Air tampak masih menggenangi stasiun pengisian bahan bakar di San Juan, Puerto Rico, Jumat (22/9/2017). Banjir disebabkan Badai Maria yang menerpa kawasan itu tiga hari lalu. (AFP)

Bendungan Jebol, 70.000 Orang Diungsikan

JAKARTA (IndependensI.com) – Sekitar 70.000 orang diungsikan dari rumahnya, Jumat (22/9/2017), setelah sebuah bendungan jebol di Puerto Rico.

Bendungan itu tidak lagi mampu menampung luapan air yang disebabkan Badai Maria. Korban tewas di Karibia akibat badai ini sudah mencapai 33 orang.

Dinas cuaca di San Juan mengeluarkan peringatan banjir di sepanjang aliran sungai Guajataca setelah bendungan yang dibangun pada 1920an mulai jebol.

“Semua orang yang menempati wilayah di sekitar Sungai Guajataca harus mengungsi sekarang. Nyawa mereka terancam bahaya,” cuit dinas itu di Twitter.

Tidak lama kemudian, Gubernur Ricardo Rosello mengeluarkan perintah untuk mengungsikan sekitar 70.000 orang yang tinggal di kawasan terdampak bencana.

Puerto Rico sudah kebanjiran sejak Badai Maria menerpa negara itu mulai Rabu (20/9/2017). Tim penolong berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan warga yang terjebak genangan air.

Rosello menyebut Maria sebagai badai paling merusak dalam satu abad terakhir. Badai itu juga sudah merusak jaringan listrik dan telekomunikasi Puerto Rico.

Rosello mengatakan jumlah korban tewas sudah mencapai 13 orang. Tapi dia mengingatkan angka itu baru didapat dari laporan awal dan jumlahnya diperkirakan bertambah.

“Saat ini upaya kami adalah memastikan semua orang selamat dan kami bisa mengerahkan tim penyelamat. Upaya kami sudah menyelamatkan sekitar 700 orang. Jadi kami masih fokus di situ,” kata Rosello kepada jaringan televisi CNN.

Pusat pemantau badai AS (NHC) mengatakan sejumlah wilayah di Puerto Rico kebanjiran dengan ketinggian air hingga satu meter.

“Banyak wilayah kebanjiran. Kami juga menerima laporan tentang bangunan yang rusak dan terancam runtuh. Bencana ini benar-benar parah dan hujan masih terus mengguyur,” kata Rosello.

Korban tewas akibat Badai Maria di Karibia sudah mencapai 33 orang, termasuk 15 di Dominika, tiga di Haiti, dan dua di Guadeloupe.