Ilustrasi (Dok/Ist)

Suara Penonton Sepakbola Adalah Suara Rakyat

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Belum lama berselang, saya pernah berdiskusi soal politik dan sepakbola dengan salah seorang politikus sekaligus mantan pengurus sepakbola di Tanah Air. Sebagai narasumber yang enggan disebut nama dan hanya diskusi tanpa kepentingan berita, dia berani mengutarakan banyak hal tentang intrik politik jelang pemilu dan sepakbola Indonesia.

Kendati tanpa menyebutkan siapa dan bagaimana situasi serta polemik di kancah politik dan sepakbola tadi, narasumber ini berceloteh panjang tanpa henti, namun komprehensif dan memberi solusi. Sayang, dirinya enggan membeberkan ide dan pandangannya pada forum terbuka, baik ke media massa maupun dalam pertemuan dengan para pemangku kepentingan sepakbola Indonesia.

Satu hal yang menarik dia katakan, “Suara penonton sepakbola itu adalah suara rakyat.” Menurutnya, sepakbola adalah olahraga rakyat. Siapapun yang mampu menguasai mereka dari sisi politik pada pemilihan kepala daerah maupun presiden sekalipun, dipastikan menjadi “juara”. Dalam suara rakyat itu ada harapan, doa dan air mata untuk yang terpilih. Sama halnya terjadi di olahraga sepakbola. Penonton adalah nyawa dari pertandingan, kekuatan utama roda kompetisi dan manifestasi dari kegembiraan, solidaritas serta sukacita besar demi tim kesayangannya.

Ada banyak hal yang begitu kuat mengikat pada diri setiap individu penggila tim sepakbola. Tak gentar dengan tekanan aparat, cacian tim lawan dan provokasi pihak lain. Mereka sudah menyatu dan “siap adu nyawa” untuk membela tim junjungannya. Namun malam itu, di pertandingan sepakbola Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022), suara mereka yang gegap gempita berbalik menjadi teriakan kepanikan dan ratapan tangis menahan sakit serta kepedihan hingga merenggang nyawa.

Seperti dikutip dari Antara, tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, bermula saat ribuan pendukung Arema FC masuk ke area lapangan setelah klub kebanggaan mereka kalah dari Persebaya. Di saat yang bersamaan, para pemain dan ofisial Persebaya meninggalkan Stadion Kanjuruhan dengan menggunakan empat mobil barakuda.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nico Afinta dalam keterangan pers, Minggu (2/10/2022), mengatakan pendukung Arema FC merasa kecewa sehingga beberapa suporter turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial. Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.

Menurut Nico, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial. Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar, kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen,” ujar Nico.

Sungguh sebuah tragedi yang sulit dilupakan dengan jumlah korban yang meninggal dunia menyentuh angka lebih dari 200 orang. Sorak-sorai dan kegembiraan penonton sepakbola tersedak di leher dan di dalam tubuh yang terinjak-injak penonton lain yang panik dan mencoba cari selamat menyusul tindakan represif dari aparat keamanan. Saat bukan lagi mencari siapa yang salah dan benar. Berikan solusi dari apa yang sudah terjadi tanpa saling tuding, bahkan untuk sekedar mencari kambing hitam.

Perintah Presiden

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menginvestigasi dan mengusut tuntas kericuhan di Malang. “Khusus kepada Kapolri, saya minta investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” kata Jokowi dikutip Antara. Jokowi juga memerintahkan Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali dan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Mochamad Iriawan untuk mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan pertandingan sepak bola serta prosedur pengamanan pertandingan tersebut.

Lebih jauh Jokowi menegaskan, untuk kelancaran evaluasi dan investigasi dari kepolisian agar laga kompetisi Liga 1 dihentikan sementara. Hal ini terkait dengan penyelesaian evaluasi pertandingan dan dilakukan perbaikan  terhadap prosedur pengamanan. “Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini dan saya berharap ini adalah tragedi terakhir sepak bola di Tanah Air. Jangan sampai ada lagi tragedi kemanusiaan seperti ini di masa yang akan datang,” kata Jokowi.

Semoga dengan hadirnya pemerintah ke dalam persoalan ini akan muncul suatu cara berkompetisi yang baik, fair play dan tentunya mengedepankan keselamatan para penonton. Sebab sepakbola adalah salah satu olahraga pemersatu bangsa. Sedangkan suara riuh rendah dan pekikkan semangat dari penonton adalah suara rakyat. Fanatisme dan vandalisme harus dihindari sedangkan sportivitas dan persahabatan harus dipupuk agar tumbuh bersama menghiasi kompetisi sepakbola di negeri ini. Satu hal yang harus diingat, kerusakan yang fatal bukan dari faktor eksternal, tapi justru dari dalam para pemangku kepentingan sepakbola, termasuk penonton.