Rapat terakhir Ku Ka dan Atase Perdagangan KBRI di Tokyo. (Foto: Dokumentasi)

Ku Ka Bawa Ribuan Produk Indonesia ke Jepang

JAKARTA (IndependensI.com) – Ku Ka, marketplace khusus produk lokal Indonesia, konsisten dengan janjinya untuk selalu berjalan maju bersama produk lokal. Jika platform online lain memudahkan masuknya produk luar ke Indonesia, Ku Ka justru baru saja menerbangkan 3.200 produk dari 30 merek lokal Indonesia.

Produk-produk ini akan dipamerkan dan diperjualbelikan dalam momen Hello 2019, Love Indonesia di SEIBU Shibuya, Jepang, 1-14 Januari 2019. Melalui proses panjang selama delapan bulan terakhir, Ku Ka mengakui membawa produk lokal menuju pasar global bukan perkara mudah.

“Kesempatan ini berawal dari ketika kami membawa enam produk lokal fesyen dan aksesoris ke Amazon Fashion Week Tokyo 2018, melengkapi koleksi (X)SML bulan Maret lalu. Setelah event tersebut selesai, kami mendapat penawaran untuk membawa produk-produk lokal Indonesia untuk pameran dan diperjualbelikan di SEIBU Jepang,” kata CEO Ku Ka Indonesia, Titonius Karto.

“Buat kami, ini kesempatan besar yang tidak layak dilewatkan untuk membesarkan produk Indonesia, walaupun kami tau tantangannya akan besar apalagi dengan timeline yang bisa dibilang mepet dan status Ku Ka sebagai perusahaan rintisan. Bermodal spirit yang sering kami gaungkan lewat tagar #saatnyalokal, kami memutuskan untuk menerima tawaran ini,” ujar salah satu pendiri perusahaan itu.

Proses kurasi contoh produk.

Tantangan

Ku Ka menyadari keputusan menerima tawaran menghadirkan produk Indonesia di SEIBU Jepang akan menjadi awal tantangan tersendiri bagi perusahaan rintisan yang berdiri sejak tahun 2015 ini.

“Sejak kami berkomitmen untuk menerima tawaran ini, kami mulai menemukan tantangan tersendiri terkait memajukan produk lokal ke pasar global. Tantangannya mulai dari kesiapan brand lokal kita sampai harus meraba dan mempelajari sistem instansi pemerintahan,” kata Titonius.

“Brand-brand yang lolos pemetaan kurasi dari segi design dan kualitas dari Ku Ka, begitu kita ajukan ke Jepang kadang terkendala oleh administrasi usaha dan sertifikasi. Ku Ka akhirnya memiliki insight baru untuk brand lokal Indonesia bahwa untuk pasar di negara maju, produk yang berkaitan dengan makanan atau bersentuhan langsung dengan kulit, sertifikasi adalah hal penting. Dalam kasus pasar Jepang, Ku Ka akhirnya memproses sertifikasi internasional untuk beberapa produk yang menurut kami layak diperjuangkan, menggunakan dana operasional sendiri,” ujarnya menambahkan.

Selain kesiapan produk lokal, Ku Ka mengaku bahwa masih harus meraba sistem pemerintahan, khususnya terkait isu produk lokal. “Awal mula peluang ini kan sebenarnya bertepatan dengan momen 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang. Sebagai perusahaan rintisan kami menyadari betul pentingnya menggandeng lembaga pemerintah dan instansi terkait,” kata Titonius.

“Namun yang kami hadapi sebenarnya cukup membingungkan. Selama ini Ku Ka cukup senang mendengar kampanye produk lokal di Indonesia dari pemerintah, namun berdasarkan pengalaman yang kami hadapi, tidak semudah itu juga untuk berjalan bersama lembaga atau instansi terkait isu produk lokal. Beberapa bulan kami mencoba untuk mendekatkan diri dan menjelaskan terkait peluang ini ke Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), namun sampai produk-produk ini diberangkatkan pun usaha kami tidak berbuah hasil.”

“Penyebabnya pun kami tidak mengetahui pasti, asumsi kami mungkin karena kami perusahaan rintisan yang namanya tidak besar seperti marketplace lain. Walaupun sebenarnya jika bicara marketplace yang mengkhususkan diri untuk produk lokal juga tidak banyak.”

“Bermodalkan surat keterangan dari Atase Perdagangan KBRI Tokyo mengenai proyek Hello 2019, Love Indonesia, kami berhasil mendapat surat keterangan dari Kementerian Perdagangan terkait mengirimkan produk kopi. Pengiriman lainnya kami urus melalui ekspor biasa melalui kerjasama dengan Garuda Cargo dan perusahaan jasa ekspor.”

“Kami masih belum paham dan sebenarnya menginginkan sebuah pertemuan khusus dengan pemerintah untuk mengetahui program-program yang terbuka untuk kolaborasi. Misi kami mengembangkan produk lokal tidak main-main. Isu produk lokal kami rasa harus dijawab dengan program yang lebih mendalam, tidak bisa sekedar ‘ada’. Alangkah baiknya jika terjadi sebuah kolaborasi besar dengan berbagai pihak,” kata Titonius.

 

Optimistis

Apa pun rintangan yang dihadapi, pada akhirnya Ku Ka berhasil melewatinya. Sejumlah 3.200 produk lokal telah tiba di Tokyo, Jepang pada tanggal 18 Desember 2018 lalu. Ku Ka mengaku masih tetap optimis akan kemajuan produk lokal dan akan terus mencari jalan yang tepat untuk mengembangkannya.

“Dari berdiri kami menyadari bahwa produk lokal memiliki pasarnya sendiri, unik. Kualitas dan nilai dibalik sebuah produk masih menjadi keunggulan produk-produk Indonesia. Porsi pasarnya belum besar. Di Indonesia sendiri, terlebih dengan pemasaran melalui digital, bisa dilihat serapan yang besar di marketplace justru terjadi untuk produk yang murah dan suksesnya kampanye gratis biaya pengiriman dan juga flash sale,” kata Titonius.

“Menurut kami, hal itu menandakan bahwa pasar marketplace Indonesia masih price sensitive, dengan segala kendala seperti bahan baku, infrastruktur, produk lokal saat ini akan terasa berat bermain diranah itu. Itu juga alasan kuat Ku Ka menginisiasi aktivitas offline seperti The Local Market untuk menyasar pasar yang tipenya melihat produk secara langsung, mengutamakan kualitas serta mencari keunikan dari sebuah produk.”

Ku Ka juga mengincar pasar global melalui platform www.rukuka.com. Setelah kerja sama dengan SEIBU Jepang ini, kami berharap akan ada perkembangans erapan di pasar Jepang yang bias kami layani melalui platform online. Selebihnya Ku Ka akan tetap mencari jalan lain untuk membesarkan produk lokal Indonesia justru di pasar luar, karena saat ini potensi serapan yang besar terlihat di arah sana,” ujar Tito.