Pentingnya Melestarikan Modal Alam Biru Melalui Inisiatif Strategis

Loading

MANADO (IndependensI.com) – Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (Dirjen PKRL), Victor Gustaaf Manoppo membuka acara Forum Tingkat Tinggi tentang “Modal Alam Biru (Blue Natural Capital)”. Forum yang digelar di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (8/06/2024) ini merupakan agenda tahunan dalam rangka memperingati Hari Segitiga Terumbu Karang 2024.

“Merupakan suatu kehormatan besar untuk menyambut Anda semua di Forum Tingkat Tinggi tentang “Modal Alam Biru” untuk menjamin masa depan ekosistem Segitiga Terumbu Karang, yang diselenggarakan pada kesempatan baik Hari Segitiga Terumbu Karang 2024, di sini, di kota yang dinamis ini,” ucapnya.

Adapun topik yang disampaikan Dirjen PKRL dalam kesempatan ini, yaitu tentang pelestarian dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem Segitiga Terumbu Karang, yang mewakili salah satu kawasan laut dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia.

Menurutnya, Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle yang mencakup perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste, merupakan pusat kekayaan keanekaragaman hayati laut dunia.

“Wilayah ini merupakan rumah bagi beragam kehidupan laut, yang memberikan penghidupan bagi jutaan orang, kekayaan terumbu karang, hutan bakau, dan wisata bahari eko-kultural yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Victor mengungkapkan, bahwa kondisi ekosistem terumbu karang, lamun, dan bakau yang relatif masih asli di Segitiga Terumbu Karang mewakili “Modal Alam Biru” yang melimpah di kawasan ini.

“Di Indonesia, kami menyadari pentingnya melestarikan Modal Alam Biru melalui inisiatif strategis yang disebut “Ekonomi Biru” melalui 5 (lima) program prioritas: (1) Perluasan kawasan perlindungan laut; (2) Penangkapan ikan berbasis kuota; (3) Pengembangan budidaya perikanan yang berkelanjutan; (4) Pengawasan dan pengendalian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan (5) Pembersihan Sampah Plastik Laut Melalui Partisipasi Nelayan. Tiga keberhasilan Ekonomi Biru adalah: Kesehatan Laut, Kekayaan Laut, dan Kemakmuran Laut,” paparnya.

Untuk itu, Victor mengatakan, berlanjutnya kesehatan jasa ekosistem yang disediakan oleh modal alam biru sangat penting bagi keberhasilan ekonomi biru. Pasalnya, pendekatan pembangunan berkelanjutan diperkirakan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi biru hingga USD$500 miliar lebih besar dibandingkan skenario business-as-usual pada tahun 2030 (Organization for Economic Co-operation and Development/OECD, 2016). Angka ini, kata Dirjen Victor, diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.

“Kami berpandangan bahwa melestarikan keadaan saat ini dan memulihkan ekosistem alami merupakan investasi dalam modal alam biru. Investasi ini dapat dikatakan secara langsung mendukung ekosistem laut yang berkelanjutan dan berketahanan yang menjadi landasan model ekonomi biru berkelanjutan,” ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya menyampaikan, bahwa strategi dan instrumen investasi keuangan untuk melestarikan dan membangun kembali Modal Alam Biru sangat penting untuk memberikan insentif dan mendukung pengelolaan kelautan dan pesisir dalam perekonomian biru.

Hal ini, menurut Victor, merupakan momen yang tepat bagi negara-negara CTI-CFF untuk mempertimbangkan cara memanfaatkan peluang investasi dalam aset alam, dengan tujuan memposisikan diri mereka sebagai inovator global dalam proyek dan perekonomian kelautan berkelanjutan.

“Kami bekerja tanpa kenal lelah untuk menjaga ekosistem Segitiga Terumbu Karang, namun tantangan yang kami hadapi sangat besar dan memerlukan upaya bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi dan kemitraan sangat penting jika kita ingin mencapai tujuan bersama yaitu laut yang sehat dan berketahanan,” tandasnya.

Untuk itu, Dirjen PKRL mengajak seluruh pemangku kepentingan dalam forum tersebut agar berkomitmen melindungi ekosistem Segitiga Terumbu Karang dan memanfaatkan kekuatan Modal Alam Biru guna menjamin masa depan yang sejahtera dan berkelanjutan bagi kawasan yang penting secara ekologis ini.

“Kemitraan multilateral merupakan alat penting dalam upaya ini. Saya berharap forum ini dapat mencapai tujuan Rencana Aksi Regional 2.0 CTI-CFF dan menciptakan hasil nyata yang bermanfaat bagi sumber daya alam dan komunitas kita,” pungkasnya.