Antara Wacana dan Keseriusan

Oleh : Yo Sugianto

IndependensI.com – Seperti apa wajah sepakbola wanita Indonesia saat ini?. Sulit dijabarkan, atau diterangkan. Selama hampir satu dasawarsa, sepakbola wanita hanya dilihat saat ada turnamen, dibentuknya tim nasional secara cepat untuk atau dengan adanya Komite Sepakbola Wanita di jajaran kepengurusan PSSI.

Padahal sepakbola wanita punya potensi besar, terbukti dengan adanya Liga Sepakbola Wanita (Galanita) satu dasawarsa lalu, yang terakhir dilangsungkan pada 2009 dengan tim Papua sebagai juaranya. Apalagi saat ini dengan adanya beberapa stasiun televisi yang berani memberi porsi siaran langsung untuk sepakbola sebagai magnet bagi pemasang iklan.

PSSI juga mendapatkan bantuan dari FIFA untuk lebih mengembangkan potensi sepakbola wanita, yang sudah diterima sejak lama, tapi selama ini hanya masih berkutat pada sosialisasi dan himbauan saja untuk membentuk kesebelasan di berbagai daerah, atau klub peserta Liga 1.

Semestinya dalam satu dasawarsa ini ada kemauan baik disertai kesungguhan untuk menggulirkan pembinaan usia dini, kompetisi usia muda dan kompetisi sebagai muara lahirnya tim nasional.

Kurangnya perhatian dari PSSI, dan pemerintah juga, jelas berimbas pada minimnya pemberitaan tentang sepakbola wanita di media. Jika pun ada itu hanya berita-berita seperti “Pemain Sepakbola Wanita Tercantik”, atau Wasit sepakbola wanita satu-satunya di Indonesia. Tak ada berita yang menyebutkan soal prestasi atau sesuatu yang membanggakan dari sepakbola wanita. Berbanding terbalik dengan sepakbola pria yang bisa dibahas dari banyak sisi, mulai dari prestasi, peran di lapangan, kehidupan pribadi sampai harga transfer yang fantastis.

Maka tak mengherankan jika PSSI adem ayem saja ketika rilis FIFA pada 24 Maret 2017 lalu menempatkan Indonesia tanpa peringkat, bersama 35 negara lainnya. “Dinyatakan sudah tidak aktif lebih dari 18 bulan. Dan karena itu, tidak ada peringkat,” demikian keterangan resmi FIFA dalam laman resminya.

PSSI saat itu hanya bereaksi dengan membentuk tim nasional sepakbola wanita U-15 untuk mengikuti AFF U-15 Women’s Championship 2017 di Laos, 6-18 Mei 2017. Sebanyak 24 pemain yang disiapkan itu berasal dari Piala Putri Nusantara, yang diadakan di Jepara, 8-14 Maret 2017. Timnas yang dilatih oleh Rully Nere itu tersingkir setelah dua kali menelan kekalahan dan menempati posisi juru kunci.

Pembentukan timnas wanita itu seperti menegaskan apa yang dilakukan PSSI tak beda dengan kepengurusan sebelumnya, yakni mencoba memetik hasil dengan instan dan melupakan akar rumputnya. Akar rumput itu berupa pembinaan sepakbola usia dini dan adanya kompetisi yang berkesinambungan.

Berkaca dari perjalanan PSSI selama satu dasawarsa terakhir sudah lebih dari cukup sebenarnya untuk mengetahui bagaimana sepakbola wanita Indonesia telah mati suri. Itu terjadi jauh sebelum adanya pembekuan PSSI.

Apakah karena menganggap sepakbola wanita ini kurang atau tidak mampu mencetak prestasi?. Jika itu anggapannya, jelas salah berpikirnya karena selain meremehkan juga tak mau berkaca pada timnas sepakbola laki-laki yang juga tak kunjung mencetak prestasi. Timnas wanita bukannya tak pernah mencetak prestasi, meski bukan menjadi juara. Dalam Piala Asia Wanita 1977 yang digelar di Taiwan timnas putri berhasil menjadi juara 4, bahkan berhasil mengalahkan finalis piala dunia wanita 2011, Jepang, dengan skor 1–0.

Wacana

Janji PSSI untuk lebih memperhatikan sepakbola wanita beberapa kali telah dilontarkan tapi tetap tak pernah terwujud. Seperti dalam Kongres Tahunan PSSI, 4 Desember 2014 di Jakarta tentang keputusan Kongres Tahunan PSSI untuk membentuk Liga Sepakbola Wantia Indonesia. “Kita akan mengubah turnamen sepak bola wanita menjadi Liga Sepak Bola Wanita Indonesia. Begitu juga dengan liga futsal. Kita akan menata ulang,” kata Sekjen PSSI, Joko Driyono saat itu. Keputusan yang tak pernah terealisir hingga kini, meski oleh PSSI sendiri diakui merupakan salah satu instruksi dari FIFA.

Dua tahun sebelumnya, anggota Komite SepakbBola Wanita PSSI, Monica Desideria pada 11 Februari 2012 mengatakan bahwa sosialisasi sepak bola wanita di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Caranya dengan menggelar kejuaraan antar pengprov dan klub di seluruh Indonesia. Namun kegiatan seperti ini kerap terkendala oleh minimnya sponsor.

“Mereka membayangkan bahwa pemain sepak bola perempuan kekar dan menakutkan sekali, padahal tidak begitu,” kata Monica. Ia mengakui bahwa PSSI sendiri belum melakukan langkah optimal untuk mengembangkan sepak bola wanita. Fokus PSSI masih kepada sepak bola yang dimainkan oleh laki-laki.

Maka persoalan pengembangan sepakbola wanita akhirnya menjadi klasik, sekedar wacana saja. Adanya Komite Sepakbola Wanita di tubuh PSSI akhirnya jadi seremonial semata untuk memenuhi ketentuan Statuta.

Kesempatan

Semestinya PSSI mampu memanfaatkan kesempatan yang ada, sembari menjadikannya sebagai sebuah tantangan, yakni mengembangkan sepakbola wanita dari awal, dimulai dari pembinaan usia dini dengan kompetisi usia muda. Selain itu mewajibkan asosiasi provinsi untuk menggulirkan kompetisi sepakbola wanita di daerahnya masing-masing sebagai lahan mencari pemain tim nasional.

Kesempatan tersebut terkait dengan program FIFA yang ingin memajukan sepakbola wanita. Hal itu tercermin jelas di tahun 2015 ketika Indonesia dibekukan lalu FIFA membentuk Komite Reformasi Ad Hoc PSSI yang diketuai oleh Agum Gumelar, dengan komposisi keanggotaan yang terdiri dari tujuh elemen. Salah satu elemen di dalamnya adalah sepakbola wanita.

FIFA mestinya mengetahui masih rendahnya kepedulian terhadap sepakbola wanita di Indonesia. Tak ada kompetisi yang berjalan, begitu juga klub-klub tidak menjamur. Saat berlangsung AFF Wanita tahun 2013, tim nasional Indonesia terpaksa memainkan pemain-pemain futsal.

Perkembangan sepakbola wanita juga masih banyak di tingkat sekolah. Tapi berapa banyak SSB (Sekolah Sepakbola) khusus wanita yang ada di negeri ini? Namun FIFA sepertinya tetap ingin membantu PSSI untuk mengembangkan sepakbola wanita.

Seperti pada tahun 2017 ini berupa kucuran dana sebesar 1,25 juta dollar (Rp 16 milyar), yang sebagian besar dari bantuan itu (700.000 dollar untuk pembangunan sektor riil sepak bola nasional, seperti proyek pembangunan lapangan, peningkatan kualitas kompetisi amatir, dan menggairahkan kembali sepak bola wanita.

Bantuan itu diberikan saat delegasi FIFA berkunjung ke Indonesia dan menemui pengurus PSSI, 18-19 Februari 2017. FIFA diwakili oleh Tom Gorissen sebagai FIFA Senior Strategic Development Manager dan Sanjeevan C Balasingam yang menjabat Director Member Associations Asia-Ocenia.

Kesempatan lainnya yang bisa dimanfaatkan PSSI adalah mulai menggeliatnya semangat pelaku sepakbola wanita yang ditunjukkan dengan adanya beberapa turnamen, seperti Bengawan Cup 2016 atau Piala Putri Nusantara 2017. Bukan kebetulan jika kedua turnamen itu diadakan oleh Yayasan Citra Raga Selaras yang dipimpin oleh Esti Puji Lestari.

Piala Nusantara 2017 yang diikuti oleh 10 tim wanita dari berbagai Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI itu digadang-gadang sebagai awal menuju digelarnya liga sepakbola wanita karena selama ini jarang ada kompetisi resmi.

Antusiame seperti ditunjukkan oleh Esti Puji Lestari yang juga bos Persijap Jepara itu perlu disikapi oleh PSSI dengan serius, tak sekedar berwacana atau hanya mengadakan sosialisasi saja. Baru 10 tim dari Asprov yang menunjukkan kebangkitannya, tinggal digerakkan sisanya untuk mendapatkan jumlah peserta kompetisi yang diinginkan.

Sikap serius PSSI itu juga harus diikuti dengan perubahan pola pikir (mind set) bahwa sepakbola wanita kurang menarik atau menjual dari sisi sponsor. Justeru itu merupakan tantangan tersendiri bagi PSSI untuk meyakinkan sponsor, terutama televisi,bahwa kompetisi sepakbola wanita merupakan sesuatu yang sexy untuk memikat pemasang iklan dan menaikkan rating. (*)

Yo Sugianto, suka menulis puisi sambil mencermati sepakbola dan sosial budaya