Menhub Budi Karya Sumadi didampingi Dirjen Hubud Polana B Pramesti menyampaikan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono X mengusulkan nama New Yogyakarta Internasional Airport untuk bandara baru di kabupaten Kulonprogo

Sri Sultan Hamengkubuwono X Usulkan nama New Yogyakarta Internasional Airport

YOGYAKARTA (Independensi.com) Pembangunan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo disiapkan untuk menunjang pariwisata bertaraf internasional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

Untuk itu bandara baru ini disiapkan agar dapat mengakomodasi lalu lintas pesawat besar berdaya jelajah jauh dan akan dilengkapi infrastruktur penunjang untuk menjangkau lokasi-lokasi wisata tersebut.

Demikian salah satu kesimpulan rapat koordinasi dan update progress terkait pembangunan bandara baru di Yogyakarta tersebut. Rapat yang dilaksanakan di ruang VIP Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta itu dipimpin langsung oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang didampingi Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti, Dirjen Perkeretaapian, Dirjen Perhubungan Darat dan Direktur Utama PT. Angkasa Pura 1.

Menurut Menhub Budi Karya Sumadi, saat ini tengah disiapkan skenario agar bandara bisa menunjang pariwisata internasional. Di antaranya dengan menyiapkan akses jalan yang melewati daerah Candi Borobudur dan akses kereta api untuk memudahkan transportasi wisatawan dan penumpang umum.

“Nanti akan dibuat jalan ke utara melalui Sentolo sepanjang 20-30 km. Ini untuk mendukung wisata Candi Borobudur. Selain itu juga akan disiapkan jalur kereta langsung ke bandara. Jadi masyarakat di selatan Jawa bisa mencapai bandara ini dengan kereta api,” ujar Budi Karya.

Budi juga menceritakan bahwa Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X sudah mengusulkan nama bandara yaitu New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Budi menyatakan pihaknya akan memproses usulan tersebut hingga resmi menjadi nama bandara.

Sementara itu Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti juga menyatakan bandara baru Yogyakarta ini disiapkan untuk penerbangan internasional.

“Bandara ini akan mempunyai panjang runway mencapai 3.250 m x 45 m, garbarata 4 unit dan parking stand 23 slot seluas 159.140 m2. Jadi nanti bisa melayani pesawat besar seperti Boeing B777, B787, Airbus A330 dan A350 yang bisa terbang langsung ke Jepang, Korea, China, Australia dan negara-negara di Timur Tengah.

Hal ini akan memudahkan wisatawan luar negeri untuk mengunjungi obyek wisata di DIY dan Jateng. Di sisi lain, masyarakat Jateng dan DIY juga bisa melaksanakan penerbangan umroh dari bandara ini,” ujarnya.

Polana melanjutkan bahwa sampai saat ini pembangunan bandara baru Yogyakarta masih on the track. Bandara yang dalam kontraknya harus selesai pada bulan Juli 2020 ini ditargetkan bisa selesai secara keseluruhan dan bisa dioperasikan pada akhir tahun 2019.

Terkait masalah potensi tsunami yang bisa melanda bandara yang letaknya berada di tepi Samudera Hindia ini, juga sudah dilakukan antisipasi dan mitigasi baik secara struktur maupun operasional. Untuk itu akan dilakukan kerjasama dengan para ahli tsunami dari Jepang, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Level 1 bandara nantinya akan dibuat dengan struktur dan arsitektur yang fleksibel sehingga jika diterjang tsunami, para penumpang dan pengguna bandara akan segera bisa menghindar ke level 2 yang tingginya 8 meter dari level 1.

Selain itu lahan-lahan di seputar bandara yang berbatasan dengan pantai akan ditanami pohon dan dibuat gundukan tanah sehingga bisa mengurangi  kekuatan tsunami yang menerjang.