Ilustrasi. Budayawan Betawi Ridwan Saidi. (Ist)

Diiingatkan! Ridwan Saidi Jangan Sakiti Lagi Warga Sunda

TASIKMALAYA (Independensi.com) – Tokoh masyarakat dan budayawan Sunda, Anton Charliyan mengingatkan budayawan Betawi Ridwan Saidi untuk tidak menyakiti masyarakat Sunda untuk kedua kalinya.

Anton menanggapi pernyataan Ridwan baru-baru ini yang menyatakan bahwa di Ciamis tidak ada Kerajaan. Padahal, berbagai bukti sejarah dan hasil riset menunjukkan bahwa Ciamis adalah pusat Kerajaan Galuh di masa lampau.

Selain itu, Ridwan juga menyebut Galuh artinya brutal.

Beberapa waktu lalu, Ridwan juga menyatakan  bahwa Kerajaan Tarumanagara yang menurut catatan sejarah pernah berjaya di Jawa Barat, adalah fiktif alias tidak ada.

“Bung Ridwan Saidi jangan sakiti warga Sunda untuk kedua kalinya! Bung Saidi ini kami amati  sudah dua kali bikin gara-gara dengan masyarakat Sunda. Saya ingatkan dengan sangat tolong jangan sakiti saudara-saudara kami warga Sunda utk kedua kalinya!” tegas Anton kepada Gesuri, baru-baru ini.

Anton mengakui, ilmu sejarah memang adalah ilmu sosial yang dinamis. Tapi dia mengingatkan Ridwan Saidi untuk tidak sembarangan berbicara tentang sejarah.

“Karena masalah sejarah ini tidak hanya sekedar sebuah science, tapi didalamnya sudah bercampur dengan kehormatan, harga diri prestise , kebanggan, nasab keturunan, mitos , legenda , dan kepercayaan-kepercayaan yang masih kuat hidup ditengah-tengah masyarakat Indonesia , seperti nama Prabu Siliwangi di Jabar, Sisingamangaraja di Sumut, Patih Gajahmada di Jawa dan sebagainya. Sehingga bila ada suatu temuan baru pun harus super hati-hati, bijak dan santun dalam menyampaikannya, ” papar Anton.

Anton, yang juga mantan Kapolda Jawa Barat ini melanjutkan, seseorang boleh saja punya pendapat yang berbeda. Dan perbedaan pendapat itu harus dihargai.

Namun, Anton mengingatkan untuk tidak merasa diri paling  benar dan paling pintar

“Sekarang kita pun sebagai masyarakat Sunda boleh juga bertanya,  sampai dimana sih kadar kesahihan dan kebenaran pendapat yang bung Saidi sampaikan tersebut? Apakah sudah teruji pasti kebenaran dari sisi akademisnya, dan apakah sudah diakui kajiannya  oleh publik atau masyarakat akademisi ? Jika belum,  jangan ‘Asap’ atau Asal Cuap saja, apalagi bung Saidi katanya dikenal sebagai Budayawan senior,  yaa caranya yang santun dan berbudaya dong, sehingga bisa jadi teladan bagi budayawan-budayawan muda,” tegas Anton.

Anton pun mengingatkan Ridwan Saidi agar di usia senjanya kini tidak semakin ‘nyeleneh’ dan gemar membuat kontroversi. Dia juga mengingatkan dengan sangat agar Ridwan tidak membuat masyarakat Sunda yang dikenal ramah dan santun ini marah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *