Membaca Keunggulan Anton Charliyan – KH Maman Imanulhaq di Pilkada Jabar

Oleh : H. Mahfudin, SH, MH

IndependensI.com – Konstelasi politik Jawa Barat menjelang Pilkada serentak 2108 akhirnya mengerucut ke arah finalisasi koalisi partai, dengan pasangan calon masing-masing.

Publik disuguhi semacam panggung melodrama dengan lakon Arjuna mencari cinta. Ada Arjuna yg sudah digadang – gadang sebagai calon gubernur, pusing oleh banyaknya calon pendamping yang ditawarkan kepadanya.

Sang Arjuna sampai minta bantuan dewan juri, terdiri dari 10 ‘kesatria’ Jawa Barat, untuk memilihnya. Walau, kita tahu, akhirnya ngambang atau diambangkan, meski penonton tahu siapa pemenang “beauty contest” yang diikuti enam calon itu.

Ada pula pasangan yang kelihatannya sudah fixed , akhirnya bubar sebelum naik ke pelaminan. Dalam bacaan telanjang kita, yang sudah hampir pasti adalah paket pasangan Mayjend Purnawirawan Sudrajat – Ahmad Syaekhu (Gerindra – PKS –PAN).

Kedua, sangat mungkin Dedi Mulyadi – Dedy Mizwar (Golkar – Demokrat). Paket ketiga masih sangat mungkin Ridwan Kamil – Uu Ruzanulum (koalisi Nasdem, PPP dan PKB). Terakhir, adalah jagonya PDIP, yang baru akan diumumkan menjelang deadline pendaftaran.

Pertanyaannya, siapa yang akan diusung menjadi calon gubernur oleh PDIP? Yang sudah mengemuka adalah mantan Kapolda Jabar, Irjen Pol Anton Charliyan. Pertanyaan berikutnya, siapa wakilnya?

Diantara beberapa tokoh yang mem-publish dirinya ikut dalam kontestasi Pilgub Jabar, ada sosok kyai muda yang memikat hati para ‘ksatria’ dan inohong Jawa Barat. Ia adalah KH. Maman Imanulhaq.

Ada beberapa keunggulan atau nilai lebih pasangan Anton Charliyan – KH. Maman Iamnulhaq, kalau sekiranya diusung oleh PDIP, yaitu:

1. Aspek kepartaian. Praktis tidak menimbulkan “konflik koalisi partai”, karena mereka diusung oleh partai tunggal.

2. Aspek integritas personal. Keduanya sudah teruji integritasnya. Rekam jejak mereka, yang tercatat di nalar public, tanpa catatan hitam moralitas. Bahkan KH Maman Imanulhaq selama ini lantang meneriakkan perlawanan terhadap korupsi.

3. Representasi Nasional Religius. Publik membaca sosok Anton Charliyan yang nasionalis dan KH. Maman Imanulhaq adalah religius representasi kiyai, pesantren dan Islam yang Islamnya mayoritas rakyat Jawa Barat. Label religius dan santri dilekatkan pada Maman Imanulhaq antara lain karena ia pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Jatiwangi, Majalengka.

4. Aspek budaya dan kewilayahan. Anton yang dominan wilayah Priangan akan mendapat penyeimbang Kiyai Maman yang dominan kawasan Pantura. Ketokohan Maman Imanulhaq di Pantura antara lain ditunjang oleh pengaruh besar ayahnya yang berasal dari Cirebon, KH. Abdurrochim.

5. Aspek Jaringan Ormas. Anton yang sudah punya jaringan ormas-ormas nasionalis, Kiyai Maman punya hubungan dekat ormas ormas keagamaan. Sebagai Ketua Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama (LDNU), Maman Imanulhaq memilki jaringan dan kedekatan dengan kalangan pesantren dan ulama di Jawa Barat.

6. Aspek Basis Massa. Anton dengan massa PDIP yang solid, Kyai Maman dengan basis santri dan pesantren serta warga nahdhiyin plus generasi milenial. Wilayah pergumulan Maman Imanulhaq luas, mulai dari LSM, media massa, seniman, sastrawan, budayawan sampai anak jalanan, tentu memperlebar basis dukungan.

7. Repesentasi Generasi Jamannya. Anton dengan generasi zaman old dan Kang Maman dengan generasi zaman now nya. Pergaulan Maman Imanulhaq yang ‘lintas –batas’ membuat ia dipersepsikan sebagai sosok yang gaul dan egaliter. Posisi ini amat ‘seksi’ terutama bagi pemilih pemula.

8. Aspek Soliditas . Keduanya memiliki kecocokan chemistry secara personal. Mereka gambaran “santri-abangan”, sebagaimana terungkap dalam studi Slifford. Kesantrian Maman Imanulhaq bahkan sebenarnya sudah melekat sejak lahir, karena ia anak KH. Abdurrochim yang sangat dihormati di wilayah Cirebon.

9. Representasi Miniatur Indonesia. Keduanya yang Bhineka Tunggal Ika, gotong royong, yang nyunda dan nyantri, yang silih wawangi, silih asah, asih dan asuh.

Dengan demikian, jika pasangan ini dipercaya memimpin Jawa Barat, maka Bumi Priangan akan terjaga keamanan dan ketertibannya. Akan bangkit daerahnya dan sejahtera rakyatnya, sebagaimana terucap dalam doa dan pengharapan kita atas negeri ini yang baldatun thoyyibatun warobbun ghoguur. Aamiin.
Waallohu a’lam bisyowaab .

Penulis  adalah Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah Suryalaya.