Muhammad Fadli

Fadli Tidak Trauma di Sentul

Loading

SOLO (Independensi.com) – Pembalap sepeda difabel Muhammad Fadli Imammuddin mengaku, dirinya tak gentar sedikit pun untuk turun balapan di Sirkuit Sentul berkenaan dengan ajang Asian Para Games 2018.

Fadli, panggilan akrabnya, pernah mengalami kecelakaan mengerikan di Sirkuit Sentul saat race kedua SuperSport 600cc Asia Road Racing Championship 2015, Minggu (7/6/2015). Fadli ditabrak pembalap asal Thailand, Jakkrit Sawangswat dalam kecepatan tinggi saat sedang melakukan selebrasi usai mencapai finis. Fadli pun harus kehilangan kaki kiri di atas lutut.

Kini, Fadli bangkit dan menjadi pembalap paracycling pertama di Tanah Air. Pria yang akrab di atas roda ini pun tidak perlu waktu lama untuk adaptasi dari motor balap ke sepeda jenis road race dalam berkompetisi.

“Saya tidak trauma untuk turun di Sentul lagi. Sudah saya lupakan semua dan sekarang menatap prestasi melalui balap paracyling,” ujar Fadli saat ditemui di kantor National Paralympic Indonesia, Solo, Jawa Tengah, Rabu (5/9/2018).

Dirinya mengaku, insiden saat balapan motor itu tak lagi mengganggu mental dan keberanian untuk mengembangkan kecepatan di Sirkuit Sentul. Cabang balap sepeda difabel sedianya dimainkan di sirkuit yang terletak di wilayah Bogor, Jawa Barat itu.

Fadli memang bukan siapa-siapa di kancah balap sepeda. Namanya besar dan harum di arena balap roda dua Tanah Air. Namun demikian, dia sudah menggeluti balap sepeda ini sejak 2017 dan mencapai sukses dalam perjalanan prestasinya. Dua medali perak dan dua perunggu ajang SEA Para Games 2017 di Malaysia. Kemudian, Fadli menyabet gelar juara Asia pasa kejuaraan dunia paracycling 2018 di Myanmar.

Berbekal sukses ini dan pelbagai pelatihan spartan yang dilakukan, Fadli dibebani target meraih satu medali perunggu di Asian Para Games 2018. “Buat saya, bertarung di Asian Para Games bakal menemui lawan berat, beda dengan SEA Para Games lalu. Tapi saya harus berupaya keras mencapai yang terbaik,” ungkap Fadli yang sudah terbiasa melahap jarak Solo-Jogja sebagai menu latihan harian.

 

Talenta Balapan

Sementara itu, pelatih balap sepeda Puspita Mustika Adya yang menangani Fadli mengatakan, anak asuhan yang satu ini memiliki talenta balap dan kerja keras yang sangat tinggi. Selain sebagai mantan pembalap motor yang berpreatasi, Fadli punya fisik dan mental yang sangat luar biasa.

“Fadli adalah pembalap paracycling pertama dan terbaik Indonesia untuk saat ini. Dia punya bekal yang lengkap sebagai atlet difabel. Selain pengalaman dan fisik yang mumpuni, talenta balapannya yang menjadikannya sukses,” ujar Puspita yang sudah mengirim Fadli uji coba ke Italia dan Prancis agar mendapat pengalaman balapan dengan atlet tangguh Eropa.

Puspita berharap, dengan digunakan sirkuit Sentul sebagai lokasi pertandingan, akan menguntungkan Fadli menyusul venue tersebut adalah “home ground” baginya. “Saya senang sirkuit Sentul dipakai venue balap sepeda. Selain sebagai tuan rumah, sirkuit itu adalah rumahnya Fadli, dia biasa meraih sukses di sana,” imbuh Puspita.

Apapun yang akan terjadi nanti, Fadli sendiri tidak merasa terbenani dengan target itu. Kendati bakal menemui lawan sepadan seperti dari China, Korea hingga Malaysia, Hati dan pikiran Fadli tetap sama, tak gentar sedikit pun.

“Bagi saya, balapan motor dan sepeda hanya soal adaptasi. Yang penting endurance dan performance harus diutamakan.  Soal menang atau kalah itu didasari persiapan yang matang dan pelatihan yang maksimal,” tutup Fadli.