Debat Menambah Kesadaran Masyarakat

Independensi.com – Sabtu malam, akan berlangsung debat Calon Presiden/Wakil Presiden Tahun 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum. Debat ke-empat ini bertemakan Ideologi, Pemerintahan, Keamanan dan Hubungan Internasional.

Debat ini menarik bagi para pendukung masing-masing baik sebagai kompetisi maupun sebagai tontotan seorang idola dengan harapan sang idola tampil sebagai pemenang. Karenanya debat itu bagi sebagian orang sulit merubah pilihan, kecuali bagi mereka yang masih belum menentukan pilihan kalaupun ada tidak signifikan jumlahnya.

Kedua pasangan calon adalah tokoh lama di mata masyarakat, secara luas telah diketahui bagaimana sepak terjangnya, kalaupun ada yang berbeda itu karena diembel-embeli orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Joko Widodo sudah jelas mantan walikota Solo, Gubernur DKI dan sekarang petahana Presiden RI. Calon wakilnya Prof. Dr. Ma’ruf Amin kiayai besar dan seorang iman besar, pendidik pernah menduduki beberapa posisi penting di negara ini.

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, seorang purnawirawan jenderal, mantan Danjen Pasukan Elit terpandang di dunia, Panglima Kostrad, putra Begawan ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusmo, menantu Presiden Soeharto, ideologinya tidak diragukan masalah keamanan pernah bagian dari hidupnya dia berpengalaman internasional, hanya saja belum pernah duduk di pemerintahan.

Calon wakilnya Sandiaga Salahudin Uno, seorang pengusaha dan termasuk orang terkaya di Indonesia, pengusaha muda yang bertangan dingin, apapun di pegang semua menghasilkan uang berpendidikan internasional.

Siapa, mengapa, bagaimana, dimana serta kapan tentang sepak terjang kedua paslon masyarakat tahu, jadi debat itu hanya untuk pengesahan dari pengetahuan public saja sekaligus untuk menambah pengetahuan serta meningkatkan kesadaran tentang apa yang sudah berlangsung serta bagaimana yang seharusnya serta bagaimana memperbaikinya.

Mungkin dalam debat itu akan terlihat beda pemimpin latar belakang sipil dan ulama di satu pihak dan latar belakang militer dan pengusaha di pihak lain dalam menyelesaikan keempat tema di atas, seorang sipil dan rohaniawan biasanya menggembalakan “jemaatnya” dengan kasih sayang untuk tidak mengulangi perbuatannya, sementara militer sesuai dengan dunianya yang tidak mau menanggung risiko sekecil apapun, langsung tindak.

Oleh karenanya paparan kedua paslon itu tidak ada yang salah maupun benar, dua-duanya adalah benar sesuai dengan pola pikir masing-masing. Sebab sulit untuk menilai karena apa yang dikemukakan adalah rencana yang kalau terpilih pelaksanaannya tidak terlepas dari faktor-faktor pendukung yang menyertainya.

Bagi Jokowi lebih mudah menjelaskan apa yang telah dilakukannya serta mana yang belum,  sementara Prabowo telah berpengalaman dalam menyelesaikan penyanderaan peneliti asing di Mapenduma Irian Jaya puluhan tahun lalu. Yang menyangkut ideologi dan keamanan.

Dalam masalah pemerintahan, Jokowi dari Walikota sampai Presiden telah menunjukkan kemampuannya, prestasinya amat spektakuler dibanding pendahulunya, jelas terpampang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Rote. Tidak ada gejolak mungkin karena Jokowi-JK taat aturan yang salah itu salah, sehingga semua menerima.

Para koruptor sebagai warisan masa lalu pelan tapi pasti diberantasnya, tidak pandang bulu. Bahkan KPK sempat “diganggu” DPR sehingga seolah-olah Jokowi saja yang anti korupsi sementara pemimpin lainnya tidak setuju pelaksanaan OTT oleh KPK.

Bidang keamanan selama kepemimpinan Jokowi, memang ada di Papua dan Sulawesi Tengah sebagai sisa masa lalu, pelan tapi pasti akan semakin berkurang sebab masalah keadilan sudah diatasi. Kalau masalah terorisme, yang dengan peraturan perundang-undangan telah diupayakan menyelesaikannya.

Mengenai hubungan internasional, tidak ada hambatan bagi pemerintahan Jokowi-JK dengan politik luar negeri yang bebas dan aktif, hubungan bilateral, regional dan internasional posisi tawar Indonesia cukup menonjol.

Selama pemerintahan Jokowi-JK tidak ada persoalan yang mengganjal, berbagai masalah dapat diatasi, baik hukum maupun perdagangan serta tenaga kerja. Terbukti banyak negara yang menaruh harapan bagi Indonesia khusus dalam mengatasi kemelut Palestina, agar Indonesia me- mediatori.

Berbagai kasus dapat dijadikan contoh, misalnya pelaksanaan hukuman mati bagi para bandar narkoba, dunia internasional menerima argument Indonesia; terakhir pembebasan bersyarat Siti Aisah di Pengadilan Malaysia, dimenangkannya Pemerintah Indonesia di arbritrase Internasional (International Center for Settlement of Investmen Disputes –ICSID) dalam kasus gugatan ganti rugi oleh Churchill Mining Plc dan Planet Mining Pty Ltd.

Debat dua paslon putra-putra terbaik bangsa ini akan menarik, tidak hanya sebagai tontonan sebab salah satu pasangan dari mereka akan menjadi pemimpin kita lima tahun ke depan.

Apakah nanti Prabowo Subianto mengelaborasi paparan Jokowi atau akan memberikan gagasan baru dalam empat tema itu, tetap akan memberikan pemahaman baru. Kita juga akan mendengar komentar para ahli dan pengamat termasuk para analisis pendukung, namun kita harapkan semuanya dengan itikat baik dan proporsional, sebab belakangan ini sering ada yang berkelebihan. (Bch)