Pebulutangkis tunggal putra Indonesia peraih medali emas Asian Games 2018, Jonatan Christie melakukan penghormatan kepada bendera Merah Putih saat upacara penyerahan medali di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8/2018). (ANTARA/INASGOC)

Jonatan Puaskan Publik Sendiri

JAKARTA (IndependensI.com) – Pebulutangkis spesialis tunggal Indonesia, Jonatan Christie memuaskan publik pendukungnya yang memadati Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Selasa (28/8/2018). Jojo, panggilan akrab Jonatan, mempersembahkan medali emas untuk Indonesia setelah menghentikan perlawanan sengit pemain Taipei, Chou Tien Chen 21-18, 20-22, 21-15 pada nomor tunggal perorangan Asian Games 2018. Pertandingan berjalan yang menyita perhatian, emosi, semangat dan sukacita serta berakhir dengan kebahagiaan.

Jojo mengukir sejarah sebagai juara nomor tunggal putra bulutangkis di ajang Asian Games yang sudah bergulir sejak 1962. Dia bertanding dengan optimisme dan semangat yang tinggi serta bermain lebih taktis. Selain itu, dukungan hampir seluruh penonton di Istora menambah semangat berlaga pemuda kelahiran Jakara, 15 September 1997. “Puji Tuhan, saya bisa menjadi juara hari ini. Sekarang saya akan naik podium sebagai juara, dan turun sudah tak lagi sebagai juara, bukan siapa-siapa. Untuk itu, saya beserta tim tunggal putra Indonesia harus lebih baik lagi dia ajang berikutnya,” ujar Jojo usai berlaga. Atas kerja keras Chou, harus puas menerima medali perak.

Mendapat dukungan penuh dari penonton sempat membuat Jojo canggung dan bermain lebih hati-hati di awal. Sedangkan lawan, Chou bermain lebih tenang dan mencoba untuk tidak membuat kesalahan. Namun berkat konsistensi dan kesabaran Jojo, akhirnya Indonesia bisa menuai kembali satu medali emas. “Terima kasih untuk para pendukung di Istora dan di rumah. Seluruh masyarakat Indonesia. Ini kemenangan untuk Indonesia,” ujar Jojo. Menurut Jojo, kemenangan ini adalah buah hasil kerja keras pelatih, pelatih fisik, ahli gizi, hingga orang-orang yang memberikan asistensi positif baginya untuk bisa tampil maksimal.

Dari catatan yang ada, sukses Jojo ini adalah kali ketujuh bagi tunggal putra bulutangkis Indonesia di perhelatan pesat olahraga antar negara-negara Asia. Pada tahun Asian Games Jakarta 1962, pebulutangkis Tan Djoe Hock meraih medali pada Asian Games pertama. Kemudian pada 1966 di Thailand, Ang Tjin Siang (Muljadi) meraih medali emas, diikuti Liem Swie King di China 1974. Selanjutnya pada Asian Games 1994 di Hiroshima, Haryanto Arbi menuai medali emas. Pada Asian Games Busan 2002, Taufik Hidayat mencatat medali emas dan dipertahankan sukses tersebut pada Asian Games Doha 2006.

Sementara itu, Anthony Sinisuka Ginting meraih medali perunggu. Kendati dikalahkan Chou pada babak semifinal, Anthony cukup berbangga dengan raihan dirinya dan Jojo. “Ini adalah momen yang sulit terlupakan. Walau saya meraih perunggu dan Jojo meraih emas, ini menjadi pelecut semangat kami untuk bisa bertarung di laga-laga berikutnya,” kata Anthony. Setelah Asian Games 2018, Anthony dkk akan bersiap menuju Japan Open.