Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan kawasan pengembangan tambak ikan kakap putih pertama di Indonesia. Kabupaten Pinrang dan Maros Provinsi Sulawesi Selatan terpilih sebagai lokasi pertama program ini. Humas Budidaya KKP

KKP Launching Kawasan Tambak Kakap Putih Pertama

MAKASSAR (Independensi.com) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan kawasan pengembangan tambak ikan kakap putih pertama di Indonesia. Kabupaten Pinrang dan Maros Provinsi Sulawesi Selatan terpilih sebagai lokasi pertama program ini. Untuk mendukung program tersebut, sepanjang tahun 2018-2019 sebanyak 1,08 juta ekor benih ikan kakap putih telah disalurkan kepada kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) di Pinrang dengan luas kawasan 1.068 ha dan 384 ribu ekor benih kakap putih di Maros di kawasan seluas 300 hektar. Setidaknya sebanyak 1.950 ton ikan kakap putih diharapkan kedepan dapat diproduksi dari kawasan ini tiap tahunnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam arahannya pada kegiatan tersebut (Rabu 10/07) mengatakan bahwa program peningkatan produksi perikanan budidaya berbasis kawasan dengan komoditas andalan terus digalakkan oleh KKP. Hal ini terang Slamet, tidak terlepas dari komitmen KKP untuk terus menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam kegiatan budidaya sekaligus sebagai strategi peningkatan produksi ikan nasional.

Pengembangan perikanan budidaya berbasis kawasan lanjut Slamet, akan memberikan manfaat baik secara lingkungan, manajemen maupun pemasaran.

“dengan konsep kawasan, prinsip-prinsip budidaya berkelanjutan akan lebih mudah diterapkan. Kelompok dapat menjaga lingkungan budidayanya. Tata letak tambak, inlet dan outlet, tandon, IPAL atau pengolahan air limbah, bio security, pemeliharaan hutan mangrove untuk green belt termasuk manajemen pengelolaan secara berkelompok jauh lebih mudah dapat dilakukan secara kolektif. Dengan kerja kelompok berbasis kawasan, petambak tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mengutamakan keberhasilan secara kawasan sehingga tambak yang satu harus memperhatikan juga milik tetangganya”, terang Slamet.

“budidaya berbasis kawasan juga akan memudahkan dalam memasarkan produk melalui pengaturan waktu penebaran dan panen, ada polanya kapan waktu tebar dan panen secara terus menerus, sehingga pasokan pasar dapat terpenuhi sesuai kuota dan kualitasnya terjamin, ini akan memudahkan pemasarannya. Jika ini terjadi maka yakinlah pembeli yang akan datang kesini”, lanjutnya.

“selain itu, pengembangan budidaya berbasis kawasan dengan komoditas andalan selain udang, misalnya kakap putih dan nila salin juga dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyakit guna mengembalikan kualitas tanah dan lingkungan tambak terutama terhadap tambak-tambak idle eks budidaya udang yang kualitasnya sudah menurun akibat penyakit sehingga tambak idle ini kembali produktif dan kegiatan ekonomi masyarakat terus berlanjut”, Slamet kembali melanjutkan.

Pemerintah terangnya, akan terus berupaya untuk melakukan diversifikasi dan memilih berbagai komoditas yang tepat dan potensial dikembangkan di tambak-tambak idle seperti kakap putih sehingga dapat mencegah pengangguran.

Disinggung dipilihnya Kabupaten Pinrang dan Maros sebagai lokasi pengembangan kawasan kakap putih, Slamet menyebut karena kabupaten ini memiliki potensi lahan tambak yang luas, jumlah pembudidaya yang banyak dan tambak idle yang kurang produktif cukup luas. Potensi budidaya payau di Kabupaten Pinrang kurang lebih 15.814 Ha dan di Maros seluas 12.000 Ha yang dimanfaatkan untuk budidaya udang, bandeng dan rumput laut. Namun, dalam perkembangannya budidaya udang mengalami stagnasi dan cenderung mengalami penurunan produksi akibat menurunnya kualitas lahan tambak dan serangan penyakit.

“selain kawasan kakap putih, sebelumnya sudah terbentuk kawasan budidaya nila salin di Kabupaten Pati Jawa Tengah dari luas 400 ha, awal tahun 2019 berkembang menjadi 600 ha dan kini telah mencapai 700 ha, saat ini kita susuli juga dengan pengembangan kawasan dengan komoditas-komoditas lainnya yang kita anggap prospektif dan menguntungkan seperti ikan kakap putih”, terang Slamet.

“mengapa kakap putih, kita sudah budidaya udang berpuluh-puluh tahun, sehingga kualitas tanah sudah sangat menurun dan terjangkit penyakit, dengan budidaya kakap putih ini maka diharapkan dapat memutus rantai penyakit. Keong, teritip, cacing, kepiting dan berbagai hewan renik lainnya yang sudah terkontaminasi penyakit dan menjadi carrier penyakit virus yang mematikan udang menjadi makanan alami bagi kakap putih, dengan begitu tambak berangsur-angsur menjadi pulih dan bebas penyakit udang”, lanjutnya.

“Keunggulan lain budidaya kakap putih di tambak yakni tidak membutuhkan pakan buatan, ini sesuai dengan pesan Bu Menteri, Bu Susi, agar budidaya ikan dapat dilakukan tanpa pakan buatan, oleh sebab itu kita memakai teknologi alami dengan memanfaatkan rantai makanan di alam dan kepadatan rendah. Makanan utama kakap putih di tambak  anakan ikan nila, yang sudah disiapkan dan berkembang biak di tambak itu sebelum penebaran benih kakap putih”, rinci Slamet.

Keunggulan lain ikan kakap putih yaitu memiliki sifat eurohalin, mampu hidup pada rentang salinitas luas yakni 0-45 promil, sehingga sangat tepat dikembangkan di pertambakan.

Selain teknis, secara ekonomi juga menjadi pertimbangan, “ikan kakap putih memiliki pangsa pasar yang cukup baik di Sulawesi Selatan maupun daerah lain di Indonesia. Dengan kualitas daging yang baik, pertumbuhan yang cepat dan relatif tahan terhadap penyakit menjadikan kakap putih sebagai komoditas andalan budidaya. Harganya pun cukup tinggi Rp. 50.000/kg sehingga sangat menguntungkan. Saya optimis program ini akan berhasil”,  terang Slamet.

Slamet juga menjelaskan bahwa kakap putih termasuk jenis ikan daging putih sehingga sangat potensial untuk kebutuhan ekspor mengingat kecenderungan konsumsi daging putih masyarakat dunia terus meningkat.

Selain dukungan benih, KKP juga akan melakukan pembinaan dan pendampingan kepada pokdakan untuk penguatan kelembagaan dan peningkatan kemampuan manajemen dan teknis pembudidaya.

“tidak hanya bantuan benih saja, KKP juga akan mendampingi kelompok dan anggotanya sampai memiliki kemampuan manajemen maupun teknis yang cukup dalam berbudidaya ikan kakap putih, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat, kawasan budidaya kakap putih ini terus berkembang dan kelak dapat menjadi andalan dan pusatnya produksi ikan kakap putih”, jelas Slamet optimis.

Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar dan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon lanjut Slamet, ditunjuk sebagai penanggung jawab program ini seiring dengan bertambahnya fasilitas dan kemampuan produksi hatchery yang dimiliki.

“tahun ini ada 5 unit hatchery tambahan dengan teknologi budidaya sistem resirkulasi (RAS) untuk kegiatan pendederan benih ikan konsumsi termasuk kakap putih mulai beroperasi di BPBL Ambon. Kapasitas produksi benih meningkat mencapai 3 Juta ekor per tahun. Fasilitas dan kemampuan ini siap untuk mendukung pengembangan kawasan budidaya di berbagai daerah”, tambah Slamet.

Slamet juga mendorong agar daerah-daerah lain dapat mengembangkan kawasan-kawasan budidaya serupa dengan komoditas andalan masing-masing. “tidak hanya Pinrang dan Maros, kabupaten lain seperti Pangkep dan Jeneponto juga akan kita dorong sebagai kawasan budidaya kakap putih”, keduanya di Sulawesi Selatan kata Slamet.

“kedepannya, harapan kami bahwa budidaya berbasis kawasan dengan komoditas andalan dan spesifik ini bisa menjadi trend di daerah potensial di seluruh Indonesia, ada kawasan budidaya windu, nila salin, bandeng, vaname dan lainnya”, harap Slamet.

Komoditas lainnya yang potensial dikembangkan menurut Slamet yakni nila salin. “nila salin ini memiliki keunggulan spesifik, sisiknya mampu menghasilkan bakteri positif yang dapat berperan sebagai kompetitor bakteri negatif yang dapat mematikan udang”, ujarnya.

Slamet kembali menegaskan bahwa potensi ekonomi budidaya tambak ini sangatlah besar yang dapat dijadikan salah solusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“bayangkan, jika potensi budidaya tambak udang yang sekitar 3 juta hektar itu, kita manfaatkan 500 ribu hektar saja dengan produksi kakap putih rata-rata 1,5 ton per ha, maka  akan ada tambahan produksi 750 ribu ton dari kakap putih. Jika harga per kg rata-rata Rp. 50 ribu, maka nilai ekonominya Rp. 37,5 triliun atau USD 2,68 milyar (kurs USD 1 = Rp. 14.000), ini sangat luar biasa”, pungkas Slamet optimis.

Abdul Warih, pembudidaya ikan kakap putih dan udang Windu di Pinrang menceritakan pengalamannya berbudidaya kakap putih, ternyata menurutnya kakap putih bisa dibudidayakan di tambak, bersama komoditas bandeng dan udang atau polikultur.

“jika sebelum dari tambak kami hanya panen 300 kg udang windu dan bandeng 150 kg. Sekarang, tanpa sentuhan teknologi setidaknya kami mendapatkan tambahan minimal 300 kg kakap putih, disini kami jual dengan Rp. 50 ribu per kilo, jadi ada tambahan pendapatan Rp. 15 juta setiap panen” ungkap Warih.

“selain itu, udang windu kami juga semakin sehat, tumbuh lebih cepat dan ukuran panennya lebih besar”, tambahnya.

“kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khsususnya KKP yang terus berupaya mencarikan solusi bagi permasalahan tambak kami, sehingga tambak kami terus beroperasi, kami punya pekerjaan, tidak nganggur dan terus bisa punya penghasilan”, ucap Warih penuh syukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *