Curhat Seorang Gigolo di Pantai Kuta yang Kangen Betawi

Independensi.com – Sunset yang kurasa sore itu cuma menampakkan lembayung yang menguning, ini saat beberapa kali aku merasakan kekecewaan tak bisa melihat sang surya tenggelam.

Empat tahun lamanya aku menetap di pulau dewata, menghitam lebam kulitku terpanggang sengatan mentari.

“Kok kulit loe keling banget?,” begitu kalimat yang keluar dari seorang sahabat kecil yang sedang berlibur di Bali.

Kuceritakan padanya bahwa cuma sepeda motor yang nyaman untuk wara wiri disini, maklumlah keberadaan transportasi umum minim keberadaannya sebab para ATPM (Asosiasi Tunggal Pemegang Merk) membuai pemilik kendaraan dengan prasyarat DP dan cicilan yang mudah.

Pagi sarapan Nasi Jinggo, nasi yang cuma ditaburi orek-orek tempe seharga lima ribu rupiah, sore nungguin sunset dengan latar belakang resort mewah dan sok-sokan bergaya di bawah payung-payung di tepi pantai sambil shelfi-an lalu malamnya menikmati liarnya pub dan cafe di bilangan seputaran Kuta dan Seminyak.

Kuta tetap masih merupakan kawasan yang daya magisnya membuat bule seantero bumi ingin menggapainya, dengan pasirnya yang putih dan celotehan para surfer nenawarkan kursus surfing singkat, bahkan tak jarang kerap merangkap sebagai pacar sesaat buat cewek bule tajir dan kesepian.

“Mereka rata-rata bukan asli Bali tapi orang dari suku tertentu di tanah Sumatra,” tutur temanku yang sudah puluhan tahun ‘stay’ di Kuta.

Walau kerap bercinta dengan cewek bule bahkan sering di stigma ‘gigolo’ atau Bali boyfriend, para surfer yang rata-rata berbadan gelap tersebut sejatinya jago menari dan menerjang gulungan ombak diatas papan luncurnya.

Empat tahun di Bali gaya rambutku juga berubah, tidak lagi ‘cepak ngehe’ tapi lebih ke ‘under cut’ mengikuti jaman now, balutan busanapun berubah, sekarang banyak koleksi kaosku berlabel Pull & Bear, Ripcurl dan 69 Slam, soal sex itumah nggak usah dibahas sebab kalau pengen kapan saja dan dimana saja mudah didapat tinggal ‘prasmanan’.

Bali memang (konon) disebut sebagai ‘surga kecil’ dengan tumbuhnya warung-warung kopi lengkap dengan baristanya dan gerai Vape dan studio tatto paling menjamur diseputaran Denpasar.

Hamparan bule-bule yang berbikini di tepian pantai Canggu seolah tak terusik dengan gemuruhnya pemberitaan gempa Gunung Agung yang mulai mereda, ‘Sun, Sea, Beer and Love’ adalah tagline yang mereka usung kala berjemur dengan kacamata Oakley yang mereka kenakan dan popcorn jadi cemilan.

Ahh tiba-tiba aku jadi teringat kampung kecilku di Tanah Abang, teringat Bubur Asinan Semur dan Lontong isi Oncom dengan sambal kacang favoritku.

Betawi … Aku akan kembali.

Here I am
Will you send me an angel?
Here I am
In the land of the morning star

Catatan: Kisah nyata seorang putra Betawi yang merantau ke Bali dan hingga kini masih berada di Bali. Curhat ini disampaikan ke redaksi Independensi.com, namun minta nama dirahasiakan