Ketua Garda Santri Gresik Fandi Ahmad Yani (berpeci) dan Ketua DKC Garda Bangsa Gresik menunjukan bentuk vlog yang akan dilombakan

Lawan Radikalisme, Kaum Milenial Gresik Diajak Ngevlog Cinta Tanah Air

GRESIK (Independensi.com) – Untuk menangkal tumbuh dan berkembangnya gerakan radikalisme, Garda Santri Kabupaten Gresik Jawa Timur menggelar lomba membuat vlog. Dengan mengangkat tema, santri millenial cinta tanah air.

“Tujuan diadakannya lomba membuat vlog ini, untuk mengedukasi para santri di Kabupaten Gresik. Agar mampu mengapresiasikan wujud cintanya, pada tanah air. Melalui sebuah karya, dengan memanfaatkan perangkat teknologi digital yang berkembang saat ini,” kata, Ketua Garda Santri Gresik, Fandi Akhmad Yani, Kamis (3/10).

“Kegiatan ini, merupakan rangkaian dari memperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober 2019. Sehingga, kami berharap akan muncul santri-santri milenial yang mampu bersinergi dengan perkembangan zaman yang serba digital ini,” ujarnya.

Di tambahkan Yani, lomba membuat vlog ini merupakan kegiatan yang murni atas inisiatif dari Garda Santri Gresik. “Lomba vlog ini, baru pertama kali diselenggarakan dan belum ada daerah lain yang mengelar kegiatan seperti ini,” tuturnya.

“Kami berharap lewat kegiatan ini, akan bisa kita ketahui kreatifitas dari para santri dalam memanfaatkan prangkat teknologi digital yang identik dengan kaum milenial. Serta, kedepan para santri harus bisa menunjukan eksistensinya agar menjadi pemimpin bangsa,” tandasnya.

Sementara, Ketua DKC Garda Bangsa Kabupaten Gresik, Sholahuddin Al Ayyubi menegaskan alasan lomba vlog cinta tanah air ini. Untuk mengajak para santri di Gresik, agar tidak muda terpengaruh oleh gerakan radikalisme yang gencar mempengaruhi kaum milenial.

“Gerakan radikalisme sudah mulai tumbuh diwilayah Kabupaten Gresik, bahkan aktifitasnya sudah berani terang-terangan dilakukan. Untuk itu perlu diwaspadai, agar gerak-geriknya tidak menjadi masif dan terstruktur,” ucapnya.

“Untuk bisa mengikuti lomba membuat vlog ini, syaratnya adalah kaum milenial. Seperti, santri Pondok Pesantren (Ponpes) maupun pelajar yang berdomisili di Kabupaten Gresik. Dengan dibuktikan melalui identitas diri, baik melalui KTP atau artu pelajar/santri,” pungkasnya. (Mor)