Progres Pembangunan Jembatan Pulau Balang II Capai 69%

SAMARINDA (IndependensI.com) — Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Kota Balikpapan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur Sampai saat ini sudah mencapai 69 %.

Dari informasi yang diperoleh IndependensI.com proses pembangunan Jembatan Pulau Balang mengalami beberapa kendala salah satunya karena kontur tanahnya yang keras  sehingga dalam pemasangan 144 unit tiang pancang molor hingga 1tahun karena dasar lautnya ternyata batu, kendala lainya adalah curah hujan yang cukup tinggi di lokasi pembangunan karena sebagian besar material harus didatangkan dari luar Kalimantan, seperti semen dari Tonasa, Makassar, pasir agregat dari Palu, dan fly ash campuran beton dari Paiton, dan alat berat dari Jakarta.

Jembatan Pulau Balang ini memiliki lebar 22,4 meter yang terdiri dari empat lajur dua arah dengan lebar masing-masing lajur 3,5 meter disertai jalur pejalan kaki dengan lebar 2,5 meter.

Jembatan tipe cable stayed ini dibangun bersama antara Kementerian PUPR bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara. Konstruksi jembatan utama sepanjang 804 meter, jembatan pendekat sepanjang 167 meter, dan jalan akses sepanjang 1.969 meter dikerjakan oleh Kementerian PUPR dengan biaya pembangunan Rp 1,33 triliun.

Sementara untuk jalan akses di sisi Penajam dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara dan jalan akses Balikpapan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Apabila Jembatan Pulau Balang ini selesai maka konektivitas dan aksesibilitas Jalan Lintas Selatan Kalimantan semakin lancar karena jarak dan waktu tempuh akan menjadi lebih pendek yakni sekitar 30 km dan dapat ditempuh dalam satu jam.

Saat ini, kendaraan dari Balikpapan menuju Penajam dan akan melanjutkan perjalanan ke Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan dan kota lainnya harus memutar dengan jarak sekitar 100 km dengan waktu tempuh 5 jam.

Alternatif lainnya adalah menggunakan kapal ferry dengan waktu penyeberangan sekitar 1,5 jam belum ditambah waktu antri menuju kapal ferry. Waktu antri akan bertambah lama apabila bertepatan dengan hari libur mengakibatkan waktu tempuh dan biaya angkut kendaraan tidak efisien.

Dengan adanya jembatan Pulau Balang yang menjadi penghubung jaringan jalan poros selatan Kalimantan, jembatan ini juga mendukung rencana pembangunan pelabuhan peti kemas Kariangau dan kawasan industri Kariangau.(***)