Wolmer Murillo berpose dengan trofi juara ADT)-Combiphar Players Championship 2017. (Toto Prawoto)

Murillo Juara Lewat Empat Kali “Play-off”

DENPASAR (IndependensI.com) – Andaikata menjelang finish di hole 18, pada ajang kompetisi Asian Development Tour (ADT)-Combiphar Players Championship 2017, yang berlangsung di New Kuta Golf, Bali, pada 11-14 Oktober lalu, Wolmer Murillo tidak membuat kesalahan yang sangat elementer yang membuat pegolf dari Venezuela tersebut berkurang deposit pukulannya; Maka, event yang memperebutkan total hadiah sebesar US$100.000 tersebut pemenangnya tidak harus ditentukan melalui play off.

Sesuai peraturan, “tanding ulang” memang harus diterapkan ketika hasil akhir yang dibukukan oleh pemain di partai puncak memiliki skor yang sama. Hal ini adalah biasa.Tapi, menjadi tidak “biasa” katika yang tampil di play off terdiri dari lima orang pemain. Betul bahwa di kancah persaingan golf pro tingkat dunia hal itu pun sering terjadi – seperti yang diungkapkan oleh Eddy Putra, wasit asal Bali yang dilibatkan dalam event ADT-Combiphar Players Championship 2017.

Bahkan, andaikata play off tersebut mengikutsertakan lebih dari lima orang pemain, “Mereka akan dibagi menjadi dua group,” tukas wasit dari Indonesia yang menjadi representatif APGA (Asia Pacific Golf Association), yang Juli lalu mewasiti event The Open (dahulu dikenal dengan British Open) – salah satu turnamen majors tingkat internasional yang sangat bergengsi – saat diminta komentarnya oleh IndependensI.com menjelang play off yang terjadi di ADT-Combiphar Players Championship 2017 dilaksanakan. “Jadi, play off yang terjadi kali ini… bisa dikatakan sebagai kejadian luar biasa… dalam konteks Indonesia,” tambah bli Eddy sambil menyeka keringat di wajahnya.

Sejak ADT Tour diperkenalkan kepada publik, terutama yang digelar di Indonesia, tercatat baru untuk pertama kalinya terjadi play off yang melibatkan lima orang pemain.

Kelima pemain tersebut adalah Wang Wei-lun (Taiwan), Mathiam Keyser (Afrika Selatan), John Catlin (AS), Wlliam Harrold (Inggris) dan Wolmer Murillo (Venezuela). Mereka memiliki skor sama yakni 7 under.

Play off dilaksanakan di hole 9 par 4. Puluhan penonton yang menyaksikan babak penentuan tersebut berdiri tertib di luar batas appron hole 9 par 4 tersebut.

Sebagian penonton play off adalah para caddy yang sebelumnya mendampingi para pemain yang  baru saja menyelesaikan pertarungan memperebutkan hadiah uang. Dan, sebagian lainnya adalah penggemar olahraga golf di Pulau Dewata termasuk di antaranya adalah pak Putu dan kawan-kawan dari Pengprov PGI Bali.

Suasana hening sangat terasa ketika kelima pegolf yang tee off dari tee box 9 dalam play off bagian pertama tidak semua bola yang mereka pukul on the green.

Dari kelima pemain yang melakoni play off, hanya bola milik Wang dan Murillo yang memiliki jarak tembak ideal ke arah hole. Sedangkan tiga kompetitor mereka bolanya berada di titik yang jauh dari hole.

Bahkan, dua dari tiga orang pemain yang bolanya berada pada titik yang kurang ideal tersebut, salah seorang bolanya masuk bunker dan pemain yang satunya lagi bolanya berada di appron hole 9 par 4 dekat dengan pohon pandan yang daunnya bisa dibuat lembaran tikar.

Denny Masrin

Dan, fakta yang terjadi di lapangan terbukti benar. Wang dan Murillo berhak melanjutkan persaingan di play off bagian kedua, karena kedua pemain tersebut par, sementara William Harrold, John Catlin dan Mathiam Keyser gagal akibat boggey.

Play off bagian pertama yang melahirkan “peristiwa” seperti tersebut di atas semakin menegaskan bahwa favorite juara ADT-Combiphar Players Championship 2017 memang tidak akan jauh dari rengkuhan tangan Wang dan Murillo.

Hal ini bisa dibuktikan lewat “kasak-kusuk” beberapa penonton dan beberapa rekan wartawan yang meliput event tersebut di mana akhirnya “kasak-kasak” tersebut mengkristal dalam wujud “tebak juara”.

“Aku menjagokan,” kata seorang penonton kepada temannya.

“Aku njagoin Maruloh dari Ciledug” sahut temannya yang memplesetkan nama Murillo menjadi Maruloh dari Ciledug. Dan, semua yang mendengarkan celoteh tersebut, pun tertawa…

Rupanya bukan sesama rekan media dari broadcast yang sama yang bermain “tebak juara”. Seorang staf dari OB Golf pun melakukan hal yang sama. Dan, orang yang diajaknya bermain “tebak juara” adalah pegolf pro bernama Benny Kasiadi – salah seorang putra dari pegolf legendaris Indonesia, Kasiadi.

George Gandranata menerima trofi sebagai pemain Indonesia terbaik dalam event tersebut yang diserahkan oleh Toto Pegeng dari New Kuta Golf & Ocean View.

Benny menjagokan Wang Wei-lun. Ketika IndependensI.com menanyakan mengapa Kasiadi Junior itu menjagokan pegolf dari Taiwan, pro kelahiran Surabaya yang kini menetap di Bandung bersama istri dan dua orang anaknya itu mengatakan, karena dia sangat mengenal style permainan Wang terutama putting-nya.

“Dalam beberapa kali kesempatan mengikuti turnamen, saya sering berada dalam satu group bersama Wang… Dalam pengamatan saya, selain memiliki kemampuan membaca course management, Wang juga piawai membaca green. Karena itu, putting dia sangat akurat, terutama long putting-nya,” kata Benny.

“Jadi, saya menjagokannya akan menjadi juara dalam ADT Tour kali ini,” tambah pro bertubuh gempal yang saat ini berhome-base di Cikarang Golf Club dan dikenal sebagai Teaching bertangan “dingin” yang telah berhasil melahirkan pegolf handal – khususnya junior – di lingkungan Pengkab PGI Bekasi.

Oleh karena itu, ketika yang tampil di play off tinggal Wang dan Murillo, penonton yang menyaksikan kedua pro tersebut beradu strategi untuk memenangkan pertandingan, suasana di sekitar hole #9 par 4, selain tenang juga diselimuti ketegangan khususnya para penonton yang bermain “tebak skor”.

Pada play off bagian kedua yang melibatkan Wang dan Morillo, kedudukan masih tetap berimbang. Demikian juga pada play off bagian ketiga. Baik Wang maupun Murrilo yang berada dalam under pressure, senantiasa gagal saat mereka melakukan birdie putt – padahal jarak antara hole dan bola masing-masing pemain yang dipukul dengan putter kurang dari satu meter…

Pada play off bagian empat, apa yang disampaikan Benny Kasiadi, membuat sebagian penonton khususnya yang bermain “tebak juara” dan menjagokan Wang, dibuat deg deg plas jantungnya. Karena, second shot yang dilakukan pegolf Taiwan itu on the green. Demikian juga Morillo.

Bedanya, bola milik pegolf dari Venezuela tersebut berada dalam jarak kurang-lebih satu meter dari pin. Sementara bola milik Wang berada pada jarak kurang-lebih lima meter dari pin.

Seperti kata Benny Kasiadi, Wang, pegolf dari Taiwan itu, piawai melakukan pukulan birdie putt dari jarak jauh.

Oleh karena itu, saat Wang berancang-ancang akan memukul bola, mendadak sontak suasana berubah menjadi hening.

Ketika Wang mengayunkan putter dengan pukulan agak keras ke permukaan bola, kemudian bola menggelinding ke arah hole, penonton menahan nafas.

Tapi, pukulan birdie putt dari jarak jauh yang sangat akurat itu, membuat bola hanya sesaat “menyentuh” lingkar-luar hole sebelah kanan, dan kemudian menggelinding jauh dari sasaran…

Para penonton spontan dan serempak mendesah berkepanjangan karena mereka tahu Wang gagal mencetak pukulan birdie.

Ketika tiba saatnya Morillo akan melakukan birdie putt, suasana di sekitar hole #9 par 4 pun kembali hening. Dan… sontak terdengar tepuk tangan serta histeria teriakan saat pukulan birdie putt masuk hole.

Skor akhir birdie untuk Murillo dan par untuk Wang. Sebagai juara pegolf dari Venezuela tersebut berhak atas hadiah utama sebesar 17.500 dolar Amerika Serikat.

Dalam event tersebut Indonesia – sebagai tuan rumah – meloloskan sepuluh orang pegolf yang terdiri 6 pro (George Gandranata, Danny Masrin, Benny Kasiadi, Fajar Win Nuryanto, dan Andrew Wirawan) dan 4 amatir (Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Kevin C Akbar, Jonathan Wijono, dan Rifki Alam).

George Gandranata terpilih sebagai pemain Indonesia terbaik dalam turnamen tersebut, sementara Naraajie berhasil merebut gelar juara Lowest Amateur.

Dalam keterangan persnya, Wolmer Murillo, selain bersyukur karena berhasil menjuarai turnamen, dia juga berjanji akan kembali lagi ke Indonesia untuk mempertahankan gelar.

Pegolf dari Venezuela tersebut juga mengucapkan banyak terimakasih kepada ADT, Asian Tours dan sponsorship serta seluruh pekerja lapangan dan khususnya caddy yang mendampinginya selama turnamen berlangsung.

Wolmer Murillo bersama Susiana, caddy yang mendampinginya sejak ronde pertama hingga ronde terakhir (final)

Sebab, diakui atau tidak, kontribusi Susiana – nama caddy yang mendampingi Wolmer Murillo sebagai “advisor” selama turnamen berlangsung – memang tidak boleh dikesampingkan.

Lebih jauh, Murillo juga mengungkapan bahwa sepanjang karirnya sebagai professional golfer, baru kali ini dia merebut gelar juara melalui play off yang panjang dan melelahkan secara psikis.

Yang pasti, sebelum dia kembali lagi untuk mempertahankan gelarnya tahun depan, akhir Oktober ini dia akan tampil bersaing di ajang turnamen Indonesia Open yang berlangsung di Pondok Indah Golf Club, Jakarta Selatan.

Oleh karena itu, dia akan berlibur lebih lama lagi di Pulau Dewata, sambil mempersiapkan diri untuk tampil di Indonesia Open dua pekan lagi.

Sementara CEO Combiphar, Michael Wanandi, menyatakan bahwa pihaknya selain merasa bahagia karena event yang sama tahun ini berjalan lancar, juga tetap komitmen untuk berkalaborasi dengan Asian Development Tour (ADT) dan Indonesia Professional Golf Assciation (Indonesia PGA — d/h PGPI — Persatuan Golf Profesional Indonesia).

“Kami berharap dari turnamen yang kami support ini, di samping akan melahirkan juara, juga ada yang bisa tampil di olimpiade pada tahun 2020 yang akan datang,” kata Michael Wanandi. (Toto Prawoto)