Yoseph Minai. (Ist)

Yoseph Minai, Menggapai Mimpi dari Ketiadaan

JAKARTA (Independensi.com) – Menjadi manusia sukses, tapi bergerak dari ketiadaan itu tidaklah mudah. Hal ini dialami oleh Yoseph Minai. Pemuda asal Dogiyai, Papua ini memiliki mimpi yang sangat mulia, yakni menyerahkan hidupnya untuk berjuang demi kampung halamannya. Hingga mimpi itu terwujud, dengan semangat dan tekad yang menggebu-gebu, Pria sederhana kelahiran Saikonai, Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai, Papua pada 02 April 1989 silam itu memantapkan tekad dan niatnya terjun ke dunia politik pada Pileg 2019.

Mimpi tersebut telah digadang-gadangnya semenjak menjadi mahasiswa di Universitas Pakuan Bogor. Ketika jadi mahasiswa, Putra dari Bapak Markus Minai dan Ibu Yohana Yupi ini terlibat aktif di berbagai organisasi intra kampus dan ekstra kampus. Tidak tanggung-tanggung, dalam berorganisasi, Yoseph Minai dipercaya sebagai ketua Keluarga Mahasiswa Katolik Pakuan (KMKP) dan pernah menjabat sebagai Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Bogor periode 2013-2015.

Dari keaktifan menempa dirinya bergelut di dunia organisasi mahasiswa tersebut, Yoseph Minai tumbuh menjadi pemuda tangguh yang percaya diri dan semakin mantap dalam memanajemen situasi hidup yang dialaminya. Pintar dan cerdas dalam bersosial, membuat Yoseph Minai disukai oleh teman-teman kampusnya, kendatipun dirinya berbeda dengan teman lainnya, tapi hal itu tidak menjadi sebuah sekat untuk cita-cita hidupnya.

Yoseph Minai juga seorang yang sangat tekun dan pekerja keras, ia juga selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Baginya, cita-cita hidup harus diperjuangkan sebisa mungkin. Karena sebagai manusia, peziarahan di dunia adalah sebuah ujian menuju kemantapan diri, kemantapan berpikir, bertutur dan bertindak dengan hati serendah tanah dan pikiran setinggi langit.

“Hidup harus terus berjuang menuju hari esok lebih baik dari hari ini”

Penggalan kalimat heroik di atas adalah motto hidup dari seorang Yoseph Minai. Perjuangan-perjuangan hidup Yoseph Minai adalah semacam bunga yang tumbuh di atas batu karang. Banyak pengalaman pahit yang telah dilaluinya membuat dirinya semakin kuat dalam mengurai teka-teki hidupnya. Kisah getir dan manis adalah cambuk kesuksesan bagi dirinya untuk pantang menyerah, apapun itu, seberat apapun cobaan yang dihadapi, jika masih memiliki iman dan harapan, semua harus dilalui.

Pada tahun 2014 silam, Yoseph Minai menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi Universitas Pakuan Bogor dengan menyabet gelar sebagai Sarjana Pendidikan. Harapan untuk meraih mimpi semakin nyata saat itu. Keinginan untuk pulang kampung dan mengabdi pada tanah kelahirannya semakin menggebu-gebu. Seusai menamatkan pendidikannya di Unpak Bogor, Yoseph Minai membulatkan tekadnya untuk pulang kampung pada tahun 2014.

Kecintaannya pada tanah kelahirannya membuat Yoseph Minai harus mengambil langkah tepat dan bijak. Ilmu yang diwariskan dari tanah perantauan harus diterjemahkannya dalam hidupnya. Hal ini karena sedari awal Yoseph Minai ingin memajukan kampung halamannya, salah satu mimpinya adalah memotivasi para anak-anak sekolah untuk berpikir maju, bangkit dari ketepurukan dan berani menagmbil resiko.

Pulang kampung demi mengabdi dan membangun tanah kelahiran adalah mimpi tetapi sekaligus resiko yang harus dihadapi. Dua hal yang yang dialui dalam tempo bersamaan. Ada kekuatiran dan ketakutan. Takut jika dirinya gagal dalam menggapai mimpi, apalagi dia adalah lulusan luar kota, yang tentunya memiliki sedikit banyak pengalaman dan kemajuan dalam berpikir pun kemantapan dalam diri. Yoseph Minai paham, bahwa memilih pulang kampung adalah mengubah waktu dari titik nol. Apalagi dia adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Tentu ada beban hidup dan tanggungan keluarga yang dilimpahkan pada pundaknya.

Menjadi Guru Membangun Masa Depan Kampung Halaman

Menjadi guru adalah konsekuensi logis yang diambil Yoseph Minai ketika pulang kampung. Dengan ilmu yang pernah didalaminya semasa kuliah, pria kelahiran 1989 tersebut mengirim lamaran dari sekolah ke sekolah yang ada di Kabupaten Dogiyai dan Nabire. Dalam kecemasannya menunggu jawaban dari lamaran yang ia kirim. Yoseph Minai akhirnya diterima mengajar di SMA Negeri 2 Nabire pada 2015 sebagai guru Agama Katolik dan Bimbingan Konseling bagi para siswa yang nakal. Saat itu, Yoseph Minai juga diangkat sebagai staf kesiswaan selama 4 tahun, dari 2015-2019.

Empat tahun menjadi guru, Yoseph Minai memberikan banyak pelajaran berarti bagi anak-anak peserta didik. Ketua PMKRI Bogor 2013-2015 tersebut selalu memberikan motivasi hidup yang berharga pada setiap siswa yang ia didik. Di sekolah itu, Yoseph Minai dikenal ramah dan disiplin. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai guru yang suka membantu, dekat dengan setiap orang, dan cerdas dalam berwibawa.

Selama menjadi guru, Yoseph Minai telah menginspirasi banyak orang. Terlebih dalam cita-cita hidup dan berkarya bagi kampung halaman. Bagi Yoseph Minai, menjadi guru tidak sekadar menjadikan peserta didik menghafal perkalian, mampu membedakan abjad A-Z, tetapi lebih dari itu, siswa harus digembleng dalam ketajaman intuisi dan kreatifitas, peka terhadap situasi sosial, membangkitkan gairah hidup dan cita-cita para murid, juga menjadi manusia yang bermoral dan beradab.

Dengan moral dan ketajaman intuisi, setiap pribadi akan tumbuh menjadi manusia bernilai dan berharga, seperti mutiara di lautan, dan kepak Cendrawasih di belantara hutan. Semasa jadi guru, Yoseph Minai juga menikahi seorang gadis bernama Yufenia Makai dan kini telah dikaruniai dua orang anak laki-laki dan perempuan.

Dari Guru Menjadi DPRD Dogiyai

Berangkat dari cita-citanya semenjak menjadi aktivis mahasiswa, Yoseph Minai merasa ada hal yang masih harus digarap dalam mewujudkan cita-citanya untuk masyarakat dan kampung halamannya.

Pada 2019, Yoseph Minai resign dari guru dan memantapkan niatnya menjadi wakil rakyat di Kabupaten Dogiyai. Tekad itu ia bulatkan dengan menjadi peserta Pileg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam momentum tersebut, berkat pengalaman organisasi dan berbagai pengalaman sosial yang ia gelut, Yoseph Minai terpilih menjadi DPRD Kabupaten Dogiyai masa bakti 2019-2024, dengan mengantongi 2.831 suara.

Tidak hanya itu, berkat kemantapan publik speaking, vokal dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, Yoseph Minai juga dipercayakan sebagai Wakil ketua Komisi 1/Ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Dogiyai masa Bakti 2019-2024. Dari cerita beredar, Yoseph Minai digandrungi masyarakat karena kesederhanaan, dan berbagai hal yang ia perjuangkan untuk memajukan Dogiyai.

Mimpi itu terus dirawatnya bersamaan dengan cita-cita masyarakat di tanah kelahirannya Dogiyai. Menjadi pemimpin, menurut Yoseph Minai adalah siap berjuang mewujudkan mimpi-mimpi masyarakat; pace dan mace yang menggantungkan mimpi pada pemimpin di tanah Papua. Lebih dari itu, semuanya harus terus diwartakan dengan kasih, dan spirit melayani harus terus bernyala dalam diri pemipin itu sendiri.

Pria sederhana dari Saikonai, Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai, Papua itu akan terus meramu mimpinya. Kesetiaan untuk mendedikasikan hidupnya pada tanah kelahirannya akan terus ia wartakan dalam hari-hari yang dilalui. Jika ada paggilan untuk melangkah ke DPRD Provinsi dan jika rakyat menghendaki, pria sederhana itu akan melaju, asal rakyat bersamanya dan spirit melayani terus bernyawa dalam dirinya hingga satu saat, mungkin menjadi pemimpin di tanah Papua.

Penulis: Yogen Sogen, Founder Jaringan Milenial Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *