Sportivitas Asian Games Teladan untuk Pemilu

JAKARTA (IndependensI.com) – Asian Games 2018 benar-benar mengharu biru di seantero Nusantara. Prestasi luar biasa diraih para atlet Indonesia dengan meraih 30 emas, 24 perak, dan 40 perunggu untuk menempati posisi keempat sementara di bawah China, Jepang, dan Korea Selatan, juga prestasi penyelenggaraan yang berlangsung lancar dan damai.

Tidak hanya itu, pada Rabu (29/9/2018) di Padepokan Pencak Silat TMII, sebuah momen  kebangsaan terjadi saat Presiden Joko Widodo dan penantangnya Prabowo Subianto saling berangkulan dengan diinisiasi peraih medali emas pencak silat, Hanifan.

Momentum itu bak siraman air dingin di atas bara api. Bagaimana tidak, berpelukannya dua tokoh bangsa itu terjadi saat di suasana jelang pemilihan presiden (pilpres) terus memanas.

“Inisiasi Hanifan untuk menyatukan Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto dalam suatu pelukan itu sebagai aspirasi mayoritas mutlak masyarakat Indonesia yang menghendaki bahwa kontestasi Pilpres seyogyanya damai, sejuk, dan tidak keluar dari kerukunan pribadi-pribadi antar paslon dan masing2 pendukungnya,” ungkap anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani di Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Arsul Sani

Arsul yang juga Sekjen PPP itu menilai, persatuan dan kesatuan bangsa lebih penting daripada kontestasi dengan menggunakan cara-cara yang tidak sehat. Apalagi kondisi-kondisi yang kurang kondusif di tengah masyarakat akibat perbedaan pilihan atau dukungan, bisa memicu ancaman lain yang besar, seperti intoleransi, atau bahkan bisa disusupi kelompok-kelompok yang ingin menghancurkan NKRI.

Untuk itu, ia mengajak seluruh bangsa untuk waspada dan bersaing secara sehat dalam kontestasi Pilpres 2019. Ia berharap momentum Asian Games 2018 dengan episode pelukan Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto mampu mencairkan suasana sehingga situasi bangsa tetap kondusif menghadapi tahun politik 2019.

‘Momen pelukan tersebut memberi makna mari mulai hari ini kontestasi Pilpres tidak provokatif, tidak saling menyebarkan kebencian dan berproses tanpa harus mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa,” tandas Arsul Sani.