Pemerintahan Jokowi Diminta Tidak Hanya Fokus Pembangunan Infrastruktur

JAKARTA (IndependensI.com) – Pemerintahan Presiden Joko Widodo ingatkan agar pemerintah tidak hanya menggenjot infrastruktur. Ekonom Syarkawi Hauf, meminta pemerintah juga harus memikirkan shifting (pengalihan) anggaran untuk sektor lain. Dia menjelaskan, jangan sampai pemerintah terlalu terlena dengan pembangunan infrastruktur. Namun, malah melupakan pengembangan sumber daya manusia yang bisa menjadi soft-structure.

“Kalau pembangunan besar itu sudah selesai semua, macam jalan Trans Sumatera, Trans Jawa, Trans Papua, dan yang lain selesai dan terkoneksi dengan baik. Jadi ini saatnya kita shifting, mengubah yang tangible ke intangible,” kata Syarkawi, di acara Evaluasi Ekonomi 2018 dan Outlook 2019, di KAHMI Center, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Menurut Syarkawi, pengadaan anggaran yang terlalu berlebihan untuk infrastruktur saja tidak baik. Dia mencontohkan kegagalan yang dialami Portugal setelah terlalu berlebihan mengalokasikan dana ke infrastruktur.

“Karena over invest di infrastruktur juga bahaya, ibaratnya kaya yang waktu itu di Portugal ya. Saya pernah kesana, dulu dia pernah kencengin infrastruktur biar bisa buat tuan rumah euro, tapi sekarang malah banyak yang tidak terpakai fasilitasnya,” jelasnya.

Syarkawi menyebutkan, bahwa pembangunan masif di Indonesia ini bagaikan revolusi, yang ia sebut Revolusi Tahap Pertama. Menurutnya, harus ada Revolusi Tahap Kedua yang berfokus ke pengembangan sumber daya manusia.

“Saya pikir cukuplah untuk (infrastruktur) itu, ini saya berani bilang ini adalah Revolusi Tahap Pertama. Cuma revolusi ini aja nggak cukup tapi harus ada intangible-nya SDM-nya,” kata Syarkawi.

Syarkawi juga menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia ini dampaknya jangka panjang.  “Karena ini yang akan menopang ekonomi kita jangka panjang, karena modalnya adalah inovasi teknologi,” pungkasnya.