Ilustrasi. (Ist)

Masalah Kesehatan di Indonesia. Berikut Penjelasannya

JAKARTA (Independensi.com) – Masalah kesehatan di Indonesia mengalami pergeseran dari beberapa dekade lalu yang diakibatkan oleh penyakit menular, kini menjadi penyakit tidak menular.

Selain itu, pergeseran penderita penyakit juga terjadi yang tadinya banyak diidap saat masa tua, kini mulai menghantui orang-orang muda.

Beberapa penyakit mematikan pada era 90-an, seperti insfeksi saluran pernapasan akut (ISPA), turbekulosis, dan diare kini sudah digantikan oleh penyakit, seperti diabetes, stroke, penyakit jantung, dan penyakit kardiovaskular lainnya.

Penyakit-penyakit tersebut diidap bukan berasal dari penularan, melainkan pola hidup tidak sehat dari masyarakat itu sendiri.

Beberapa tahun terakhir, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pun membayarkan klaim rumah sakit sebesar 30 persen dari total anggaran keseluruhan untuk penyakit kardiovaskular.

Penyakit tidak menular tersebut bisa dibilang disebabkan oleh masyarakat yang “menyakiti dirinya sendiri” dan tidak peduli dengan kesehatan diri yang akan berdampak pada masa depan.

Sebut saja merokok yang tiada henti, makan terlalu banyak dan asal makan, ditambah malas berolahraga atau berkegiatan fisik.

Jika pola hidup seperti itu dilakukan terus menerus setiap hari, tinggal tunggu waktu saja akumulasi penyakit menumpuk dan berdampak pada tubuh.

Rokok, tidak perlu dibahas lagi bagaimana dampak buruknya bagi kesehatan. Yang pasti, selain menghabiskan uang masyarakat untuk membeli rokok dalam mengatasi candunya pada sebatang tembakau dalam gulungan kertas, rokok juga menghabiskan uang negara untuk mengobati orang dengan penyakit yang diakibatkan oleh rokok.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris berkali-kali menyampaikan agar cukai rokok bisa untuk mendanai Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat yang dikelola oleh BPJS dan selalu mengalami defisit.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga mewacanakan untuk tidak menjamin pengobatan pada penyakit yang diakibatkan oleh merokok.

Pada Forum Pangan Asia Pasifik yang diadakan beberapa waktu lalu, beberapa pemangku kepentingan yang hadir sepakat bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia dan juga dalam skala global, tidak memahami makanan apa yang dimakannya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan masalah gizi di Indonesia, baik itu kelebihan gizi yang menyebabkan obsesitas maupun kekurangan gizi yang menyebabkan kekerdilan pada anak atau “stunting”, bukan hanya karena keterbatasan pangan melainkan juga pengetahuan terhadap kandungan gizi dalam makanan.

Prevalensi anak dengan kekerdilan di Indonesia saat ini 27,5 persen. Memang menurun dari tahun-tahun sebelumnya, namun masih jauh dari standar minimum Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan di angka 20 persen.

Anak yang mengalami “stunting” tidak hanya terhambat pertumbuhan fisiknya, tetapi juga terhambat perkembangan otaknya yang menyebabkan kecerdasan intelektualnya rendah.

Bayangkan, sebanyak 27,5 persen balita di Indonesia mengalami pertumbuhan fisik yang terhambat dan IQ rendah, bagaimana nasib sumber daya manusia di masa depan? Memang jumlah kasus balita dengan kekerdilan ini masih didominasi terjadi di wilayah timur Indonesia dengan sejumlah masalah, seperti keterbatasan pangan, adat istiadat yang masih sangat kental, dan edukasi tentang gizi yang belum maksimal.

Namun, data masalah kekerdilan tidak hanya terjadi di daerah pedesaan, melainkan juga terjadi di perkotaan. Ketersediaan pangan yang mencukupi namun tidak dibarengi dengan pengetahuan gizi dari orang tua untuk diberikan pada anaknya juga menjadi salah satu penyebab “stunting”.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek berkali-kali berpesan kepada para perempuan, terutama para ibu, agar memahami kandungan gizi dalam makanan yang diberikan pada anak-anaknya.

Selain itu, Menkes juga meminta para ibu agar mengolah makanan dengan tepat agar kandungan gizinya tidak hilang dalam proses memasak.

Masalah pengetahuan tentang gizi dalam makanan juga menjadi sebab kasus obesitas di Indonesia meningkat. Bahkan tidak hanya pada orang dewasa, kini anak-anak pun tidak sedikit yang mengalami obesitas.

Pola makan yang tidak teratur, terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung kalori, serta malas beraktivitas fisik, jadi penyebab obesitas meningkat di Indonesia.

Menkes Nila menyebut masalah obesitas dan kekerdilan di Indonesia ini sebagain beban ganda.

Germas Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan tidak bosan-bosannya mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Pemerintah mengubah pola penyelesaian masalah kesehatan di Indonesia dari kuratif, yaitu menyembuhkan menjadi preventif atau mencegah.

“Kalau mau mengentaskan penyakit cacingan itu bukan memberikan obat cacing, tapi cuci tangan pakai sabun dan perilaku hidup bersih,” begitu kira-kira perumpamaan yang diberikan oleh Menkes Nila dalam penyelesaian masalah kesehatan.

Masalah kesehatan sejatinya bukan menjadi persoalan yang harus ditangani oleh sektor kesehatan dalam hal ini Kementerian Kesehatan semata. Melainkan membutuhkan dukungan berbagai lintas sektor yang menjadi penyebab kenapa masalah penyakit itu timbul.

Balita dengan kekerdilan, masalahnya pada ketahanan pangan suatu daerah. Turbekulosis dan diare, penyebabnya karena lingkungan rumah yang tidak sehat dan akses terhadap air bersih.

Pada tahun ini, dalam memeringati Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada November setiap tahunnya, pemerintah memfokuskan pada tiga hal yang sangat ditekankan dalam Germas, yaitu perbanyak makan buah dan sayur ditambah ikan, aktivitas fisik setiap hari, dan periksakan kesehatan tubuh secara berkala di fasilitas kesehatan untuk deteksi dini penyakit.

Selain itu, pemerintah juga mengganti slogan “4 Sehat 5 Sempurna” yang pada masa lalu selalu di luar kepala anak-anak SD menjadi “Isi Piringku” untuk menggambarkan pola makan dengan gizi seimbang.

Pada umumnya “Isi Piringku” menggambarkan porsi makan yang dikonsumsi dalam satu piring yang terdiri dari 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen sisanya terdiri atas karbohidrat dan protein. Karbohidrat dan protein itu terbagi menjadi sepertiga lauk dan dua per tiganya makanan pokok atau karbohidrat.

Kementerian Kesehatan juga menganjurkan untuk memilih protein hewani dari ikan karena memiliki kandungan gizi yang tidak dimiliki oleh sumber protein yang berasal dari daging merah.

Dalam bagan “Isi Piringku” juga dianjurkan untuk minum air putih yang cukup, aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, dan mengukur tinggi dan berat badan yang sesuai untuk mengetahui kondisi tubuh.

Memang selalu saja edukasi tentang kesehatan hanya seperti penyuluhan di tingkat kelurahan. Setiap orang selalu tahu dan sudah tahu bagaimana caranya untuk sehat. Namun hidup sehat atau hidup menderita penyakit itu suatu pilihan. (berbagai sumber/ant)