pencari kerja
Ilustrasi pencari kerja. (foto istimewa)

Pemkot Bekasi Akui Belum Sanggup Buka Pameran Kerja

JAKARTA (Independensi.com) –  Jumlah pengangguran diwilayah Kota Bekasi hingga akhir tahun ini tercatat mencapai ribuan orang.

Pemicunya tingkat pengangguran di Bekasi akibat terkena pemutusan hubungan kerja dan beralih profesi.

Hal itu terindetifikasi dari banyaknya tingkat kelulusan para pemohon kerja mulai tamatan SMA dan SMK. Saat ini, jumlah pencari kerja tahun 2017 mencapai 25.000 orang. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan 2016 lalu yang hanya 21.942 orang.

Dan rata-rata setiap bulan di tahun 2018 ada 2.000 orang yang membuat Kartu Kuning. “Data itu berdasarkan data pencari kerja yang membuat kartu kuning,” ujar Kabid Penempatan Tenaga Kerja, Dinas Tenaga Kerja Kota Bekasi, Sudarsono pada Selasa (11/12/2018).

Menurut Sudarsono, faktor yang menjadikan tingginya pencari kerja karena keterbatasan lowongan dari perusahaan. Apalagi, kebutuhan perusahaan setiap membuka lowongan jauh dari jumlah pencari kerja. Misalkan, kata dia, perusahaan membutuhkan 10 orang saja. Namun, yang mendaftar bisa mencapai ribuan orang.

Sebenarnya, kesempatan bekerja untuk para pencari kerja cukup banyak. Sebab, setiap tahun jumlah perusahaan yang melapor mengalami peningkatan. Salah satunya, pada 2016 lalu jumlahnya hanya 1.226 perusahaan, dan di 2017 menjadi 1.504 perusahaan.

“Jadi ada kenaikan yang cukup besar untuk katagori pertumbuhan perusahaan,” jelasnya. Darsono mengaku, pada 2018 ini, pemerintah daerah belum membuka pemeran kerja alias job fair.

Namun, pihaknya hanya memfasilitasi perusahaan swasta dalam menggelar bursa lapangan pekerjaa. Apalagi di 2018, ratusan perusahaan swasta sudah empat kali membuka bursa lapangan pekerjaan. Kebanyakan pencari kerja yang ingin bekerja di Bekasi karena soal pemberian upah.

Sebab, upah untuk para pekerja setiap bulannya sudah mencapai Rp4,2 juta, atau menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Barat. Sehingga, Kota Bekasi menjadi magnet warga sekitar maupun pendatang untuk mengadu nasib bekerja di wilyahnya. Meski demikian, pemerintah masih memprioritaskan pekerjaan untuk warga pribumi Bekasi

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bekasi Sutomo mengaku, ada banyak faktor yang membuat jumlah pencari kerja tiap tahunnya. Apalagi, banyak pelamar yang tidak laku oleh perusahaan. “Harus dilakukan kajian kenapa banyak yang tidak laku mereka melamar bekerja, karena setiap perusahaan mempunyai kriteria tertentu,” katanya.

Salah satunya, kata dia, terkait kualifikasi persyaratan di perusahaan. Sebab, hampir kebanyakan syarat yang diberikan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, tidak sesuai harapan. “Karena informasi yang saya terima dari perusahaan, banyak pelamar yang tidak masuk kebutuhan perusahaan,” ucapnya.(budi/ist)