Editorial : Menakar Hubungan Cikeas-Jokowi

Independensi.com – Orang bijak mengemukakan, “ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi-gigi anak-anaknya tidak menjadi ngilu”, demikianlah kira-kira bisa dimaknai kunjungan Agus Harimurti Yudhoyono putra Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhyono (SBY) ke Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka kemarin.

Dalam kondisi apapun kebesaran jiwa seorang negarawan sangat dibutuhkan dalam menanggapi dan mengatasi setiap permasalahan kebangsaan yang kesemuanya untuk kepentingan bersama dengan mengalahkan kepentingan pribadi. Dengan mengutip kata orang bijak di atas, bukan kita mengatakan bahwa kondisi itu telah mewarnai hubungan Jokowi-SBY.

Kunjungan Agus Harimurti itu menyusul menghangatnya situasi politik setelah pernyataan SBY dan Prabowo Subianto, seusai kedua Ketua Umum Partai Demokrat dan Partai Gerindra beserta jajarannya masing-masing bertemu di kediaman SBY.

Agus Harimurti berkunjung ke Jokowi siang hari dan malamnya meresmikan The Yudhoyono Institute di The Jakarta Theater. Menurut kompas.com, Agus Harimurti mengundang Jokowi menghadiri acara peresmian itu sekaligus menyerahkan surat untuk meminta doa restu untuk peresmian The Yudhoyono Institute tersebut.

Sebagai putra mantan Presiden serta calon Gubernur DKI, apapun yang dilakukan Agus Harimurti akan menjadi perhatian masyarakat, apalagi berkunjung ke Presiden Joko Widodo, pasti akan menjadi konsumsi media. Walaupun dalam pemberitaan dan foto seolah yang menyambut dan menjamu Agus putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka dan duduk berdampingan sebagaimana dipertontonkan media elektronik.

Pokoknya sebagai tokoh generasi muda apalagi putra-putra mantan Presiden dan Presiden, pertemuan keduanya serta segala turutannya menjadi menarik perhatian tidak sebagai hiburan tetapi menjadi analisa tentang nuansa politiknya.

Ibarat ikan, segala sesuatunya, katanya, dimulai dari kepala, demikian juga pernyataan para ketua umum partai sering menjadi panduan bagi jajarannya, sehingga masyarakat dapat merasakan hangatnya situasi politik seusai pertemuan SBY dan Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Semoga kunjungan Agus Harimurti ini benar-benar menormalkan suhu politik.

Dengan cermat kompas.com di bagian lain juga mengutip keterangan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan dengan menampilkan foto Hinca Panjaitan dengan jaket partai sambil bertopang dagu (seolah merenung) memberikan keterangan bahwa menurut dia, “selama ini ada penilaian publik yang keliru mengenai hubungan antara Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dan Presiden Joko Widodo.

Hubungan SBY dan Jokowi sangat baik. Hal itu terlihat dari hangatnya pertemuan anak sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono dengan Jokowi, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/8) siang. “Jadi enggak ada masalah komunikasi politik antara keluarga Cikeas dan Pak Jokowi.” Hinca memberikan keterangan seusai peresmian The Yudhoyono Institute di Jakarta, Kamis malam.

Karena menurut Hinca lagi, Agus Harimurti merasa disambut dengan sangat baik saat bertemu Jokowi di Istana. Langkah tokoh tokoh politik selalu dapat ditafsirkan bermakna ganda seperti itu,  mudah-mudahan itu tidak terjadi lagi setelah kunjungan Agus Harimurti  ke Jokowi.

Rakyat akan menunggu, apakah benar komunikasi politik antara Demokrat dengan Istana tidak ada masalah. Itu akan terlihat dari sikap Partai Demokrat terhadap UU Pemilu dan Perpu tentang Keormasan.

Apakah kunjungan Agus Harimurti itu hanya karena mau mengundang Jokowi untuk menghadiri acara peresmian The Yudhoyono Institute atau juga karena Agus Harimurti merasa “giginya ngilu” dengan keadaan politik atas pertemuan ayahnya dengan Prabowo? Tidak ada yang perlu dijawab.

Harapan kita bagaimana semua tokoh bangsa ini terutama SBY yang tahu pahit getir serta pahit manisnya mengurus bangsa ini dengan 250 juta rakyatnya, dapat meredakan serta turut serta mendinginkan suasana.

Sehingga keterangan Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan di atas tidak hanya basa-basi dan semoga Hinca dalam memberikan keterangan itu tidak dalam keadaan “gigi ngilu” karena Ketumnya makan buah mentah.

Kita berharap agar pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan ini baik formal maupun tidak, di pemerintahan maupun di masyarakat, hendaknya dapat saling mengasihi, saling mengasah dan saling mengasuh untuk mewujudkan masyarakat adil makmur dan sentosa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dengan sikap hormat menghormati dan berlomba-lomba melakukan kebajikan dari semua tokoh bangsa sesuai dengan keyakinan dan kemampuan masing-masing sehingga kita akan dapat meraih keberhasilan serta mengatasi ketertinggalan di bidang kesejahteraan, ekonomi dan ilmu pengetahuan dan teknologi setara dengan bangsa-bangsa lain. (Bch)