Malin Kundang, sebuah cerita rakyat yang melegenda berasal dari Sumatra Barat, dimana menceritakan tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Anak durhana itu dikutuk menjadi batu. Cerita itu dulu lazim kita dengarkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar ataupun saat ibu mendongengkannya ketika anaknya hendak tidur.

Ketika Legenda Malin Kundang Dikemas Dalam Versi Baru

PADANG (IndependensI.com) – Kreativitas seniman daerah tetap dinamis dan  tidak perlu diragukan hasil karyanya. Berbagai tema seni dan budaya yang diambil dari legenda daerah  dan tetap menarik untuk ditampilkan sebagai tontonan hebat dengan konteks kekinian. Salah satunya adalah Malin Kundang, legenda kesohor dan mendunia dari daerah Sumatera Barat.

Hal itu pula yang dilakukan Komunitas Seni Nan Tumpah Padang (KSNT). Komunitas ini  menampilkan pertunjukan teater dengan mengangkat tema Malin Kundang yang merupakan salah satu legenda terkenal di daerah ini dalam bentuk baru pada Festival Seni Pekan Nan Tumpah 2017 di Padang, Sabtu (23/9/2017) malam.

“Naskah lakon pada pementasan tersebut berangkat dari puisi yang ditulisnya pada tahun 2012 dengan judul lakon Alam Takambang Jadi Batu,” kata Sutradara KSNT, Mahatma Muhammad usai pementasan di Padang.

Ia menyebutkan setelah melakukan riset dan pembacaan terhadap beragam teks cerita rakyat Malin Kundang maka saya menjadikannya sebuah naskah lakon dengan judul yang sama.

Menurutnya teks tersebut berupa kaba klasik, cerpen, puisi, esai, skenario film, cerita anak dan naskah drama yang ditulis oleh banyak sastrawan, baik yang sekadar terinspirasi, menginterpretasikan ulang atau bahkan yang mendekonstruksi ulang cerita rakyat tersebut.

Selain itu ia juga mengumpulkan dan melakukan pembacaan terhadap beragam cerita rakyat dari berbagai daerah di nusantara yang memiliki kesamaan cerita dengan Malin Kundang.

Dalam naskah lakon dan pertunjukan ini, saya menggunakan tokoh dalam cerita rakyat tersebut sebagai pintu masuk cerita yang lebih luas,” ujarnya.

Selain itu ia menyebutkan tokoh Malin Kundang dan tokoh Ibu dalam cerita rakyat tersebut digunakan untuk merepresentasikan laki-laki dan perempuan Minang dari masa ke masa yang hidup dalam sistem kekerabatan Matrilineal.

Menurutnya, sebelumnya garapan ini sudah pernah dipentaskan pada beberapa kegiatan, salah satunya adalah pada gelaran KABA Festival 4 di Padang beberapa bulan lalu.

“Pada Pekan Teater Nasional 2017 di Yogyakarta bulan Agustus yang lalu naskah lakon Alam Takambang Jadi Batu juga ikut dipentaskan,” kata dia seperti ditulis Antara.

Dia menambahkan Festival Seni Pekan Nan Tumpah merupakan sebuah kegiatan kesenian yang melibatkan beberapa komunitas maupun personal yang ada di dalam maupun luar Sumbar untuk menampilkan kaya mereka kepada masyarakat.

Sementara itu salah seorang penonton Muhammad Ridho (25) mengatakan cukup terhibur dengan pertunjukan yang dilakukan oleh komunitas tersebut.

“Sekalipun tidak terlalu memahami secara keseluruhan akan tetapi ada beberapa pesan yang dapat diambil dan sesuai dengan konteks kekinian,” katanya.