11 Naskah Lakon Teater Masuk Nominasi Unggulan

JAKARTA (Independensi.com) – Sebanyak 11 naskah berhasil lolos sebagai nominasi lomba penulisan naskah lakon teater yang digelar Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (6/8/2017) disebutkan ke 11 lakon unggulan yang masuk nominasi tersebut yakni Dara (karya Bintang Pradipta), Jalan Ke Tumbang Samba (Raudal Tanjung Banua), Jalan Menyempit (Joni Faisal), Janger Merah (Ilbed Surgana Yuga), Kawin Toa (Rano Sumarno).

Kemudian, Lila TatKala Ginda (Azaro Verdo Nuary), Pasir Hitam (Taruna Perkasa Putra), Raja Maling (Galih Mulyadi), Ramah Tamak (Reza Ghazali), Re Cura-Cura(Tio Vovan S) dan Sarekat Djin (Pinto Anugrah).

Setelah pendaftaran lomba penulisan naskah lakon teater ditutup pada 31 Mei 2017, panitia lomba tmenerima naskah sebanyak 343 judul dari hampir seluruh pulau dan provinsi Indonesia, baik dari tingkat pelajar, mahasiswa, pengajar dan umum.

Dari 343 naskah yang masuk, Tim Seleksi dari Jurusan Teater FSP ISI Jogjakarta kemudian memilih 20 naskah unggulan untuk diajukan ke Dewan Juri yang terdiri atas Noorca M. Massardi (Ketua), Arthur S. Nalan, Nur Sahid, Agus Noor dan Warih Wisatsana.

Ketua Dewan Juri Noorca M Massardi menyatakan dengan mempertimbangkan latar belakang, tujuan, dan manfaat lomba penulisan naskah teater sebagaimana telah diumumkan sebelumnya, serta merujuk pada kriteria penilaian yang meliputi kebaruan tema, menarik dan dapat dipentaskan, koherensi struktur cerita, serta gaya ungkap, akhirnya memilih 11 naskah lakon unggulan sebelum kemudian menetapkan para pemenangnya.

Nama-nama para Pemenang Terbaik I, Terbaik II, Terbaik III, serta Pemenang Harapan I sampai dengan Harapan VIII akan diumumkan pada puncak acara Pekan Teater Nasional 2017 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 10-15 Agustus 2017.

“Secara umum lakon-lakon yang terpilih memiliki kelebihan dan kekurangan hampir serupa, baik dalam teknis penulisan maupun penguasaan penulis terhadap estetika dan unsur-unsur pemanggungan,” katanya.

Secara tematis, lanjut Noorca, ada yang mencoba menerangkan ihwal ilmu, teknologi, masa depan dan dunia fiksi ke atas panggung, ada yang mengisahkan tentang persaingan di dunia usaha yang berbuntut konspirasi dan pembunuhan, ada yang berupaya mengungkap sisi gelap dan tragedi kemanusiaan 1965.

Selain itu, ada yang secara surealistis dan simbolis bercerita tentang dunia hitam dan korban perundungan seksual, ada yang berusaha mengangkat tradisi carok, dan ada yang secara komikal melukiskan bagaimana seorang preman jatuh cinta untuk pertama kali.

“Hal lain yang cukup menarik pada sebagian peserta unggulan kali ini adalah ternyata Indonesia masih memiliki cukup banyak (calon) penulis lakon teater yang berbakat. Kendati masih ada yang terpengaruh oleh gaya dan tema skenario film dan sinetron, namun ada pula yang betul-betul menguasai teknik pengadeganan dan posisi serta komposisi panggung dan pemain,” katanya. (antaranews)