Dua pegolf amatir terbaik dari Pengprov PGI Jawa Barat, Kevin C Akbar (kiri) dan Naraajie (kanan) mengapit Syukrizal (dari Pengorov PGI Aceh yang saat ini beralih menjadi pro) – saat mereka berkompetisi di ajang OJAO II tahun lalu di Emeralda Golf Club. (Dokumentasi)

“Road Show” yang Tertunda

JAKARTA (IndependensI.com) – Keberhasilan OJAO I yang digelar usai babak kualifikasi PON yang berlangsung pada Oktober 2015 di Emeralda Golf Club Cimanggis, Depok – Bogor, kemudian dilanjutkan OJAO II dengan tag line Road to PON XIX – juga dilaksanakan di lapangan golf yang sama pada Mei 2016 – membuat para pembina golf di daerah yang hadir mendampingi atlet mereka di kedua event tersebut ber-”kasak-kasak” agar event tersebut digelar juga di daerah mereka.

Artinya, panitia pelaksana OJAO difungsikan keberadaan mereka seperti Event Organizer yang khusus menangani turnamen golf berskala nasional.

Para pembina golf asal daerah tersebut menggunakan istilah “Road Show” untuk event golf yang nantinya akan dilaksanakan di daerah-daerah tersebut yang dikoordinir oleh OJAO.

Bentuk kerjasamanya akan seperti apa, memang belum dibahas secara tuntas.Karena, semuanya masih sebatas wacana.

Kevin C Akbar (kanan) juara OJAO II menerima trophy yang diserahkan oleh Freddy Gondo Wibowo.

Namun, terlepas dari masalah yang mengharu biru per-golf-an nasional, yang sejak dua tahun terakhir belakangan ini semakin tidak tahu akan dibawa ke mana oleh PB PGI kepengurusan periode 2014-2019. Yang jelas wacana itu muncul atas dasar fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, setelah para pembina golf asal daerah tersebut melihat kinerja yang dilakukan oleh panitia OJAO I dan OJAO II.

Pertimbangan para pembina golf di daerah yang saat itu hadir mendampingi atlet binaan mereka pada event OJAO I dan OJAO II adalah, karena panitia pelaksanaan event tersebut mampu melibatkan sponsorship yang jumlahnya sangat signifikan.

Sementara, jika para pembina golf di daerah tersebut menggelar event berskala nasional di daerah mereka masing-masing, mereka mengalami kesulitan untuk meyakinkan sponsorship.

Jangankan menggelar event berskala nasional, menggelar event lokal pun mereka mengalami kesulitan dalam hal melibatkan para sponsorship.

Rivani Adelia Sihotang, juara dua kali berturut-turut OJAO di kelompok pegolf perorangan putri, yang masih diandalkan penampilannya di OJOA – Internasional 2017 Juli mendatang di Emeralda Golf Club.

Sehingga, keinginan dan harapan PB PGI bahwa Pengprov, Pengkab/Pengkot – sebagai “kepanjangan tangan” PB PGI di daerah-daerah – agar mereka dapat menggelar turnamen baik turnamen berskala lokal maupun nasional, tidak pernah terwujud.

Idealnya – ini yang diharapkan oleh para insan golf di Tanah Air – apabila secara berkala (setahun dua kali) para pembina golf di daerah-daerah bisa mewujudkan keinginan PB PGI, rasanya pemerataan prestasi akan menjadi kenyataan.

Tapi faktanya yang terjadi di lapangan “jauh panggang dari api”.Lalu, siapa yang salah? Pertanyaan yang sangat sensitif ini silakan dijawab sendiri di dalam hati masing-masing.

Yang jelas, kalau kita mau jujur, memang hanya Pengprov/Pengkab/Pengprov di Jawa sajalah yang – untuk sementara ini – memiliki kesempatan untuk menegaskan bahwa keberadaan mereka memang layak disebut sebagai “kepanjangan tangan” PB PGI.

Meskipun begitu bukan berarti bahwa Pengprov/Pengkab/Pengkot yang ada di Jawa siap menjadi “kepanjangan tangan” PB PGI.Paling tidak, dari data yang berhasil dihimpun independensi.com, sepanjang sejarah per-golf-an nasional di era reformasi, baru Pengkot PGI Depok dan Pengprov PGI Jawa Barat, yang berani menjadi “kepanjangan tangan” PB PGI.

Pengkot PGI Depok pernah menggelar event Depok Open yang diikuti oleh pegolf amatir terbaik dari seluruh Indonesia.Dan, bukan faktor kebetulan pula kalau event tersebut menyedot minat banyak pegolf, karena Depok Open digelar beberapa bulan sebelum PON XVIII yang berlangsung di Pekanbaru, Riau, digelar pada 2012 lalu.

Demikian juga dengan Olympic Jabar Amateur Open (OJAO), baik yang pertama maupun yang kedua, terutama dan khususnya OJAO II.Pegolf amatir terbaik dari seluruh Indonesia memanfaatkan momentum OJAO II sebagai ajang “uji coba” sebelum mereka mewakili daerah mereka masing-masing di ajang PON XIX yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, pada September 2016 lalu.

Secara obyektif para pembina yang saat itu hadir mendampingi pegolf mereka di OJAO II mengakui bahwa standar operasional prosedur yang dilakukan oleh panitia penyelenggara benar-benar mengacu kepada SOP yang berlaku secara internasional. “Dan, kami di daerah belum mampu untuk melakukan,” kata Rumadi, pembina golf dari Papua, “oleh karena itu kami datang ke sini bersama para pembina lainnya untuk melakukan studi banding menjelang PON tahun 2020 yang akan datang di Papua,” tambahnya.

Tapi, setelah PON XIX di Jawa Barat berakhir, “Road Show” yang ditunggu-tunggu belum juga terwujud. Dan, sebagai gantinya, panitia pelaksana OJAO II justru akan menggelar event OJAO III di Emeralda Golf Club pada pekan terakhir Juli mendatang.

Apakah dengan demikian para pembina golf di daerah kecewa? Ternyata, sebagaimana opini yang berhasil dihimpun oleh independensi.com, para pembina golf di daerah sama sekali tidak kecewa.Karena, event OJAO III yang berskala internasional dengan tag line Road to SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 (di mana Indonesia akan menjadi tuan rumah), tetap memberi kesempatan kepada para pegolf amatir terbaik di Tanah Air untuk ikut berkompetisi dalam event berskala internasional tersebut.

Dan, untuk kesekian kali, para pembina golf di Indonesia mengucapkan kata: “Untung Ada OJAO”, sehingga pegolf binaan mereka – baik pegolf putra maupun putri – mendapat kesempatan untuk tampil berkompetisi yang, tidak hanya sebatas pada kompetisi nasional dan/atau regional tapi berskala internasional.

Sudah pasti event yang sangat prestisius tersebut akan dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh para pembina golf amatir di Tanah Air – sambil tetap berharap agar wacana “Road Show” yang pernah di-”wacana”-kan saat perhelatan OJAO II yang digelar di Emeralda Golf Club pada Mei 2016 lalu, segera direalisasikan selambat-lambatnya setelah OJAO – Internasional Road to SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia dan Road to Asian Games 2018 di Indonesia. (Toto Prawoto)