Presiden RI Joko Widodo mengapresiasi keberhasilan inovasi teknologi budidaya ikan hias nemo (clown fish) sistem mini RAS atau Recirculation Aquaculture System yang dikembangkan Balai Perikanan Budidaya Air Laut (BPBL) Ambon, Ditjen Perikanan Budidaya KKP. Humas Budidaya KKP

Presiden Jokowi Apresiasi Inovasi Teknologi Budidaya Mini Ras Ikan Hias Nemo

AMBON (Independensi.com) – Presiden RI Joko Widodo mengapresiasi keberhasilan inovasi teknologi budidaya ikan hias nemo (clown fish) sistem mini RAS atau Recirculation Aquaculture System yang dikembangkan Balai Perikanan Budidaya Air Laut (BPBL) Ambon, Ditjen Perikanan Budidaya KKP.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat melakukan kunjungan kerja di Ambon, Senin (29/10).

Pada kesempatan tersebut, Jokowi bersama ibu Negara Iriana Joko Widodo mengunjungi dan berdialog langsung dengan para korban bencana gempa Ambon. Jokowi juga menyempatkan mengunjungi stand BPBL Ambon yang menampilkan inovasi teknologi mini RAS dan kultur jaringan rumput laut.

Dalam pesannya Jokowi meminta untuk terus mengembangkan inovasi teknologi budidaya varian jenis ikan hias, termasuk rumput laut dan komoditas lainnya di masyarakat. Menurutnya, potensi pengembangan yang besar dan usaha yang menjanjikan menjadi nilai tersendiri dalam upaya pengentasan kemiskinan, khususnya pemulihan ekonomi masyarakat paska terdampak bencana gempa.

Sebelumnya, sebagai upaya dalam membantu pemulihan ekonomi masyarakat terdampak gempa, BNPB telah bekerja sama dengan BPBL Ambon untuk menyiapkan program bantuan sosial berupa pemberian paket model usaha ikan hias clownfish dengan sistem resirkulasi (Recirculation Aquaculture System) skala rumah tangga.

Disamping itu, pendampingan teknis oleh tim teknis dari BPBL Ambon juga akan diberikan termasuk dalam penanganan pasca panen dan proses pemasarannya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya di Jakarta. Senin (29/10) menyatakan bahwa inovasi teknologi RAS menjadi fokus pengembangan KKP ke depan. Menurut Slamet, teknologi ini mampu menggenjot produktivitas hingga 100 kali lipat dibanding teknologi konvensional. Khusus untuk ikan hias, pihaknya telah membangun instalasi RAS modern berkapasitas tinggi di BPBL Ambon. Sementara pada level masyarakat pihaknya telah mengembangkan mini RAS (skala rumah tangga) sebagai alternatif usaha.

“Pak Presiden mengamanatkan untuk mulai fokus menggarap industri perikanan budidaya. Tentu ini harus kita tangkap dengan mendorong strategi bagaimana menjadikan budidaya sebagai sebuah industri. Konkritnya berarti kita harus mulai membangun sistem produksi yang berbasis industri mulai dari industrialisasi benih, pakan, sarana dan prasarana produksi dan lainnya. Demikian halnya dengan teknologi, kita akan dorong ke arah teknologi yang menjamin produktivitas tinggi, adaptif, efisien dan ramah lingkungan”, jelas Slamet.

Mengenai peran perikanan budidaya dalam upaya pengentasan kemiskinan dan perbaikan ekonomi paska bencana gempa di Ambon, Slamet menyatakan bahwa usaha budidaya menjadi alternatif paling prospektif.

“Bicara alternatif usaha bagi masyarakat Ambon, saya rasa usaha budidaya rumput laut dan mini RAS jadi pilihan terbaik. Disamping nilai tambahnya cukup tinggi juga cash flow-nya lebih singkat. Khusus budidaya ikan nemo, kami justru telah menginisiasi kampung nemo di Ambon dan ini bisa jadi best practices sebagai alternatif usaha para korban gempa, pungkasnya.

Usaha yang Menjanjikan

Sebagaimana diketahui, BPBL Ambon telah berhasil mengembangkan berbagai komoditas unggulan diantaranya : ikan hias clownfish berbagai varian (Amphiprion sp) yang telah dikenal oleh para penghobby ikan hias di seluruh Indonesia. Ikan hias clownfish produksi ambon memiliki berbagai keunggulan dari aneka ragam corak dan warna sehingga memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Untuk ikan konsumsi, ikan bubara / kuwe (Caranx sp) sebagai salah satu komoditas unggulan baru, ikan konsumsi ini berhasil dikembangkan dan diproduksi secara massal oleh BPBL Ambon, ikan kakap putih (Lates calcarifer), serta bibit rumput laut kultur jaringan (Kappaphycus alvarezii).

Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan menjelaskan bahwa budidaya ikan hias skala rumah tangga sangat menjanjikan. Menurutnya, dengan biaya investasi pembuatan system RAS senilai Rp. 6.800.000,-, modal pembelian benih sekitar Rp. 1.562.500,- , operasional pakan selama 6 bulan pemeliharaan Rp. 600.000,- dan biaya listrik selama 6 bulan sekitar Rp. 600.000,-. Omzet penjualan budidaya ikan hias dalam satu siklus/6 bulan senilai Rp. 15.000.000,-. Keuntungan bersih yang diperoleh pembudidaya pada siklus pertama sekitar Rp. 12.237.500,- ungkapnya.

Selain budidaya ikan hias, budidaya rumput laut juga tidak kalah menjanjikan, menurutnya, untuk mengawali usaha budidaya rumput laut diperlukan investasi sekitar 4,7 Juta per unit ukuran 20 m x 25 m, hal itu diperuntukan untuk penyediaan sarana berupa tali pemberat PE, tali jalur, tali ikat bibit, pelampung diameter 30-40 cm dan pelampung kecil. Dengan estimasi panen sekitar 600 Kg/siklus (45 hari) dan harga jual bibit basah Rp. 10.000 maka akan diperoleh omzet usaha sebesar 6 juta/siklus atau keuntungan bersihnya sekitar 4,8 juta per siklus.

“Dengan kondisi dan potensi perairan yang cukup baik, pengembangan budidaya rumput laut di timur Indonesia menjadi hal yang menjanjikan. Ini sangat potensial untuk membantu peningkatan kesejahteraan pembudidaya”, ungkap Tinggal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *