Logo Olimpiade Tokyo 2020. (Dok/Ist)

Rahmat Terinspirasi Sang Ayah

Loading

TOKYO (Independensi.com) – Tampil penuh percaya diri menjadi kunci sukses Rahmat Erwin Abdullah. Lifter muda yang turun di Grup B kelas 70kg di Olimpiade Tokyo 2020, berhak atas medali perunggu yang menjadi bagian dari kerja kerasnya berlatih selama ini.

Sebagai lifter debutan di kancah olimpiade, tak membuat Rahmat gentar. Dia dianggap sebagai kuda hitam yang mampu menyaingi atlet-atlet terbaik kelas dunia seperti dari China, negara-negara pecahan Rusia, Eropa, AS hingga tuan rumah Jepang. Suksesnya ini ternyata terinspirasi dari sang ayah yang juga merupakan pelatihnya, Erwin Abdullah.

Bertarung sebagai lifter nonunggulan, Rahmat secara mengejutkan mampu menyumbangkan medali perunggu usai membukukan angkatan total 342kg (snatch 152kg dan clean and jerk 190kg), Rabu (28/7/2021). Lifter berusia 21 tahun itu mampu melampaui total angkatan lifter-lifter tangguh yang tergabung dalam Grup A, antara lain lifter Albania Calja Briken yang mencatatkan total angkatan 341kg, lifter Bulgaria Bozhidar Dimitrov (338kg), lifter Jepang Miyamoto Masanori (335kg), dan lifter AS Cummings Jr (325kg).

“Saya sangat bersyukur. Medali ini saya persembahkan untuk keluarga saya, ayah dan ibu. Untuk seluruh masyarakat Indonesia, Kemenpora, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), PB PABSI, serta semua yang sudah mendukung saya,” kata Rahmat seperti dikutip dari Antara. Dia menambahkan, medali perunggu Olimpiade Tokyo itu tidak hanya menepati misi pribadinya, tetapi juga turut menggenapi impian sang ayah yang gagal tampil di Olimpiade 2004 Athena karena cedera punggung.

Rahmat yang kelahiran Makassar itu menceritakan, menjelang ke Tokyo, dia selalu teringat dengan cerita yang terus diulang oleh sang ayah soal impiannya agar anaknya bisa tampil di Olimpiade, memenuhi mimpinya yang tidak akan pernah terwujud. “Saya masih ingat terus kata-kata bapak. ‘Mat, kamu mau merasakan yang pernah bapak rasakan di Olimpiade. Soalnya, bapak belum sempat bertanding.’ Itu selalu diulang terus sama bapak akhir-akhir ini,” kenang Rahmat.

Rahmat Erwin Abdullah.

Medali emas kelas 73kg putra didapat lifter China Shi Zhiyong yang membukukan total angkatan 364kg (snatch 166kg dan clean and jerk 198kg) yang sekaligus menjadi rekor baru dunia. Sementara perak diamankan lifter Venezuela Mayora Pernia Julio Ruben dengan total angkatan 345kg (snatch 156kg dan clean and jerk 190kg).

Picu Semangat

Selain sang ayah, motivasi juga datang dari raihan lifter putri Windy Cantika yang mendapat medali perunggu. Prestasi Windy yang membuat Rahmat terpicu semangatnya menjadi untuk turut ambil bagian menyumbangkan medali bagi Merah Putih di Olimpiade Tokyo 2020.

Windy Cantika Aisah berhasil merebut medali perunggu kelas 49kg pada 24 Juli atau sehari selepas upacara pembukaan Olimpiade Tokyo. Sejak saat itu, Rahmat mengakui semakin berambisi untuk meraih medali. “Sudah sejak (Windy) Cantika meraih medali perunggu, saya itu uring-uringan dan tertekan karena saya juga ingin mendapatkan medali. Namun saya tidak bisa berbicara dengan siapa-siapa,” kata Rahmat. “Saya hanya bisa menenangkan diri sendiri dengan berbicara saja bahwa saya bisa dan saya mampu,” imbuhnya.

Hasil yang diraih Rahmat di luar dugaan mengingat laga di Grup B bukan untuk persaingan medali. Bahkan, semula tim angkat besi Indonesia hanya menargetkan dia masuk delapan besar. Target tersebut disebut realistis mengingat persaingan di kelas 73kg putra cukup ketat dengan hadirnya lifter-lifter berpengalaman.

Namun berkat kegigihannya, Rahmat yang tak diunggulkan itu sukses membuat kejutan dengan masuk tiga besar lewat total angkatan 342kg, dengan snatch 152kg dan clean and jerk 190kg. Total angkatan tersebut sekaligus menjadi rekor terbaiknya, memperbaiki catatan sebelumnya 335kg yang dibukukan di Kejuaraan Asia di Taskent, April 2021.

Lebih jauh Rahmat mengatakan, setelah perunggu Olimpiade, dirinya berjanji akan terus berusaha untuk meningkatkan prestasinya. “Saya akan selalu berusaha untuk tampil lebih baik. Multievent internasional selanjutnya mungkin ada SEA Games Vietnam yang masih menunggu jadwalnya, kemudian Asian Games 2022 Hangzhou dan juga Islamic Solidarity Games 2022. Dan, saya juga ingin tampil lagi di Olimpiade 2024 Paris,” ujar Rahmat.