Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam Sholeh
Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam Sholeh (tengah). (foto Budi/Independensi.com)

Peserta Akui Dapat Banyak Kemudahan dari Pelatihan Kewirausahaan Kemenpora

JAKARTA (IndependensI.com) Salah satu peserta Pelatihan Penumbuhan Minat Kewirausahaan di Kalangan Pemuda 2018, Dhea Neira, menjelaskan jika sangat mendapatkan kemudahan dalam mengembangkan usahanya, yakni pengolahan biji salak menjadi kopi dan teh.
Jika selama ini kita mengenal kopi adalah minuman yang berasal dari biji kopi yang disangrai light, medium maupun dark, namun saat ini sudah banyak minuman kopi yang bukan berasal dari biji kopi, yaitu kopi biji salak.
Kopi saat ini sangat bervariasi yang tidak hanya dihasilkan dari biji kopi saja. Biji buah salak juga bisa disulap menjadi bubuk kopi yang sangat nikmat dengan rasa yang cukup unik. Mungkin bagi sebagian orang kopi dari biji salak memiliki citarasa yang berbeda dari kopi pada umumnya yang kita temukan. Buah salak yang memiliki kulit sedikit berduri dan juga terdapat biji yang cukup besar didalamnya bisa dimanfaatkan sebagai minuman penghilang penat.
“Namanya KubisaIndonesia (kulit biji salak). Produk ini bisa saya kembangkan dengan ketemu teman-teman baru di pelatihan Kemenpora, dapat juga pengalamn baru, ilmu baru,  dan banyak hal positif lainnya di sini,” katanya di sela-sela kegiatan tahap III, Batch (1-8), di ruang Teater Wisma Kemenpora, Kamis (18/10/2018) pagi.
Sedangkan Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam Sholeh, menerangkan jika dari total 100 peserta, 85 persennya kini sudah memulai wirausaha. “Ini tentu menjadi kabar baik dimana akan mucul wirausahawan muda Indonesia yang akan menjadi kemandirian kita sebagai bangsa dan melahirkan anak-anak muda yang sukses di bidangnya masing masing seperti Nadim (Makarim/CEO Go-Jek), Ahmad (Zaky/CEO Bukalapak) dan Jack Ma (Pendiri Alibaba) baru yang terlahir dari program kewirausahaan pemuda Kemenpora,” katanya di tempat yang sama.
“Para peserta terlihat sangat antusias, optimis dan berinovasi yang luar biasa yang terlihat dari produk-produk yang dipoles dengan kekinian sehingga bisnis yang mereka geluti sangat prospektif,” imbuhnya.
Secara khusus, dikatakannya lagi, telah menyampaikan bahwa setelah para peserta memulai, masih ada hal yang perlu untuk terus dijaga dan menjadi fondasi di dalam pengembangan wirausaha yang dilakukan. Pertama, sambung Asrorun Niam, adalah soal kemampuan membaca peluang seiring dengan perubahan masyarakat yang begitu cepat jangan sampai lalai untuk belajar dan mengupdate perkembangan terbaru. “Jangan sampai kita mengembangkan sesuatu berdasarkan hari ini, ternyata pada jadi esok itu sudah kadarluarsa.”
Kedua, dalam paparanya lagi, adalah membangun kebersamaan, karena kesuksesan kita akan sangat terkait dengan kemampuan kita membangun kolaborasi dan kerja sama. “Ketika kita ingin sukses harus bersama sama, tidak boleh merendahkan yang lain atau memonopoli kesuksesan itu. Sebab disitulah pentingnya jejaring, kolaborasi dan forum kepelatihan yang diikuti oleh seratus orang dari berbagai jenis dispilin wirausaha. Mereka bisa berjejaring bisa saling melengkapi dan bisa saling mendukung,” ujarnya lagi
Ketiga, dijabarkan Asrorun Niam, adalah silaturahmi kesempatan untuk melakukan silahturahmi dengan berbagai media gathering, pelatihan-pelatihan dan yang terakhir soal menjaga kepercayaan.
Itu adalah kunci di dalam proses pengembangan kewirausahaan. Dari total pelatihan ini, pihaknya akan memberikan pendukungan berupa permodalan. “Tahap pertama dukungan fasilitasi yang berupa hibah Rp15 juta setiap orang bagi pelaku wirasaha muda peserta pelatihan yang sudah memulai, ini untuk kepentingan mempercepat kemandiriannya. Jadi bila lembaga pembiayaan belum cukup percaya kepada kemampuan dia untuk membayar, nanti jika ada penyaluran pembiayaan dan inilah intervensi pemerintah untuk memberikan dukungan bagi pengembangan usaha mereka dengan pendekatan hibah,” jelasnya.
Sedangkan tahap berikutnya adalah membangun jejaring dengan mengawinkan pelaku usaha yang sudah mapan model pencakokan, kloning atau kolaborasi. Contohnya seperti pelaku wirausaha muda di bidang fashion dengan mengembangkan hijab for sport yang digunakan atlet-atlet pada Asian Games dan Asian Para Games 2018.
“Defia Rosmaniar sang peraih medali emas pertama Indonesia di ajang Asian Games 2018 yang menggunakan produk tersebut. Nah kolabrasi yang lain adalah untuk mempertemukan pelaku usaha yang muda ini dengan lembaga pembiayaan baik bank maupun nonbank. Kita jembatani agar terbangun hubungan yang saling menguntungkan. Si lembaga pembiayaan tentu membutuhkan penyaluran dana untuk kepentingan pembiayaan. Sedangkan anak-anak muda kreatif dengan kemampuan pengembangan kewirusahaan mereka sedang butuh modal dan ini bisa menjadi partner yang pas. Tapi kuncinya memang soal kepercayaan,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, juga dihadiri Ketua Panitia sekaligus Kabid Pemetaan Kewirausahaan di Kemenpora, Sutrija, Perwitasari selaku Kasubbid Pemetaan Bidang Penelusuran dan Pemetaan Potensi Kewirausahaan Pemuda, Ruskomalasari, lalu Ellies Sutrisna dari Aspirasi, Afiat Rasyid Rustamadji, Sekretaris BPD DKI Jakarta Komunitas Sahabat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Radityo Triatmojo Head of Gov. Relation PT. Shopee Indonesia dan Ryan Adham Saputra Angkawijaya, owner Snazzy Boom.(budi)