Rivani Adelia Sihotang (Dokumentasi)

Tanpa Pegolf Mancanegara, OJAO 2018 Dijamin Tetap Ketat

JAKARTA (IndependensI.com) – Berbeda dengan OJAO II 2016 dan OJAO III 2017 yang mengusung tema Road to PON dan Go International, turnamen golf OJAO IV yang akan berlangsung di Jagorawi Golf & Country Club, Cibinong pada 7-9 Mei 2018, sama sekali tidak menggunakan tagline.

Meskipun begitu bukan berarti bahwa pada event kali ini takkan terjadi persaingan ketat antarpegolf.

Justru OJAO IV tahun ini membuka peluang bagi para pegolf amatir terbaik dari Klub, Pengkot/Pengkab dan Pengprov PGI dari seluruh Indonesia untuk unjuk keterampilan mereka seoptimal mungkin, karena pesaing mereka adalah sesama pegolf lokal yang sering mereka hadapi di berbagai ajang kompetisi di tingkat nasional.

Apalagi dari sebuah sumber yang sangat dipercaya IndependensI.com mendapat kabar bahwa beberapa pegolf nasional yang akan tampil di Asian Games XX 2018 Indonesia – terutama tim putri – tidak akan tampil di OJAO IV.

Karena, menurut sumber tersebut, pada waktu bersamaan mereka akan tampil di luar negeri di kejuaraan Queen Sirikit’s Cup.

Sehingga, dengan demikian, para pegolf putri dari seluruh Indonesia yang akan bersaing di OJAO IV Mei mendatang aman dari rintangan berat yang selama ini menjadi batu sandungan bagi mereka untuk merebut gelar juara.

Kenapa?

Karena, Rivani Adelia Sihotang, yang merupakan juara bertahan pada OJAO IV tahun ini absen. Rivani dan kawan-kawan yang tergabung di timnas golf Asian Games 2018 akan berkompetisi dalam event berskala Asia-Pasifik tersebut.

Freddy Gondo Wibowo (kiri) dan Au Bintoro (kanan) diabadikan bersama Kevin dan Rivani juara OJAO II 2016.

Sementara bagi tim golf dari Pengkot/Pengkab yang berada di bawah payung hukum Pengprov PGI Jawa Barat, OJAO IV akan mereka jadikan sebagai ajang uji coba sebelum mereka masing-masing mewakili Kota dan Kabupaten se-Jawa Barat dalam PORDA Jabar 2018 pada Oktober mendatang di Kabupaten Bogor.

Sedangkan bagi para pembina golf amatir yang berasal dari seluruh Indonesia, event OJAO IV pun akan dijadikan ajang untuk mengetahui telah sejauh mana atlet golf binaan mereka dalam mengasah keterampilan mereka di tingkat lokal, sehingga sejak dini para pembina golf amatir dari tiap-tiap daerah tersebut memiliki banyak pilihan siapa saja yang kiranya bakal terpilih untuk bisa masuk ke dalam tim PON XX Papua 2020.

Harus diakui bahwa event Olympic Jabar Amateur Open, yang tahun ini telah memasuki tahun keempat adalah event yang selalu ditunggu-tunggu oleh segenap insan golf – dari para pembina sampai ke para pegolf itu sendiri.

Karena, selain iklim kompetisinya sangat kompetitif, penyelenggaraannya sendiri tetap berbasis pada pembinaan demi peningkatan prestasi para atlet baik di tingkat nasional, regional maupun internasional.

Memang banyak pihak yang sangat mengapresiasi terhadap “kegilaan” pribadi lepas pribadi yang berada balik layar OJAO (dalam hal ini kalaborasi antara Pengprov PGI Jawa Barat di bawah pimpinan H.Sirod Zudin dan Au Bintoro Ketua Umum Olympic Golf Club), yang tetap peduli terhadap pembinaan sekaligus peningkatan prestasi golf Indonesia.

Dalam suatu kesempatan bertemu dengan IndependensI.com, Au Bintoro menyatakan bahwa turnamen golf OJAO akan menjadi kegiatan tahunan. “Jadi,” tukas Au Bintoro. “Setelah OJAO empat, selanjutnya akan ada OJAO lima… Dan, seterusnya,” tegasnya.

Au Bintaro mengaku secara terus terang bahwa untuk menyelenggarakan turnamen golf – apalagi kejuaraan prestisius seperti OJAO – kendala utamanya adalah masalah dana, sponsor. Tapi, berkat kerja keras dan kerjasama yang baik dari semua pihak, setiap muncul masalah, tetap ada solusinya. Terbukti tahun ini OJAO telah memasuki tahun keempat.

Jadi masalahnya bukan bisa atau tidak. Tapi, mau atau tidak berkorban untuk kepentingan yang lebih besar.

Oleh karena itu, berbahagialah para pembina dan pegolf di seluruh Indonesia, karena event OJAO akan menjadi sebuah event yang berkelanjutan, dengan biaya yang terjangkau bahkan bagi dua orang atlet golf terbaik dari seluruh Indonesia – baik putra maupun putri – mereka dibebaskan dari green fee. (Toto Prawoto)