Menikmati keindahan pantai serta surfing atau berselancar menjadi salah satu daya tarik wisatawan asing ke Bali

Krisis Wisman, Babak Baru Pariwisata Bali

KUTA, BALI (Independensi.com) – Setelah menikmati masa keemasan pascabom Bali 2002 silam, pariwisata Bali kini berada dalam kondisi kritis. Apalagi banyak negara yang selama ini menjadi pemasok wisatawan mengambil langkah ekstrim membatasi warganya ke Bali.

“Pariwisata Bali kini terjun bebas. Turis ke Bali anjlok, hunian hotel berada di posisi terendah rata-rata sekitar 12 persen,” ujar pelaku sekaligus pengamat ekonomi dan pariwisata Wayan Puspa Negara, Kamis (7/12) menanggapi kondisi pariwasata Bali pascaerupsi Gunung Agung.

Puspa bahkan mengaku kondisi bisa semakin parah mengingat sejumlah negara yang selama ini banyak memasok wisatawan mulai menutup pintu warganya ke Bali. Beberapa negara telah mengambil langkah ekstrim seperti pemerintah Cina menghentikan warganya berkunjung ke Bali hingga akhir Desember 2017.

Demikian halnya dengan pemerintah Australia sejak tanggal 27 November 2017 membatalkan semua penerbangan menuju Bali, namun mereka terus memonitor kondisi Gunung Agung. Pemerintah Singapura melalui Kemenlu-nya bahkan secara tertulis Senin 4 Desember 2017 juga menunda warganya berkunjung ke Bali hingga situasi membaik.

Amerika bahkan mengeluarkan Securiry Message for US Citizens: Mt Agung Volcanic Activity. Imbauan perjalanan (travel advisory) juga dikeluarkan oleh Selandia Baru, Inggris dan Korsel. “Padahal warga mereka paling banyak berlibur ke Bali sebelum Gunung Agung meletus,” ujar Puspa yang juga GM Discovery Shoping Mall Kuta ini.

Puspa Negara menambahkan adanya berita-berita hype tentang Gunung Agung dan penutupan bandara telah mengakibatkan tingkat hunian hotel mencapai titik sangat rendah yakni 12% hingga 20% atau sedikit lebih tinggi dari kejadian pascabom Bali tahun 2002 yang berada di kisaran 1,13 % hingga 18%.

Saat ini kondisi pariwisata Bali bisa dikatakan sangat merosot dimana hal ini akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi makro Bali secara meluas. “Saya berharap tentu tidak sampai terjadi PHK karyawan pariwisata. Dan tidak ada usaha pariwata yang kolaps,” ujarnya.

Namun dipastikan kondisi ini akan mengguncang setiap usaha pariwisata (hotel, vila, restoran, pub, bar, spa, travel/biro perjalanan wisata dan objek/atraksi wisata lainya). Adanya pembatalan kunjungan serta banyaknya turis yang kini meninggalkan Bali secara empirik telah menunjukkan mulai sepinya pusat-pusat yang menjadi favorit para wisman di kawasan Kuta seperti Jalan Legian yang biasanya macet kini lengang dan lancar.

Kawasan Kayu Aye Seminyak yang terkenal sebagai The World 3rd Best Culinary juga terlihat lengang. Yang memprihatinkan okupansi hotel ada di kisaran 12% sampai 15%, ini angka yang amat rendah dan kritis. Sedangkan momentum akhir tahun yang bisanya menjadi peak season sepertinya tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

“Terhadap pariwisata Kuta, saya berharap kondisi ini cepat pulih dalam 6 bulan ke depan, dengan cara semua pihak bahu membahu melakukan upaya recovery dengan mengkampanyekan Bali aman dan nyaman. Di semua peluang dan media termasuk memberikan kompensasi khusus bagi calon wisman yang mau ke Bali,” ujar mantan anggota DPRD Badung ini.

Sementara Ketua FSP Par Bali Putu Satyawira Marhaendra berharap semua harus berjuang membangkitkan kembali pariwisata yang tengah menghadapi cobaan berat. Ia bahkan minta Pemerintah di Bali yang selama ini juga ikut menikmati kue pariwisata segera melakukan terobosan untuk bersama-sama memulihkan pariwisata. (hidayat)