Aplikasi Dropbox di smartphone Android. (IndependensI.com/Henri Loedji)

Dropbox Tawarkan Saham Perdana

JAKARTA (IndependensI.com) – Dropbox mengajukan penawaran saham perdana (IPO), Jumat (23/2/2018). Penyedia layanan penyimpanan data daring itu akan menjual sahamnya ke publik untuk mencari modal tambahan sekitar US$500 juta.

Perusahaan yang bermarkas di San Francisco itu mengklaim punya 500 juta pengguna yang tersebar di 180 negara. Pendapatan tahunannya mencapai US$1 miliar sesuai dokumen yang diberikan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS.

Nilai perusahaan berdasarkan investasi swasta di kelompok usaha itu berkisar US$10 miliar. Angka sebesar itu menjadikan Dropbox salah satu perusahaan terbesar di Silicon Valley.

Penyimpanan berbagai data digital, mulai dari musik dan film hingga dokumen, presentasi, dan gambar, sudah berkembang menjadi bisnis besar. Perkembangan ini seiring dengan beralihnya gaya hidup pengguna gawai yang ingin mengakses datanya dari mana saja lewat internet. Perubahan ini didorong semakin cepat dan murahnya koneksi internet.

Dropbox populer karena menyediakan versi gratis. Buat pengguna yang menginginkan kapasitas lebih tinggi, barulah Dropbox mengenakan biaya langganan.

Meski punya lebih dari 500 juta pengguna terdaftar hingga akhir tahun lalu, hanya 11 juta pengguna yang menjadi pelanggan berbayar.

“Sebagian besar pengguna terdaftar mungkin tidak akan pernah naik menjadi pelanggan berbayar di pelantar kami,” kata perusahaan start-up itu.

Dropbox mencatat bahwa jumlah orang yang memanfaatkan layanannya mungkin lebih sedikit karena satu orang bisa punya lebih dari satu akun.

Faktor itu membuat Dropbox tidak mudah mendapatkan uang. Meski pendapatannya terus naik sejak berdiri pada 2007, lajunya mulai melambat.

Dropbox juga terus mengalami kerugian. Tahun lalu perusahaan itu rugi US$111,7 juta. Tahun sebelumnya, kerugian perusahaan itu mencapai US$210,2 juta. Terhitung hingga 31 Desember 2017, defisit perusahaan sudah mencapai US$1,05 miliar.

“Kami masih berjuang mengembangkan bisnis. Kami memperkirakan pengeluaran masih terus naik dalam waktu dekat,” kata Dropbox.

Di tengah berbagai kesulitan, Dropbox juga harus menghadapi persaingan dengan layanan cloud storage dari raksasa teknologi lain seperti Drive dari Google dan OneDrive dari Microsoft.

Dropbox juga mengingatkan calon investor bahwa perusahaan itu menghadapi ancaman dari peretas yang bisa menarik data berharga dari ‘cloud’.

“Kami sudah mengantisipasi bahwa, seiring berjalannya waktu, ancaman seperti itu akan terus bertambah dari segi cakupan dan kerumitannya,” kata Dropbox.

Dropbox mengungkapkan bahwa pada 2016 nama pengguna dan password dari sekitar 68 juta penggunanya dicuri selama periode empat tahun sebelumnya.

“Kami sudah menangani permasalahan itu dengan memperbanyak anggota tim keamanan dan meningkatkan kemampuan pengawasan data dan menerapkan otentifikasi dua faktor untuk memperbaiki perlindungan informasi pengguna,” kata Dropbox.

One comment

Comments are closed.