Rudolf Naibaho. (Istimewa)

Kreatifitas Kunci “New Hunter” Hadapi New Normal

JAKARTA (Independensi.com) – Daya letup Corona Covid-19 begitu luar biasa meluluhlantakkan seluruh sendi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Ancaman resesi ekonomi sungguh berada di pelupuk bagi siapa saja yang enggan memutar otak dan kreativitasnya, tak sekadar untuk bertahan namun mampu melalui masa sulit ini.

Survival of the fittest, begitulah Charles Darwin mengungkap frasa tersebut untuk menggambarkan seleksi alam, termasuk pandemi covid 19 yang sedang menghantui kita. Semangat dan optimisme itu pula yang terwakili dari suatu aktivitas di sebuah public house atau familiar kita kenal dengan sebutan pub yang berlokasi di jalan DI. Panjaitan, Cipinang Besar Selatan, Cawang Bawah, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

Akhir pekan lalu, sekelompok orang terlihat bekerjasama begitu serius mempersiapkan sebuah pertunjukan yang akan dipertontonkan ke masyarakat luas. Setiap individu di ruangan berukuran kurang lebih 8 x 15 meter itu mengambil peran dan fungsinya masing-masing.

Satu sosok yang begitu menonjol di antara mereka adalah seorang laki-laki yang sejak tadi tak berhenti memberi teguran, arahan, masukan maupun motivasi kepada orang-orang di sekelilingnya yang rata-rata berusia muda. “Sebentar lagi kita live streaming” bisik pria itu sembari menunjuk waktu di jam tangannya yang sudah mendekati pukul 20.00 Wib.

Rudolf Naibaho, demikian nama pria yang tak lain adalah pemilik pub bernama ‘New Hunter’ tersebut. Ia mengisahkan bahwa dampak dari Covid 19 sesungguhnya di satu sisi menstimulasi energi dan kreatifitas mereka untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini sudah menjadi bagian dari keseharian, yakni menghibur masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat Batak yang berkunjung ke New Hunter.

“Sejak 4 Juni lalu kita resmi tampil live streaming setiap hari Kamis di facebook dan juga diviralkan ke youtube dengan nama New Hunter Chanel,” tutur Rudolf. New Hunter Chanel yang mengusung kombinasi genre musik aliran slow rock, pop, rohani, Batak serta disajikan lewat penampilan akustik, full band, maupun instrumental, semakin mendapat perhatian atau animo dari masyarakat luas.

Itu tergambar dari angka viewer maupun subscriber yang terus melonjak mencapai angka belasan hingga puluhan ribu. “Sebelumnya kami hanya disaksikan puluhan orang di dalam pub. Saat ini dan kedepan kami ditonton belasan ribu orang,” ucapnya optimistis.

Bangkit dan Berlari

Diakui Rudolf, lompat dari zona nyaman ke sebuah kebiasaan baru bukanlah sesuatu yang mudah. Menghadapi situasi ketidakpastian di tengah pandemi Covid 19 seperti saat ini dibutuhkan suatu sikap yang menuntut komitmen dan pengorbanan besar.

Menghidupi 40-an karyawan-karyawati New Hunter dalam kondisi ancaman resesi disadari pria kelahiran Pematang Siantar ini merupakan sebuah keputusan dan risiko yang sangat besar. Padahal ia tahu di pihak lain banyak perusahaan justru merumahkan dan bahkan mem-PHK (pemutusan hubungan kerja) karyawan-karyawatinya.

“Saya berani mengambil risiko karena saya tahu satu per satu karakter teman-teman. Selama ini saya tanamkan kepada mereka bahwa bekerja adalah ibadah dan hidup jadi berkat,” tutur Rudolf.

New Hunter dikatakan Rudolf adalah sebuah wadah bagi berkumpulnya orang-orang dengan latar belakang suku, agama yang berbeda-beda namun disatukan oleh prinsip bekerja dengan hati bersih, pemikiran bersih dalam mencapai satu tujuan.

“Orang-orang yang bekerja di sini sudah dipastikan berkarakter dan berintegritas. Kami menciptakan lingkungan kekeluargaan yang saling menopang sehingga sangat membantu kami berkretativitas,” imbuhnya.

Pendidikan karakter yang sudah dibangun selama ini menurut Rudolf justru teruji di masa Corona. Setiap individu didorong mengeluarkan kemampuan terbaik dari dalam diri mereka dan bertransformasi menjadi sosok dengan kemampuan multitasking alias memiliki keterampilan dalam mengerjakan beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan.

Oleh karenanya tidak heran bila menyaksikan seseorang mampu menjalani berbagai peran setiap kali ‘New Hunter’ menggelar live streaming.

Nani Yusman misalnya. Wanita separuh baya yang selama ini mendapat kepercayaan besar dari Rudolf sebagai koordinator pelayanan, talent scout, termasuk koki di dapur, kini justru bertambah perannya dan diberdayakan menjadi master of ceremony (MC) sekaligus penyanyi di live streaming ‘New Hunter Chanel’.

“Awalnya saya minder. Tapi kami selalu dimotivasi sampai akhirnya terbiasa,” kata Nani yang mendapat julukan ‘Ibu Segala’ karena keterampilan di berbagai bidang yang dimilikinya.

Meski sang pemilik mendorong karyawannya memiliki kemampuan multitasking, namun setiap detail proses pekerjaan hingga dipersembahkan dalam wujud penampilan, dilakukan secara team work dengan output optimal layaknya pekerja profesional.

“Ini bukan coba-coba. Yang kami lakukan adalah mengeluarkan kemampuan terbaik yang kami miliki. Hasilnya jauh dari kata mengecewakan. Respon positif masyarakat mewakili kerja keras kami,” jelas Rudolf.

Ia pun mengungkap salah satu target yang akan dicapai dalam waktu dekat adalah mempersembahkan kepada masyarakat luas lagu-lagu baru, hasil ciptaan para musisi-musisi ‘New Hunter’. Setidaknya ada 28 lagu yang telah disiapkan dan segera dirilis ke masyarakat lewat penampilan di live streaming maupun di New Hunter Chanel.

Rudolf berharap lagu-lagu baru tersebut mampu menjadi referensi dalam mewarnai dunia musik Tanah Air, terkhusus bagi masyarakat Batak di mana pun berada. “Situasi sulit ini melecut kami untuk bangkit dan berlari,” tutupnya.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *