Montrose Golf Links, lapangan golf tertua di dunia, semakin tergusur oleh erosi Laut Utara.

Perubahan Iklim Ancam Masa Depan Golf

JAKARTA (IndependensI.com) – Perubahan iklim, yang menyebabkan musim dingin yang lebih basah dan erosi daerah pesisir, mengancam masa depan golf. Peringatan itu tertuang dalam laporan Climate Coalition, kelompok pemerhati perubahan iklim Inggris yang terdiri atas 130 organisasi, Rabu (7/2/2018).

Pertandingan golf akan sulit digelar karena semakin banyaknya lubang yang tidak bisa dimainkan. Penundaan pertandingan juga bakal semakin sering karena tingginya curah hujan. Kenaikan permukaan laut mengancam lapangan golf yang berada di pesisir pantai pada 2100.

Kriket juga menghadapi “kendala di semua level” pertandingan akibat musim dingin yang lebih basah dan tingginya curah hujan di musim panas yang didorong oleh perubahan iklim.

Olahraga lain yang terpengaruh adalah sepakbola, terutama pada ketinggian rumput di lapangan. Sementara itu, industri ski Skotlandia diperkirakan runtuh dalam 50 tahun ke depan karena berkurangnya salju.

Cuaca ekstrem diperparah oleh perubahan iklim. Hal ini menyebabkan lapangan golf semakin sering ditutup. Musim dingin dan musim gugur yang lebih basah dan hangat menyebabkan pertumbuhan rumput terganggu.

Di kawasan Greater Glasgow saja, terjadi 20 persen penurunan waktu bermain di lapangan golf pada 2016-2017 dibandingkan pada 2006-2007.

Satu dari enam lapangan golf Skotlandia berlokasi di pantai. Lapangan ini terancam erosi karena kenaikan permukaan laut yang disebabkan mencairnya gunung es di kutub dan badai yang lebih kuat.

Montrose Golf Links, salah satu lapangan golf tertua di dunia, terus tergusur oleh air Laut Utara. Dalam 30 tahun terakhir, tepi laut maju sekitar 70 meter ke lapangan. Akibatnya, ada lubang yang dipindah dan ada yang hilang ditelan air.

“Tidak diragukan lagi bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama. Saya yakin golf lebih terpengaruh oleh perubahan iklim dibanding olahraga lain di luar ski,” kata Steve Isaac, direktur pengelolaan lapangan golf R&A.

“Kami sudah merasakannya sekarang dengan semakin banyaknya lubang yang tidak bisa dimainkan lagi, lebih seringnya penutupan lapangan, dan gangguan pada turnamen profesional. Ancaman ini amat nyata,” ujarnya.

Profesor Piers Forster, direktur Priestley International Centre for Climate di Universitas Leeds, mengatakan Inggris mengalami enam dari tujuh tahun paling basah sejak 2000. Musim dingin paling basah di periode itu terjadi pada 2014 dan 2015.

“Keadaan itu, ditambah dengan kenaikan permukaan laut dan lebih seringnya badai, membuktikan bahwa perubahan iklim sudah memengaruhi permainan golf bersejarah di tempat kelahirannya,” kata Forster.

“Tanpa pengurangan emisi karbon, yang mendorong perubahan iklim, kenaikan permukaan laut akan bertambah terus dan cuaca ekstrem yang lebih basah di musim dingin akan terus terjadi,” ujarnya memperingatkan.