Benarkah Kejatuhan Rupiah Tak Perlu Dirisaukan?

JAKARTA (IndependensI.com) – Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang mengatakan kurs rupiah terhadap dollar, sekalipun anjlok misalnya sampai 20.000, tidak akan berdampak apa-apa, perlu dicermati. Mengapa ?

Sekalipun income kita dalam rupiah akan naik, dalam waktu bersamaan utang kita bertambah sebesar depresiasi tersebut. Namun tidak akan berpengaruh pada impor karena elastisitas impor kecil sekali, demikian pula tidak akan meningkatkan ekspor karena elastisitas barang ekspor.

Teori Marshall Lerner condition kalau E.x+ Em <1 maka depresiasi Rupiah terhadap dollar berapa pun tidak akan berpengaruh. Pasalnya, Elastisitas eksport maupun impor kita rendah.

Nico Sompotan

Situasi Ekonomi Indonesia sekarang ini masalah utamanya adalah defisit neraca transaksi berjalan yang disebabkan defisit neraca perdagangan dan jasa-jasa.

Seyogyanya, defisit tersebut dibiayai oleh capital inflow. Apakah dana PMA jangka panjang atau pinjaman jangka panjang.

Ternyata defisit-defisit tersebut dibiayai oleh investor dengan menggunakan dana jangka pendek dalam management portofolio.

Akibatnya, defisit transaksi berjalan ratio mencapai 3% terhadap GDP ratio. Angka ini sudah terlalu besar dari ratio standar sekitar 2 sampai 2.5 %.

Bagi investor, angka 3% terhadap GDP, sudah memasuki posisi berbahaya.
Akibatnya, para spekulan memainkan dana-dana yang masuk, dan berspekulasi, karena pasar sifatnya sudah volatile.

Masalah eksternal seperti China case terutama Argentina case hanya menambah persoalan, karena pinjaman IMF untuk mengatasi krisis sebesar 50 miliar dollar tidak mencukupi. Mereka kemudian menaikkan suku bunga.

Tentu dana yang gentayangan mencari pusat profit masuk ke Argentina, dengan pertimbangan lebih menguntungkan, termasuk juga Indonesia.

Sementara intervensi BI di pasar tidak menyelesaikan masalah dan malahmenguntungkan investor dadakan/ spekulan karena dengan rupiah yang sama akan memperoleh dolar banyak.

Solusinya, Pemerintah harus mengurangi impor secara signifikan terutama yang menyangkut infrastruktur dan barang makanan yang produksi kita mencukupi. Walaupun dinilai terlambat. Berbeda dengan situasi tahun 1998, dimana kita masih punya tabungan cukup. Ekspor Sawit, Coklat, Karet dan produksi makanan lain harganya bagus dan stocknya terjaga. Now not any more. (Nico Sompotan, praktisi bisnis)