Presiden AS Josef R Biden yang baru dilantik

Vatikan Harapkan Perdamaian dan Rekonsiliasi di Amerika Serikat

VATICAN CITY (Independensi.com) – Kepala Negara Vatikan, Paus Fransiskus, mengharapkan, Amerika Serikat untuk tetap mengedepankan etika politik di dalam upaya memancarkan perdamaian, rekonsilitasi dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Kantor Berita Nasional Vatikan, Vaticannews.va, Kamis, 21 Januari 2021, menyampaikan Paus Fransiskus, secara khusus sehubungan pergantian kepemimpinan nasional di Amerika Serikat dari Donald John Trump kepada Josef R Biden, Rabu, 20 Januari 2021.

Josef R Biden dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat ke-46 dan Kamala Harris dilantik menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat ke-49. Kamala Harris menggantikan Mike Pence.

“Pada kesempatan pelantikan Anda sebagai Presiden keempat puluh enam Amerika Serikat, saya menyampaikan ucapan selamat dan jaminan doa saya bahwa Tuhan Yang Mahakuasa akan memberi Anda kebijaksanaan dan kekuatan dalam menjalankan jabatan tinggi Anda,” pesa Paus Fransiskus.

Sebelum pelantikan Joseph R Biden dan Kamala Harris, pada 6 Januari 2021, ketika Kongres mengesahkan hasil pemilihan presiden, pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC, menduduki gedung selama beberapa jam. Paus Fransiskus mengecam tindakan kekerasan ini pada misa Angelus, Minggu, 10 Januari 2021.

Dalam pesannya kepada Presiden Biden pada hari Rabu, Paus Fransiskus mengungkapkan harapannya bahwa, “Di bawah kepemimpinan Anda, semoga rakyat Amerika terus mendapatkan kekuatan dari nilai-nilai politik, etika dan agama yang luhur yang telah menginspirasi bangsa sejak didirikan tahun 1776.”

Presiden Joe Biden telah menjabat sebagai negara yang terus memerangi salah satu krisis Corona Virus Disease-19 (Covid-19) terbesar di dunia.

“Pada saat krisis besar yang dihadapi keluarga manusia kita membutuhkan tanggapan yang berpandangan jauh ke depan dan bersatu,” tulis Paus Fransiskus.

“Saya berdoa agar keputusan Anda akan dipandu oleh kepedulian untuk membangun masyarakat yang ditandai dengan keadilan dan kebebasan otentik, bersama dengan penghormatan yang tiada henti terhadap hak dan martabat setiap orang, terutama yang miskin, yang rentan, dan mereka yang tidak memiliki suara. ”

Mengakhiri pesannya, Paus Fransiskus menulis, “Saya juga meminta kepada Tuhan, sumber dari semua kebijaksanaan dan kebenaran, untuk membimbing upaya Anda untuk mendorong pemahaman, rekonsiliasi dan perdamaian di Amerika Serikat dan di antara negara-negara di dunia untuk kemajuan universal, kebaikan bersama. Dengan perasaan ini, saya dengan rela memohon kepada Anda dan keluarga Anda serta rakyat Amerika yang terkasih banyak berkat. ”

Demi mengedepankan etika politik di dalam upaya memancarkan perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan universal, Vatikan menggelar konferensi bertema: “Religious Radicalism: Christian And Muslim Understanding And Responses” (Radikalisme Agama: Pandangan dan Tanggapan Umat Kristen dan Umat Islam).

Konferensi digelar secara virtual dengan tuan rumah Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue) yang diprakarsai Vatikan, 26 – 27 Januari 2021.

Dari Indonesia, hadir sebagai narasumber, yaitu Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Pr.

Dua delegasi Indonesia, akan berdampingan dengan Prof. Akhtarul Wasey, Wakil Kanselir dari Universitas Maulana Azad di Jodhpur Rajasthan, India, untuk menyampaikan catatan-catatan dari sudut pandang Kristen dan Muslim tentang Radikalisme di Asia.

KH Yahya Cholil Staquf akan memberikan wawasan mengenai “Global Geo-politic Conflicts and Understanding the Phenomena of Home-grown Terrorism and Foreign Fighters” (Konflik Geopolitik Global dan Pemahaman tentang Gerakan Teroris yang Tumbuh di Dalam Negeri dan Mujahidin Antarnegara).

Konferensi melibatkan tokoh-tokoh dari kalangan pemimpin agama dan intelektual dari Timur Tengah, Afrika, Asia, Eropa dan Amerika. Selain Katib ‘Aam PBNU dan Uskup Agung Jakarta, akan tampil antara lain Sekretaris Jenderal Liga Ulama Muhammadiyah Kerajaan Maroko, Syaikh Ahmad Abbadi; Pimpinan Desk Islam di Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama, Msgr. Khaled Akasheh asal Yordania; intelektual Muslim Amerika berdarah Turki yang adalah Senior Fellow pada program studi Islam and Modernity, Cato Intitute, USA, Mustafa Akyol; pendiri the Observatory of Religious Radicalism and Conflict in Africa, Senegal, Prof. Bakary Sambe; dan 27 orang tokoh Internasional lainnya.

“Aktivisme dialog antaragama telah berlangsung puluhan tahun, tapi tidak membuahkan hasil yang berarti dalam perbaikan hubungan antarumat beragama. Konflik agama masih terjadi di mana-mana di seluruh dunia, malah cenderung semakin marak. Hari-hari ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa, menempatkan pasukan penjaga perdamaian di 34 titik konflik di seluruh dunia, 26 di antaranya konflik agama,” kata Katib ‘Aam KH Yahya Cholil Staquf di Jakarta, Rabu, 20 Januari 2021.

Gus Yahya-sapaan akrabnya-menyatakan keprihatinannya. Hal itu karena dialog yang ada selama ini cenderung tidak jujur dalam melihat masalah, dan berhenti di forum dialog itu sendiri tanpa tindak lanjut di lingkungan komunitas masing-masing agama. Namun begitu, Gus Yahya mengungkapkan optimisme menyambut Konferensi Vatikan kali ini.

“Melihat topik-topik diskusi dan para narasumber yang dijadwalkan, saya optimistis ini akan menjadi dialog yang jujur dan mengakui masalah apa adanya, sehingga dapat diharapkan menghasilkan solusi yang nyata. Prinsip paling mendasar adalah bahwa dialog antaragama harus dilakukan dengan jujur,” demikian Yahya.(aju)