Panitia Kerja Sarana dan Prasarana Kelautan Perikanan Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi, Jumat (12/07). Humas Budidaya KKP

Komisi IV DPR RI Apresiasi Kinerja BPBAT Jambi dalam Penyediaan Induk dan Benih Ikan untuk Masyarakat

JAMBI (Independensi.com) – Panitia Kerja Sarana dan Prasarana Kelautan Perikanan Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi, Jumat (12/07). Kunker ini untuk melihat secara langsung infrastruktur sarana dan prasarana ataupun fasilitas seperti kolam pendederan dan pembesaran, bioflok nila, pabrik pakan, tandon air serta ketersediaan indukan, calon induk dan benih ikan milik BPBAT Jambi dan menyerap aspirasi stakeholder termasuk pokdakan dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas mutu kesehatan ikan air tawar. Hadir dan turut serta mendampingi antara lain Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Mutu Jambi, perwakilan dinas kabupaten/kota se-Provinsi Jambi dan pembudidaya ikan penerima bantuan sarana prasarana budidaya ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sambutannya mengatakan bahwa BPBAT Jambi memliki tugas pokok dan posisi strategis untuk mendukung ketersediaan benih, calon induk, dan induk ikan air tawar bagi masyarakat khususnya pembudidaya ikan di pulau Sumatera. Selain itu, balai ini juga memiliki tugas untuk menyalurkan bantuan-bantuan seperti benih ikan, pakan ikan, sarana prasarana pembenihan kepada unit-unit pembenihan rakyat (UPR) maupun untuk pembesaran, minapadi, budidaya ikan sistem bioflok dan bantuan pendampingan teknis.

“balai Jambi ini mampu memproduksi berbagai calon induk dan benih ikan seperti nila, baik nila merah maupun JICA atau nila Jepang, patin, gurame, dan ikan-ikan spesifik lokal seperti jelawat, nilem, semah dan ikan hias seperti botia, arwana Jambi dan super red, maupun ikan Sumatera”, terang Slamet.

BPBAT Jambi kata Slamet, merupakan salah satu UPT air tawar Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan produksi calon induk maupun benih ikan cukup besar seperti benih ikan Nila sebanyak 2.000.000 ekor, mas 1.200.000 ekor dan patin 2.200.000 ekor setiap tahunnya. Distribusi benih ikan tersebut meliputi seluruh Sumatera seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Aceh dan Jambi.

“selain itu, balai ini juga memiliki pabrik pakan mandiri dengan kapasitas  1 ton per jam, dengan target produksi pada tahun 2019 ini sebanyak 140 ton, sebagian akan diperuntukkan untuk bantuan kepada masyarakat. Dengan adanya bantuan-bantuan seperti pakan mandiri, benih ikan, budidaya ikan minapadi dan bioflok maupun bantuan lainnya dampaknya telah nyata dapat dirasakan”, ujar Slamet.

“dampak tersebut tampak dari pendapatan rata-rata pembudidaya mengalami kenaikan yakni dari Rp. 3,03 juta per bulan pada tahun 2017 menjadi Rp. 3,39 juta per bulan di tahun 2018 atau naik 8,9 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan pembudidaya ikan jauh lebih besar dibandingkan dengan UMR Nasional sebesar Rp. 2,26 juta”, lanjut Slamet.

“Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) sebagai indikator daya saing pembudidaya ikan juga terus naik menjadi 102 pada bulan Juni 2019 lalu. Angka di atas 100 Ini menunjukkan pendapatan pembudidaya ikan lebih besar dari pengeluarannya. Sedangkan nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) pada bulan Juni 2019  lalu telah jauh di atas angka 100 yaitu mencapai 114.60 artinya prospek usaha perikanan budidaya semakin membaik dan efisien”, terang Slamet merujuk data yang dikeluarkan BPS.

Sejumah prestasi yang telah dicatatkan perikanan budidaya terang Slamet,  tidak terlepas dari support komisi IV DPR RI sebagai mitra kerja KKP dan juga adanya kerjasama baik dengan pemerintah daerah termasuk provinsi Jambi.

“atas dukungan Komisi IV DPR RI, baik anggaran maupun dukungan terhadap program-program prioritas yang dilakukan oleh KKP kami ucapkan terima kasih. Begitu juga kepada pemerintah provinsi dan kabupaten yang telah bekerja keras bersama-sama kami untuk pembangunan perikanan budidaya demi kesejahteraan pembudidaya”, ucapnya.

Namun demikian, Slamet menyampaikan bahwa pembangunan perikanan budidaya akan terus dilakukan dan ditingkatkan seiring dengan naiknya target produksi sebagai konsekuensi atas semakin meningkatnya kebutuhan pangan berbasis protein hewani terutama ikan.

“wilayah kerja balai ini sangat luas yakni se-pulau Sumatera, oleh karena itu kami mengharapkan dukungan dari berbagai pihak khususnya Komisi IV untuk pembangunan instalasi-instalasi pembenihan ikan milik balai guna mendekatkan pusat-pusat perbenihan ke sentra pembesaran ikan milik masyarakat”, kata Slamet.

“mendekatkan sentra pembenihan ke sentra pembesaran memiliki arti yang sangat strategis karena akan mampu mempercepat distribusi benih ikan dan menurunkan biaya angkut atau pengirimannya. Dengan begitu, biaya produksi akan bisa ditekan dan pendapatan masyarakat semakin meningkat”, jelasnya.

“saat ini kami sedang mempersiapkan pembangunan instalasi milik BPBAT Jambi di  Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat seluas 30 hektar dan di Kabupaten Musirawas Sumatera Selatan seluas 40,9 hektar. Semoga dengan dukungan dari komisi IV pembangunan ini dapat berjalan lancar, sehingga kedepan kebutuhan benih, calon maupun induk ikan bagi masyarakat makin terpenuhi guna mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya”, harap Slamet.

Kepada pembudidaya penerima bantuan Slamet berpesan agar bantuan-bantuan dapat dimanfaatkan dengan maksimal sehingga hasilnya benar-benar dapat dirasakan khususnya mampu meningkatkan kesejahteraan.

“jika dimanfaatkan dengan benar dan sesuai aturan, saya yakin bantuan ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Sebagai contoh, bantuan pakan mandiri jika dimanfaatkan dengan benar, maka akan menurunkan biaya produksi hingga 30-40%, tentu ini akan menjadi faktor pengungkit meningkatnya pendapatan pembudidaya”, ucapnya.

Sementara itu, Salim Fakhry, Ketua Tim Kunker Komisi IV menjelaskan bahwa kunker kali ini selain untuk melihat secara langsung infrastruktur sarana dan prasarana BPBAT Jambi dan menyerap aspirasi stakeholder juga sebagai dukungan DPR RI khususnya Komisi IV terhadap pembangunan perikanan  budidaya “Kami ingin memastikan bahwa pembangunan perikanan berjalan baik dan berdampak  langsung terhadap perekonomian masyarakat” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara tersebut.

“jika kita lihat produksi perikanan budidaya di Indonesia, pada tahun 2019 Triwulan 1 tercatat naik sebanyak 3,03% atau sebesar 4,65 juta ton dibandingkan dengan tahun 2018 Triwulan 1 sebesar 4,56 juta ton. Dan jika dibandingkan dengan waktu yang sama, produksi perikanan tangkap hanya mencapai 1,9 juta ton. Artinya produksi perikanan budidaya sudah mendahului di atas produksi perikanan tangkap”, ucapnya.

“sebagai apresiasi kami kepada pembudidaya provinsi Jambi, kami berkomitmen untuk terus membantu masyarakat khususnya pembudidaya ikan di Jambi agar usahanya semakin maju, dengan mendorong KKP menyalurkan bantuan-bantuannya kesini”, tutupnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *