Muatan Balik Tol Laut Masih Rendah

MALANG (IndependensI.com) – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) mengakui muatan balik program tol laut sampai saat ini masih sekitar 10-20 persen. “Muatan balik, masih kecil, 10 sampai 20 persen,” kata Corporate Secretary PT Pelni (Persero) Didik Dwi Prasetio di sela Kumpul Media 2017 di Kota Batu Malang, Minggu (10/12/2017).

Menurut Didik, program tol laut Presiden Jokowi ini masih perlu terus disosialisasikan ke pihak terkait, khususnya pemerintah daerah.

Dikatakannya, meski begitu, sudah ada beberapa pelabuhan yang mengisi, contohnya di daerah Nusa Tenggara Barat dengan garam, Larantuka kopra, ikan dan kelapa serta dari Manokwari besi tua. “Kekosongan itu terutama trayek T10 yakni Tanjung Perak-Nabire-Wasir dan T12 rute Tanjung Perak-Timika-Merauke,” kata Didik seperti ditulis Antara.

Oleh karena itu, kata Didik, pihaknya berupaya dengan segala cara agar muatan balik ini dapat dioptimalkan sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. “Jadi, tol laut ini belum detil diketahui masyarakat bahwa muatan balik bisa diisi oleh barang komoditi yang disinggahi. Kemudian yang ke dua, pembelinya mungkin belum ada,” katanya.

Salah satu cara untuk menggenjot sosialisasi ini, katanya, Pelni akan menggandeng sejumlah badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan usaha milik desa (BUMDES).

“Merekalah nanti yang akan menyosialisasikan kepada masyarakat,” katanya.

Sejumlah BUMD saat ini yang sudah bekerja sama dengan Pelni adalah dari Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sulawesi Barat (Mamuju), Maluku Tenggara Barat (Saumlaki) dan Maluku Barat Daya (Moa).

Didik menambahkan pada 2018 Kementerian Perhubungan menargetkan muatan balik harus di atas 50 persen. Pada 2017, program tol laut terdiri 13 trayek dengan rincian tujuh trayek merupakan penugasan pemerintah kepada Pelni dan sisanya oleh swasta melalui tender.

Kemudian pada 2018, direncanakan meningkat jadi 15 trayek, namun, berapa untuk Pelni dan swasta belum ditentukan.

Kinerja Pelni BUMN Pelayaran ini pada tahun ini, kata Didik, menargetkan pendapatan usaha tahun ini sekitar Rp5,1 triliun dan pada 2018 naik jadi Rp5,6 triliun.

Tentu target laba juga naik dari Rp307 miliar pada 2017 menjadi Rp340 miliar pada 2018. Target laba sebesar itu antara lain disumbang target jumlah penumpang pada 2017 sebesar 3.976.743 dan pada 2018 menjadi 3.927.174.

Sedangkan untuk angkutan barang, tambah Didik, pada 2017 ditargetkan 15.529 trus (kontainer) dan pada 2018 sebesar 23.183 teus. “Penugasan 2017 untuk angkutan barang ada 7 trayek. Nah di 2018, kami ada 15 trayek. Ini memang belum tertulis, tetapi harapannya lebih banyak lagi,” kata Didik. (*)