Kementerian ESDM Apresiasi Peran Pihak Ketiga dalam Penanganan Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan

JAKARTA (IndependensI.com) – Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Soerjaningsih mengapresiasi langkah penanggulangan tumpahan minyak yang terjadi di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur pekan lalu, sehingga dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama kasus tumpahan minyak dari pipa Pertamina tersebut bisa diatasi dengan cepat.

“Kita bersyukur karena ada kerja sama yang baik antarinstansi terkait, terutama dengan bantuan pihak ketiga, sehingga penanganan tumpahan minyak dari putusnya pipa crude oil di Balikpapan bisa berjalan lancar. Berdasarkan prakiraan terburuk disiapkan peralatan seperti oil boom, penyedot minyak (skimmer), sumberdaya manusia, dan strategi penanganan termasuk koordinasi dan kerjasana dengan pihak-pihak lain. Hal itu disampaikan Direktur Teknik Lingkungan Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Soerjaningsih kepada wartawan, Senin (9/4/2018) di Jakarta.

Pertamina Balikpapan, lanjutnya, bertindak cepat dengan mengundang instansi terkait dalam menangani tumpahan minyak tersebut, terutama pihak ketiga yakni perusahaan yang expert di bidang penanggulangan tumpahan minyak. “Sebagaimana kita saksikan penanggulangan tumpahan minyak berjalan efektif. Sebagian besar tumpahan telah dibersihkan. Kerjasama para pemangku kepentingan sangat baik,”jelasnya.

Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pelabuhan Balikpapan, Sanggam Marihot mengaku sangat lega karena penanganan tumpahan minyak di Teluk Balikbaban yang menjadi berita hangat di dalam negeri maupun media internasional bisa teratasi dengan cepat. Sebuah kerja sama yang baik dengan pihak-pihak terkait yang dibidang penanggulangan tumpahan minyak. “Banyak perusahaan yang terlibat dalam membantu Pertamina mengatasi secepatnya tumpahan minyak tersebut,” katanya.

Menurut Sanggam, keterlibatan sejumlah perusahaan swasta dalam membantu Pertamina sangat efektif, sehingga masalah bisa ditanggulangi dengan baik dan cepat. Ada beberapa perusahaan yang membantu seperti OSCT (Oil Spill Combat Team) Indonesia, BCT (Balikpapan Coal Terminal), Chevron Indonesia Oil Company (CICO), Petrosea dan lainnya.

“Kehadiran perusahaan seperti OSCT sangat bagus, karena perusahaan ini memang lebih expert bergerak di bidang penanggulangan minyak tumpah,” tuturnya.

Direktur Pengolahan PT Pertamina Toharso membenarkan adanya keterlibatan sejumlah pihak membantu Pertamina menangani tumpahan minyak yang terjadi sejak Sabtu 31 Maret 2018.

“Kami dibantu banyak pihak termasuk OSCT. Kami ingin secepatnya bisa mengatasi tumpahan minyak. Lebih cepat, lebih bagus,”tutur Toharso.

Di bagian lain, OSCT Command Center sewaktu di telpon mengatakan sebagai perusahaan penanggulangan pihaknya membantu di Balikpapan untuk pembersihan dan rekomendasi strategi pembersihan tumpahan dengan cepat dan timnya sudah tiba dilokasi sejak hari kejadian yakni Sabtu, 31 Maret 2018 dan diwakilkan oleh Yodi Satya, Operations Director dan sudah mengerahkan oil and absorbent boom sepanjang 1000 meter, skimmer dan tenaga ahli lebih dari 20 orang. “Kami membantu menangani wilayah pantai Benoa Patra, Semayam, dan sekitar Teluk Balipapan,” katanya.

“Seluruh tenaga ahli OSCT itu merupakan tenaga ahli yang memiliki sertifikat IMO Level 1, 2 dan 3 serta terakreditasi oleh Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan dan The Nautical Institute  London, sehingga layak membantu penanggulangan tumpahan minyak,” tuturnya.

Secara umum penanggulangan tumpahan minyak Pertamina yang diperkirakan sekitar 40.000 barel tersebut berjalan dengan baik karena adanya kerja sama perusahaan di Balikpapan. Peran perusahaan jasa penanggulangan tumpahan minyak yang mempunyai kapasitas dan kesiapsiagaan juga menjadi faktor keberhasian. Meski sebagian besar minyak sudah berhasil dikumpulkan, sebagian masih ada di tempat tersebar akibat pasang surut. Umumnya yang tersisa dalam volume kecil yang tersebar dan menempel pada tiang rumah, tiang dermaga, dan pohon mangrove. “Ini membutuhkan waktu lama membersihkannya,” kata Dr I Gusti Suarnaya Sidemen, Kepala Subdirektorat Keteknikan dan Keselamatan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM.