Suku Rimba di Riau makin terdesak. Hidup mereka makin sulit, sementara perhatian pemerintah daerah maupun pusat terhadap masa depan Suku Rimba maih jauh dari kenyataan.

Tumpulnya Sila Kelima “Pancasila” Bagi Orang Rimba di Riau

PEKANBARU (IndependensI.com) -Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Begitu kalimat yang sering diucapkan dalam setiap upacara resmi dari Istana Negara hingga ke desa-desa. Namun makna kalimat itu sesungguhnya belum terasakan oleh masyarakat Orang Rimba di Riau.

Hingga kini, keberadaan Orang Rimba  masih menderita karena tidak ada perhatian dari pemerintah. Bahkan dapat dikatakan kehidupan suku atau Orang Rimba semakin terdesak akibat keganasan korporasi, pengusaha dan kelompok masyarakat lainnya yang merampok habitat Orang Rimba yakni hutan alam yang mereka diami turun temurun.

Habitat Orang Rimba makin terdesak dan masa depan mereka semakin suram. Lahan untuk mencari nafkah semakin sempit. Di sisi lain, kepedulian pemerintah terhadap Orang  Rimba sangat minim, bahkan dapat dikatakan nyaris tidak ada. Di mana pengejawantahan Sila Kelima Pancasila yang sering dikumandangkan pada setiap upacara resmi di kantor pemerintahan selama ini?

Kisah pedih tentang keadilan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia itu sangat terasakan ketika IndependensI.com, pada Rabu 01 November 2017 bertemu dengan sekelompok orang Orang Rimba duduk di Kem Orang Rimba (rumah darurat-red) berterpal plastik dan beratap terpal plastik.

Ketika IndependensI.com berkunjung, mimik wajah Orang Rimba terseyum ramah. “Siapa ya” kata Rokay (65) sambil menyapa dan bersalaman. Rokay tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Namun tetap bersemangat ketika diajak  berkomunikasi. Rokay mempunyai istri yang bernama Sikky, anaknya dua orang.

Tubuh Rokay kurus kering, apalagi saat itu Rokay tak pakai baju, anak-anaknya juga tak berpakaian, istrinya hanya berbalutkan kain seperti sarung untuk menutupi tubuhnya.

Rokay menceritakan, bahwa kehidupan keluarganya itu sangat memprihatinkan, tidak memiliki sumber daya yang menjadi basis kehidupan.

“Penghasilan kami hanya mencari Labi di sungai. Kalau sungai dalam keadaan banjir kami tidak bekerja” ujar Rokay.

Rokay menjelaskan, bahwa dirinya dari Kerinci Jambi, tetapi pada tahun 2004 sudah berdomisili tak tetap di Desa Punti Kayu, Kecamatan Batang Peranap, Kabupaten indragiri Hulu – Riau.

Ditambahkan Rokay, bahwa perangkat desa tidak pernah datang untuk mendata mereka, walau perangkat Desa tahu keberadaan kem mereka. “Tidak pernah perangkat desa datang untuk mendata kami,” katanya

Ditanya tentang kesehatan, Rokay tertawa, “Hahaha ya kalau sakit ditahan, kalau nggak sembuh ya mati” kata Rokay sedikit bercanda.

Anak-anak Rokay tak ada satupun mempunyai pendidikan formal dan bahkan buta huruf. Alo putranya berusia 14 tahun mengaku tidak tahu membaca. “Saya tidak bersekolah” kata Alo dalam bahasa suku Rimba lalu diterjemahkan oleh Rokay.

Rokay berharap kepada Pemerintah supaya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima) supaya tersentuh bagi kaum Orang Rimba. “Kami ini warga negara di Indonesia, perhatikanlah kami wahai penguasa (Pemerintah-red). Mereka butuh kesehatan, butuh makanan dan tempat tinggal yang layak.

Meneguhkan Nilai-nilai Pancasila

Mendengar pernyataan Rokay, Independensi.com mencoba mengkonfirmasi Kepala Desa setempat. Kondisi keluarga Rokay dan sebagian besar Suku Rimba pasti pada umumnya pasti tidak jauh berbeda. Orang Rimba membutuhkan bantuan, karena kondisi kehidupan mereka semakin sulit di tengah gencarnya alih fungsi hutan menjadi lahan kelapa sawit.

Kepala Desa Punti Kayu, Surman Pasaribu, mengakui apa yang disampaikan Rokay. Bahwa perangkat desa selama ini tidak mendata orang Rimba. “Dari desa tak ada untuk mendata orang Orang Rimba, tapi mendata semua suku lain, karna ada perintah dari atasan. Untuk mendata Orang Rimba tak ada perintah” katanya. (Mangasa Situmorang)