Strategi Garuda Indonesia Bertahan Ditengah Jeratan Hutang yang Mencapai Rp 70 Triliun

JAKARTA (IndependensI.com) – PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) Tbk atau GIAA sedang mengalami kesulitan keuangan akibat kesalahan pengelolaan di masa lalu dan terkena dampak pandemi Covid 19. Utang maskapai plat merah terus membengkak hingga mencapai Rp70 triliun dan diperkirakan terus bertambah Rp 1 triliun tiap bulannya.

Baru-baru ini, manajemen Garuda Indonesia menawarkan pensiun dini kepada karyawan sebagai salah satu upaya bertahan. Penawaran pensiun dini akan berlangsung hingga 19 Juni 2021 juga diikuti dengan rencana perseroan memangkas jumlah pesawat yang beroperasi.

Untuk terus bertahan di tengah goncangan yang ada, perusahaan mempersiapkan berbagai strategi. Manajemen Garuda Indonesia terus melakukan optimalisasi pengelolaan sejumlah lini bisnis potensial untuk mendukung peningkatan pendapatan usaha.

Selain pensiun dini dan pengurangan jumlah operasional pesawat, langkah lain yang dilakukan perseroan adalah meluncurkan promosi Garuda Eco Lite, Garuda Online Travel Fair.

“Lalu meluncurkan program promosional berupa Garuda Eco Lite, Garuda OnlineTravel Fair dan ThankGod Its Friday serta berbagai program promosional lainnya,” demikian keterangan managemen dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (31/5/2021).

Perseroan juga melakukan pembukaan penerbangan langsung khusus kargo guna mendukung daya saing komoditas ekspor nasional dan pengembangan UMKM. Serta pengoperasian pesawat passenger freighter, optimalisasi layanan carter kargo, dan pengembangan layanan pengiriman barang Kirim Aja berbasis aplikasi digital.

“Sejalan dengan optimalisasi bisnis cargo, perseroan berencana untuk memperbesar porsi pendapatan usaha dari lini bisnis cargo hingga 40 persen dari sebelumnya 10 hingga 15 persen,” lanjut keterangan manajemen.

Dari sisi biaya dan utang, perseroan saat ini telah dan terus melakukan upaya-upaya dalam rangka memastikan risiko solvabilitas dapat dimitigasi dengan sebaik-baiknya. Garuda Indonesia saat ini, tengah dan terus melakukan upaya renegosiasi dengan lessor pesawat.

“Perseroan saat ini telah dan terus melakukan upaya-upaya dalam rangka memastikan risiko solvabilitas dapat dimitigasi dengan sebaik-baiknya, yang antara lain dilakukan melalui negosiasi dengan lessor pesawat,” demikian jawaban manajemen.

Kemudian, manajemen juga melakukan restrukturisasi utang usaha, termasuk terhadap Badan Usaha Milik Negara serta mitra usaha lainnya. Ketiga, negosiasi langkah restrukturisasi pinjaman perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

“Adapun seluruh upaya yang dilakukan oleh Perseroan pada prinsipnya dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kondisi kinerja dan likuiditas Perseroan yang terdampak signifikan imbas situasi pandemi Covid-19,” tandas manajemen.