Paus Fransiskus (tengah) berpidato pada pertemuan di kantor FAO, Roma, Italia, Senin (16/10/2017). (AFP)

Paus Fransiskus Ajak Dunia Perangi Kelaparan

JAKARTA (IndependensI.com) – Paus Fransiskus menandai peringatan Hari Pangan Dunia dengan mengajak pemerintah dari seluruh dunia bahu-membahu untuk memerangi kelaparan, konflik, dan perubahan iklim.

Ajakan itu disampaikan Paus dalam pidatonya di Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) di Roma, Italia, Senin (16/10/2017). Pemimpin Katolik itu mengingatkan masyarakat internasional untuk berusaha bersama atas dasar cinta kasih, bukannya karena kasihan.

“Apakah susah meminta kita semua menyisipkan konsep cinta kasih ke dalam bahasa kerja sama internasional?” kata Fransiskus disambut tepuk tangan hadirin.

Cinta kasih mendorong keadilan dan diperlukan untuk menciptakan keadilan sosial.

“Kita tidak bisa membatasi diri kita dengan rasa kasihan. Sebab rasa kasihan akan hilang dengan bantuan kemanusiaan, sementara cinta kasih mendorong keadilan dan diperlukan untuk menciptakan keadilan sosial,” ujarnya.

Fransiskus menyoroti Perjanjian Paris tentang perubahan iklim. Paus asal Argentina itu mengatakan perjanjian itu bisa terwujud jika semua pemerintah mau bekerja sama. Sayangnya sekarang ada “yang menjauh”, kata Paus yang sepertinya menyindir kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sebelum berpidato, Fransiskus meresmikan patung Alan Kurdi, bocah laki-laki Suriah yang menjadi simbol krisis pengungsi. Kurdi ditemukan tewas di pesisir pantai Turki pada 2015 setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam.

Patung karya seniman Italia, Luigi Prevedel, itu adalah hadiah Fransiskus untuk FAO.

Dalam pidatonya, Franciskus mengatakan semua pemerintah harus mengakui adanya masalah yang menyebabkan migrasi besar-besaran.

“Bagaimana menghentikan orang-orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi, seluruh generasi mereka bisa hilang karena tidak punya makanan, atau karena mereka korban kekerasan atau perubahan iklim?”

“Mereka pergi ke tempat yang mereka pikir ada secercah cahaya, ada harapan hidup. Mereka tidak bisa dihentikan oleh hambatan fisik, ekonomi, hukum, atau ideologi. Hanya prinsip kemanusiaan yang koheren yang bisa mencegahnya,” kata Paus.