Mahasiswa KKN UTA’45 Kelompok 6 sedang membantu siswa di SDN Sipayung 01, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, 4 Agustus 2017. (Dokumentasi UTA'45)

Membangun Pendidikan Desa Melalui Permainan Sederhana

BOGOR (IndependensI.com) – Dunia pendidikan di negeri ini tidak bisa dikatakan baik atau pun buruk. Pendidikan di negeri ini punya permasalahan yang masih dicari penyelesaiannya oleh pemerintah.

Permasalahan yang masih terjadi hingga kini adalah masih banyaknya sekolah yang terletak jauh dari pusat kota yang kurang mendapatkan perhatian. Sekolah-sekolah itu kekurangan fasilitas belajar dan tenaga pengajar.

Desa Sipayung, yang menjadi tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta (UTA’45), juga mengalami permasalahan yang sama. Di Sekolah Dasar Negeri Sipayung 01, hanya terdapat lima orang guru. Status para pengajar itu pun masih honorer.

Hadirnya mahasiswa UTA’45 Jakarta, terutama kelompok 6 di Desa Sipayung, menjadi angin segar buat SDN Sipayung 01.

“Kondisi sekolah kami memang begini adanya. Bisa dibilang kurang karena guru pun masih sedikit jumlahnya. Kami juga kekurangan ruang kelas. Satu ruang kelas bisa berisi hingga 60 orang siswa,” kata Kepala SDN Sipayung 01, Dian Nurhayati, pada 4 Agustus 2017.

Dian menambahkan bahwa sebenarnya pihak sekolah sedang mengusahakan penambahan jumlah pengajar, terutama untuk siswa kelas 1 hingga kelas 3 yang jumlahnya sangat banyak.

Pemberian materi diselingi permainan edukatif untuk siswa SDN Sipayung 01.

Mahasiswa KKN UTA’45 Kelompok 6 membantu mengajar mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia dan Matematika. Namun, para mahasiswa memberi materi tambahan yaitu mengajarkan cara menghormati sesama teman dan orang yang lebih tua. Mereka juga mengajari cara berbicara yang baik dan benar di depan kelas.

Materi tambahan lain adalah mencintai nilai-nilai kebangsaan. Hal ini adalah salah satu fokus kegiatan KKN mahasiswa UTA’45 yang sejalan dengan semangat Kampus Merah Putih.

Para siswa cukup antusias mengikuti pelajaran. Sebab pelajaran yang dibawakan diselingi dengan permainan dan membuat prakarya. Cara ini cukup efektif karena para siswa adalah anak-anak yang masih suka bermain.

Salah satu karya siswa SDN Sipayung 01.

Keadaan sekolah yang kurang memadai tidak menjadi masalah besar buat anggota Kelompok 6. “Kami ada dan hadir di sini semata-mata karena kami ingin membantu anak-anak di SDN Sipayung 01,” kata ketua Kelompok 6, Ilham Anshari.

“Kami ingin mereka lebih mengerti mata pelajaran yang ada. Kami juga mau meringankan beban para tenaga pengajar. Prihatin, tetapi kami siap membantu dengan senang hati,” ujarnya.

Hadirnya mahasiswa secara langsung dalam lingkup masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan memang sangat dibutuhkan. Untuk lebih memudahkan mereka dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak hanya memahami pendidikan secara formal, namun juga pendidikan mengenai sopan santun, dan juga nilai-nilai kebangsaan. (Ilham Anshari)