Pemimpin baru Partai Buruh Selandia Baru, Jacinda Ardern (tengah), memberikan pidato segera setelah terpilih menggantikan Andrew Little di Wellington, Selasa (1/8/2017). (AFP)

Oposisi Selandia Baru Ganti Pemimpin Jelang Pemilu

JAKARTA (IndependensI.com) – Oposisi Selandia Baru mengganti pemimpinnya, Selasa (1/8/2017). Perubahan itu dilakukan hanya beberapa pekan sebelum pemilihan umum.

Partai Buruh, yang berhaluan kiri-tengah, memilih Jacinda Ardern untuk memimpin organisasi itu menuju pemilu 23 September 2017. Dengan usianya yang baru 37 tahun, Ardern menjadi pemimpin termuda partai itu sepanjang 101 tahun sejarahnya.

Ardern dipilih setelah pendahulunya, Andrew Little, mengundurkan diri menyusul anjloknya popularitas Partai Buruh. Dalam sejumlah jajak pendapat, partai oposisi itu hanya mendapat dukungan 23-24% yang merupakan angka terendah dalam 20 tahun.

Ardern, yang sebelumnya berperan sebagai deputi Little, menjadi pemimpin kelima Partai Buruh dalam lima tahun terakhir. Politikus perempuan itu diharapkan mampu mencegah Partai Nasional memenani empat periode berturut-turut.

“Tim ini akan menjalani kampanya paling penting sepanjang hidup kami,” kata Ardern setelah menerima tongkat komando di Wellington.

Ardern terpilih masuk parlemen pada 2008 setelah bekerja sebagai penasihat politik. Setelah melewati berbagai jenjang pengkaderan, Ardern dipandang sebagai tokoh generasi baru yang paling pantas memimpin partai. Dia akan didampingi Kevin Davis sebagai deputi.

“Kami akan berbicara dengan generasi pemilih baru. Tapi bukan hanya tentang keadaan pribadi mereka. Sebagai satu bangsa, kita bisa berbuat lebih baik,” kata Ardern seperti dikutip kantor berita AFP.

Little mengaku gagal menjalankan amanat anggotanya dalam lebih dari dua tahun memimpin organisasi politik itu.

“Jajak pendapat terakhir memperlihatkan hasil yang mengecewakan. Sebagai pemimpin, saya harus bertanggung jawab atas hasil ini,” kata Little.

“Saya siap memikul tanggung jawab dan percaya bahwa Partai Buruh harus punya kesempatan untuk tampil lebih baik di bawah kepemimpinan yang baru menuju pemilihan umum,” ujar pria berusia 52 tahun itu.

Perdana Menteri Bill English menilai perubahan kepemimpinan tidak akan menyelesaikan masalah Partai Buruh.

“Mereka berada dalam kekacauan. Masalah yang mendasar bukanlah perihal kepemimpinan. Mereka tidak punya sudut pandang yang positif tentang apa yang bisa dicapai Selandia Baru,” kata English.

English memimpin Partai Nasional setelah John Key secara mendadak mengundurkan diri tahun lalu. Meski secara pribadi kalah populer dibanding pendahulunya, English berhasil mendongkrak dukungan buat Partai Nasional menjadi 47 persen.

Namun dia mengingatkan agar anggota dan pengurus partai tidak terlalu cepat puas. Sebab sistem pemungutan suara Selandia Baru memungkinkan terbentuknya pemerintah minoritas dari koalisi partai-partai yang lebih kecil.