Jajaran Direksi PG saat memperkenalan desain kemasan baru pupuk non subsidi dan produk pupuk baru

Agar Mudah Dikenali PG Perbarui Desain Kantong Pupuk Non Subsidi

GRESIK (Independensi.com) – PT Petrokimia Gresik (PG) anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), yang mendedikasikan diri sebagai perusahaan solusi agroindustri. Meluncurkan pupuk retail komersil, NPK Petro Ningrat serta kantong pupuk non-subsidi dengan desain baru.
Direktur Utama PT PG, Rahmad Pribadi, menjelaskan bahwa perusahaan saat ini sedang melakukan transformasi bisnis dengan sasaran untuk memperluas pangsa pasar (market share) dan menjadi pemain utama (dominant player) di sektor retail komersil.
“Kami ingin memperkuat barisan produk komersil kami, dimana saat ini Petrokimia Gresik baru menguasai sekitar 10-15 persen market share pupuk NPK retail komersil di Indonesia,” ujarnya, Senin (25/11).
“Upaya memperkuat pasar retail komersil ini adalah strategi Petrokimia Gresik, untuk menghadapi kemungkinan berubahnya kebijakan pemerintah dimana wacana pengalihan subsidi pupuk semakin kuat. Sehingga, Petrokimia Gresik harus siap bersaing di pasar komersil,” katanya.
“Kami adalah produsen pupuk NPK pertama, terbesar, dan berpengalaman di Indonesia. Sejak tahun 2000 hingga kini, kami telah memiliki 8 unit pabrik NPK dengan kapasitas produksi 2,7 juta ton per tahun,” tuturnya.
Di tambahkan Rahmad, pupuk yang diluncurkan PG adalah NPK Petro Ningrat 12-11-20 dengan kemasan 20kg. Pupuk itu, secara spesifik diperuntukan bagi tanaman perkebunan, hortikultura, dan umbi, seperti tembakau, kentang, cabai, bawang merah, tomat, serta buah-buahan.
“Dengan adanya produk baru, akan semakin melengkapi varian pupuk NPK Petrokimia Gresik. Jika sebelumnya perusahaan telah memiliki pupuk NPK Phonska Plus, untuk sektor tanaman pangan dan NPK Kebomas untuk sektor perkebunan korporasi maupun ekspor dengan beragam formulasi sesuai kebutuhan konsumen,” tegasnya.
“Berdasarkan hasil uji coba, NPK Petro Ningrat dapat meningkatkan hasil panen tanaman perkebunan antara 10 hingga 37 persen. Hal itu dibuktikan saat aplikasi NPK Petro Ningrat pada tanaman kentang di Kota Batu (Jawa Timur). Mampu menghasilkan 41,25 ton per hektare, atau meningkat 37 persen,” ungkapnya.
“Kemudian uji coba tembakau di Kabupaten Jember, mampu menghasilkan panen 1,6 ton per hektar dan di Lombok NTB mampu menghasilkan 1,5 ton per hektar. Sedangkan pada tanaman bawang merah di Kabupaten Nganjuk, mampu menghasilkan 18 ton per hektar,” lanjutnya.
“Dalam uji coba tersebut, NPK Petro Ningrat diaplikasikan bersama dengan pupuk organik Petroganik dan ZA. Sebab, NPK Petro Ningrat mengandung Nitrogen dalam bentuk Nitrat dan rendah chlor. Keunggulannya mampu memperbaiki aroma, warna, rasa dan kelenturan dari daun tembakau.
Serta, dapat membuat tanaman lebih tegak dan kokoh; merangsang pembentukan umbi dan buah. Sehingga, cocok digunakan untuk lahan kering dan jenis pupuknya yang mudah larut dalam air sehingga mudah diserap tanaman,” pungkasnya. (Mor)