Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pertemuan SBY-Prabowo, Menguji Eforia Pemilih atau Menduetkan Prabowo-Agus?

JAKARTA (Independensi.com) – Dua pimpinan partai yakni Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai
Prabowo Subianto akan mengadakan pertemuan di Cikeas, Kamis (27/7/2017) malam sekitar pukul 20.30 Wib. Pertemuan akan berlangsung di rumah Susilo Bambang Yudhoyono yang juga mantan Presiden RI ke-6. Sejumlah petinggi partai dari Gerindra dan Demokrat dilaporkan akan ikut hadiri pertemuan tersebut.

Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan ketika dikonfirmasi soal rencana pertemuan tersebut, Kamis (27/7/2017) pagi, membenarkan adanya pertemuan kedua pimpinan partai tersebut. Sebagimana dijadwalkan, pertemuan akan dilakukan sekitar pukul 20.30 WIB di rumah kediaman Susilo Bambang Yudhoyono. “Benar, ada rencana pertemuan antara Susilo Bambang Yudhoyono dengan Prabowo pada malam ini,” kata Hinca.

Beberapa hari lalu, tepatnya Senin (24/7/2017), Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani juga menyampaikan bahwa ada pertemuan antara Susilo Bambang Yudhoyono dengan Prabowo dalam waktu dekat. Inisiatif pertemuan itu sendiri berasal dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo. Permintaan Partai Gerindra itu disambut positif oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu kedua pimpinan partai itu mencocokkan waktu yang tepat dan akhirnya ada kesepakatan pertemuan tanggal 27 Juli 2017. “Salah satu tema penting dalam pertemuan adalah membahas tentang Pemilu 2019,” kata Ahmad Muzani.

Pertemuan antar-elite politik, kata Ahmad Muzani, sangat penting. Alasannya, Indonesia memiliki model politik patron, di mana kesamaan mudah terbangun jika antarpartai politik rutin berdiskusi. “Kalau pemimpinnya sering bertemu untuk membicarakan persoalan-persoalan bangsa maka perbedaan-perbedaan pandangan bisa lebih cepat diselesaikan,” kata Muzani.

Dalam dunia perpolitikan pertemuan kedua pimpinan partai sebetulnya hal yang biasa saja. Namun karena menjelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, banyak isu yang berkembang. Saat ini, memang Gerindra sedang mencari koalisi untuk mengusung Prabowo Subianto maju di Pilpres, setelah sebelumnya gagal di Pilpres 2014 dan Pilpres 2009 Prabowo gagal menjadi Wapres.

Dalam pertemuan ini, misalnya, ada beredar Informasi bahwa Gerindra dan Demokrat berkoalisi pada Pilpres 2019 dan mencalonkan Prabowo Subianto sebagai Presiden, sedangkan posisi Wakil Presiden konon akan dipasang Agus Harimurti Yudhoyono.

“Koalisi Gerindra-Demokrat di Pilpres tersebut salah satu isu yang berkembang, terutama karena Rancangan Undang Undang Pemilu memaksa partai-partai oposisi (Gerindra) dan klaim poros tengah (Demokrat) akan melakukan konsolidasi politik,” kata pengamat politik Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Firman Lukman kepada Independensi.com, Kamis (27/7/2017).

Menurut Firman, peluang duet Prabowo-Agus bisa saja terjadi, tetapi masih perlu hitung-hitungan politik yang matang. Apalagi dua-duanya berasal dai militer.  Di sisi lain, kecenderungan elektoral hari ini masih menginginkan presiden dari sipil. “Pertemuan-pertemuan politik para elit bisa saja hanya sekedar menguji eforia pemilih. Jika publik menginginkan akan dituangkan dalam komitmen politik lebih lanjut,” kata Firman yang juga alumni FISIP UGM tersebut.

Di bagian lain, menjawab pertanyaan wartawan, Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno enggan berandai-andai jika pertemuan Prabowo-SBY adalah upaya menjegal Jokowi di Pilpres 2019. Menurut Hendrawan, upaya mnjegal itu hanya spekulasi semata. Itu kan tafsiran. Tidak perlu kita buat spekulasi berlebihan. Biarlah dinamika politik berjalan dengan masing-masing tokoh. Yang penting selalu mengutamakan kebersamaan, persaudaraan dan kepentingan bangsa,”kata Hendrawan di Gedung DPR.

Ditambahkan, PDIP tidak mempersoalkan jika pertemuan itu sekaligus sebagai pemanasan menjelang Pilpres 2019. Hendrawan berpendapat ada waktunya berbicara soal Pemilu 2019. Ia juga menitipkan salam kepada SBY dan Prabowo. “Mari kita bekerja, masing-masing menjalankan tugasnya dulu, nanti akhir tahun politik yakni akhir tahun 2018 hingga April 2019. Salam untuk SBY, Salam untuk Prabowo. Mereka itu negarawan yang kita miliki,” tutup Hendrawan.