Usai Dilarang Bangun Pura di Bima, Pura Hindu di Lumajang Dirusak

LUMAJANG (IndependensI.com) – Hanya kurang dalam 2 minggu terjadi dua peristiwa intoleransi secara beruntun yang dialami umat Hindu di Indonesia.  Peristiwa pertama adalah aksi demo dan pemaksaan kehendak yang dilakukan tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Bima yang menolak pembangunan pura di Desa Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Sementara kejadian terbaru adalah perusakan terhadap Pura Mandara Giri yang merupakan simbol tempat suci umat Hindu. Perusakan dilakukan pada pagi hari Minggu (18/02/2018) kira-kira jam 04.30-05.00 WIB dan pengurus Pura mengetahui adanya kerusakan pada pukul 14.00 WIB. Patung yang dirusak berada di pintu masuk utama Pura Mandara Giri Semeru Agung di posisi sebelah kiri.

“Kerusakan patung terjadi di bagian lengan dan ada satu patung yang rusak. Pelaku menggunakan kapak untuk memotong lengan patung. CCTV di Pura memang sudah tidak berfungsi karena rusak disambar petir,” Wira Dharma, salah seorang tokoh pemuda Hindu Senduro, Minggu (18/02/2018).

Ketua PHDI Kabupaten Lumajang Edi Sumianto menyatakan agar umat Hindu tetap tenang dan menjaga kerukunan umat beragama. “Umat Hindu memegang teguh Bhinneka Tunggal Ika dan kehidupan toleransi di Indonesia,” ujarnya.

Pura Mandhara Giri Semeru Agung merupakan pura tertua di Indonesia. Pura ini terletak di kaki Gunung Semeru. Tepatnya di Jalan Serma Dohir, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Arsitektur dan tata ruang menyerupai pura yang berada di Bali dan sekaligus dipengaruhi gaya arsitektur khas Majapahit.

Pura Mandhara Giri semeru Agung adalah simbol kejayaan Kerajaan Majapahit yang bercorak Siwa-Buddha. Lamajang atau Lumajang merupakan wilayah kekuasaan Arya Wiraraja atau Banyak Wide yang beragama Siwa (Hindu). Lumajang diberikan kepada Arya Wiraraja oleh Raden Wijaya berdasarkan kesepakatan Sumenep (Madura).

Pura Mandara Giri Semeru Agung termasuk kawasan budaya Tengger. Bangunan suci Hindu ini memiliki lokasi strategis karena merupakan pintu ke kawah candradimuka Gunung Semeru yang dipercaya sebagai penanda kembalinya ajaran budi ke Tanah Jawa.

Orang-orang Tengger adalah keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger. Rara Anteng adalah seorang putri Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke Gunung Semeru karena menolak masuk Islam setelah Demak meruntuhkan Kerajaan Majapahit 1478.

3 comments

  1. Mungkin itu peringatan bagi kita agar lebih mendekatkan diri pd tuhan, jgn saling menuduh lebih baik kita perbaiki dan sll memaafkn. Om santi, santi, santi om

Comments are closed.