Raja Sapta Oktohari. (Dok/Ist)

Atlet Berlatih Meski Covid-19 Belum Berakhir

JAKARTA (Independensi.com) – Menyusul agenda kegiatan yang padat pada tahun 2021, para atlet mau tidak mau harus kembali berlatih meski pandemi Covid-19 belum berakhir. Prosedur latihan di era kebiasaan baru pun harus disiapkan, seperti yang dibahas dalam webinar yang digelar Komisi Sport Medical NOC Indonesia, Rabu (7/10).

Webinar dengan tema “Panduan bagi Atlet untuk Kembali Berlatih di Masa
Pandemi Covid-19” berlangsung selama dua hari dan pada hari pertama
menghadirkan lima narasumber dari kalangan medis dan pengurus cabang
olahraga.

Anggota Komite Eksekutif NOC Indonesia, Antonius Adi Wirawan, yang
membawahi Komisi Sport Medical, mengatakan, webinar ini diikuti lebih dari 450 peserta, yang terdiri dari pengurus cabang olahraga, praktisi, serta akademisi.

Situasi pandemi membuat hampir seluruh kegiatan terhenti menjadi tantangan bagi para atlet karena mereka tidak dapat berlatih secara normal. Oleh sebab itu, diperlukan panduan serta aturan yang merujuk pada regulasi yang dikeluarkan
oleh Komite Olimpiade Internasional, IOC, serta federasi olahraga Internasional.

“Setiap cabang olahraga memiliki karakter masing-masing sehingga setiap cabor memiliki treatment atau standar yang berbeda, meski perlakuan yang sama bisa dilakukan pada olahraga yang sejenis. Kami berusaha terus meningkatkan prestasi di tengah pandemi yang masih berlangsung dan belum tahu kapan berakhirnya. Semoga webinar ini bisa memberi pencerahan dan ilmu yang bermanfaat,” ujar Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari melalui rilisnya, Rabu (7/10/2020).

Harapan serupa disampaikan Deputi 4 bidang peningkatan prestasi olahraga Kemenpora, Candra Bhakti mengatakan, salah satu hikmah dari masa pandemi ini adalah meningkatnya kedisiplinan atlet untuk menjaga kondisi dan performanya dalam menghadapi kompetisi mendatang.

“Tantangan pada tahun 2021 adalah begitu padatnya kalender multievent sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk menghadapinya, apalagi bagi atlet yang di masa pandemi ini tidak bisa berlatih secara optimal. Webinar ini memberi solusi konkrit bagi penyiapan atlet kita menghadapi multievent maupun single event pada tahun 2021,” katanya saat membuka webinar secara resmi.

Rantai Penularan

Sebagai narasumber pertama, Prof. dr. Menaldi Rasmin, SpP(K), memaparkan
secara terperinci tentang Covid-19, penyebaran, gejala, dan bagaimana potensi transmisi dalam kegiatan olahraga. Menurutnya, tantangan besar ada pada olahraga beregu dan lokasi yang potensial terjadinya penyebaran, yaitu di dalam ruang tertutup. Maka, yang harus dilakukan adalah memutus rantai penularan dengan pemeliharaan dan penjaminan kesehatan untuk seluruh ofisial dan atlet.

“Vaksin dan obat bukanlah solusi. Kita harus memutus rantai penularan. Bagaimana caranya? Dengan pemeriksaan berkala dan sesaat, deteksi dini, pengobatan, pemulihan, dan penelusuran. Pemeriksaan berkala dan segera saat ada keluhan harus dilakukan dengan memahami jenis pemeriksaan,” katanya.

Sementara itu, Dr. dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K), mengatakan, pandemi Covid-19 memang mengharuskan para atlet menghentikan latihan dengan intensitas tinggi karena dapat mengakibatkan turunnya imunitas sesaat sehingga membuat tubuh menjadi rentan. Untuk dapat kembali berlatih dan berkompetisi selama pandemi, Hananto merekomendasikan perlunya adanya kebijakan/prosedur Kesehatan yang dikembangkan oleh para dokter dari berbagai disiplin dan juga para pelatih, serta berkoordinasi dengan otoritas lokal.

Saat memaparkan implementasi tata cara latihan untuk olahraga air di era
kebiasaan baru, Dr. dr. Shannaz Nadia Yusharyahya, SpKK(K), menekankan
pentingnya disiplin para pelaku olahraga dalam menjalankan protokol
kesehatan yang berlaku. Selain itu, screening terhadap para pelaku, baik atlet, pelatih, pengelola klub, dan pengelola kolam renang, wajib dilakukan. Menurutnya, screening tidak
perlu dengan melakukan rapid test melainkan dengan melihat gejala. Karena itu, juga diperlukan kejujuran dari setiap orang yang terlibat.

Olahraga beregu yang dilakukan di dalam ruang tertutup memiliki risiko
penularan yang lebih besar, seperti yang dipaparkan dr. Marlinda Adham, Sp. THT-KL(K), PhD. Karenanya perlu perencanaan matang untuk menurunkan risiko pada atlet dan juga orang lain. Screening gejala, manajemen latihan, pembatasan jumlah personil yang terlibat, dan pembersihan alat latihan secara berkala menjadi hal-hal yang direkomendasi oleh Linda, selain juga tetap melakukan protokol yang selama ini dianjurkan, yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan.

Untuk lapangan olahraga yang ada di ruang tertutup, mantan atlet basket
nasional ini merekomendasikan ruangan dengan ventilasi intensitas tinggi, penggunaan filter udara efisiensi tinggi, serta akses terhadap APD darurat dan tenaga medis. Webinar akan dilanjutkan pada Kamis (8/10) dengan menghadirkan enam narasumber lain dan dapat disimak melalui kanal YouTube Olympic Channel of Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *