Terbobolnya Dana Nasabah Bank BRI

Independensi.com – Kita bersyukur dapat dengan cepat mengungkap para pembobol dana nasabah Bank BRI, sehingga tidak terlalu banyak korban yang menderita kerugian, mengingat nasabah Bank BRI kebanyakan ekonomi lemah dan tinggal di pedesaan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan sigap aparat Kepolisian menanganinya sehingga para pelaku ditangkap serta diumumkan kepada masyarakat tentang kejahatan pembobol dana nasabah itu. Hal itu membuat para nasabah merasa agak lega dan  sekaligus bisa mengantisipasi dalam mengamankan dana masing-masing. Walaupun belum ada jaminan bahwa pembobolan sudah tidak ada dan para pelaku sudah tertangkap semua. Sebab yang baru tertangkap itu adalah warga negara Rumania tiga orang, dan Hongaria satu orang dan satu orang wanita warga negara Indonesia yang diperalat untuk mentransfer.

Akan tetapi, untuk memberi ketenangan bagi masyarakat kelihatannya Polri harus terus meng-up date perkembangan penanganan kasus-kasus skimming atau pengkloningan data nasabah itu. Dengan demikian, para nasabah Bank BRI dan nasabah-nasabah bank lain merasa nyaman.

Sebab masyarakat umum masih bertanya-tanya, apakah benar yang jadi korban hanya 33 nasabah Bank BRI Ngadiluwih Kediri dan 51 di Bank BRI Purbokerto? Apakah hanya Bank BRI saja yang korban dan tidak ada bank lain? Karena di bagian lain ada juga keterangan pihak kepolisian menyebutkan ada juga korban di Bank BRI Bali, Yogyakarta, Tangerang dan lain-lain tetapi tidak rinci sehingga menimbulkan kekhawatiran nasabah.

Ada juga keterangan lain Kepolisian bahwa ada 64 bank yang jadi korban tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri seperti Australia, Jerman, AS, Inggeris, Kanada, Perancis, Swiss, Denmark dan Italia yang uangnya ada di Indonesia. Artinya, bahwa nasabah bank lain apakah ada yang korban?

Ketegasan Kepolisian untuk membongkar kasus pembobolan bank yang tergolong massif ini tidak diragukan, namun dampak negatifnya bagi kepercayaan masyarakat terhadap perbankan harus cepat dipulihkan  dan penegakan hukum harus dijaga.

Dan pihak BRI maupun Bank Indonesia harus tegas terhadap siapapun yang terlibat dalam kasus pembobolan data nasabah, sebab tindakan tersebut tidak hanya criminal tetapi juga penghianatan terhadap nusa dan bangsa sebab bekerjasama dengan orang asing merugikan negara dan masyarakat sendiri.

Harus diungkap juga kelemahan apa yang ada dalam sistem perbankan kita sehingga data nasabah dapat dicuri para penjahat itu dan mengapa mereka beroperasi di Indonesia? Dalam arti kita tidak mengadopsi semua sistem dan teknologi perbankan termasuk dengan pengamanannya, sehigga kelemahan itu bisa dimanfaatkan. Atau paling tidak harus diungkap apa alasan sehingga mereka melakukan kejahatan tersebut di Indonesia. Apakah sistem atau kelemahan penegakan hukum dan mental pejabat kita yang jadi alasan, perlu diketahui masyarakat.

Kita hargai kesigapan pimpinan Bank BRI menyatakan tanggung jawabnya atas kerugian yang diderita nasabah, tetapi tidak hanya mengganti kerugian nasabah tetapi juga menindak siapa yang salah serta terbuka tentang siapa dan berapa korban pembobolan bank tersebut, karena agak kurang masuk akal kalau hanya mereka yang terkena musibah itu rugi hanya di bawah sepuluhan juta rupiah, sebab masih tanda Tanya, para penjahat itu datang dari Rumania dan Hongaria hanya untuk dana-dana sebesar itu? Ada apa?

Kita sebagai bangsa hendaknya semakin dituntut semakin meningkatkan ketahanan nasional termasuk dalam mengamankan serta menjamin dana-dana nasabah di bank, dan pihak bank tidak hanya mencari untung saja tetapi harus benar-benar menunjukkan tanggungjawabnya tidak hanya untuk dana yang besar-besar tetapi justru menjaga dana orang-orang kecil yang mungkin hanya memiliki harta yang ada di Bank BRI tersebut.

Sifat kehati-hatian pihak bank sebagai modal utama memelihara kepercayaan publik, kelihatannya semakin dituntut dan tidak utopis, dan mudah-mudahan itu juga menyangkut nasabah kecil di pedesaan yang kadangkala memiliki kelemahan administrasi.

Ada baiknya pula apabila Bank BRI termasuk Bank Indonesia meningkatkan standar kecanggihan teknologi pengamanan uang nasabah di bank, sehingga para penjahat jaringan internasional itu tidak menjadikan Indonesia sebagai lahan untuk menjalankan aksinya. Para nasabah harus diyakinkan, sehingga kepercayaan publik terhadap perbankan nasional kembali pulih seperti sedia kala.

Upaya-upaya pencegahan itu harus diungkap secara jujur kepada publik, supaya masyarakat menjadi tahu bahwa pihak BRI maupun Bank Indonesian sungguh-sungguh dalam memberikan rasa nyaman bagi nasabah.  Sebab kejujuran itu, apalagi disampaikan ke masyarakat adalah suatu modal utama dalam memelihara kepercayaan publik. (Bch)