buleleng, Denpasar, Gianyar, Karangasem, Klungkung dan Tabanan.

Pengungsi di Badung mencapai 35 jiwa pada lima lokasi, Bangli 465 jiwa di 17 lokasi, Buleleng 2.423 jiwa di 10 lokasi, Denpasar 343 jiwa di enam titik, Gianyar 182 jiwa di sembilan lokasi, Karangasem 7.852 jiwa di 54 lokasi, Klungkung 3.590 jiwa di 21 lokasi dan Tabanan 252 jiwa di tiga lokasi.

“Diperkirakan jumlah pengungsi masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan oleh BPBD Bali. Pengungsi berada di gedung olahraga, balai desa banjar, rumah penduduk dan kerabatnya,” tutur Sutopo.

Lokasi pengungsian yang terpencar-pencar menyebabkan distribusi logistik dan bantuan kepada para pengungsi mengalami kendalai karena petugas harus menyalurkan ke banyak tempat.

“BPBD Bali telah membangun Posko Tanggap Darurat. Untuk data dan bantuan bagi para pengungsi bisa menghubungi ‘call center’ Pusdalops Denpasar di 0361-223333 atau ’emergency call’ Denpasar 112,” jelas Sutopo.

Sutopo mengimbau bantuan dan donasi dari masyarakat kepada para pengungsi agar diserahkan satu pintu melalui Posko Utama Satgas Siaga Darurat yang beralamat di Dermaga Cruise Tanah Ampo, Manggis, Kabupaten Karangasem yang dikoordinasi Subadi dengan “call center” 081353965324